Amilan Hatta, Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia bidang Hubungan Antar Lembaga (dokpri)
GENIAL.ID - Berbicara tentang sejarah kemerdekaan Indonesia, tentunya tidak dapat dilepaskan dari perjuangan kaum perempuan. Salah satu dari banyak perempuan yang berkontribusi dalam revolusi kemerdekaan Indonesia adalah Fatmawati Soekarno. Hari ini tepat pada 5 Februari 1923, sekitar 98 tahun yang lalu lahir seorang Fatmawati, Ibu Negara pertama Republik Indonesia. 

Fatmawati merupakan anak perempuan dari pasangan asal Bengkulu, Hasan Din dan Chadijah. Ia dikenal sebagai istri Soekarno, proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia. 

“Ibu Fatmawati adalah sosok di balik bendera merah putih pertama yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Fatmawati sebenarnya telah menyiapkan Sang Saka Merah Putih sejak 1944,” ungkap Amilan Hatta Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia bidang Hubungan Antar Lembaga. 

Menurut Amilan, sebenarnya kontribusi Fatmawati dalam perjuangan kemerdekaan tidak hanya sebatas menjahit dan menyiapkan bendera. Meski tidak bertempur di garis depan, Fatmawati memiliki kontribusi berupa ide dan dukungan yang besar kepada Soekarno. 

Pertemuan pertama Fatmawati dengan Soekarno terjadi pada Agustus 1938. Dimana Soekarno baru dipindahkan dari pengasingan di Flores ke Bengkulu. Soekarno kemudian berkesempatan untuk mengajar di sekolah Muhammadiyah, disinilah awal pertemuan keduanya, ketika lulus dari sekolah Muhammadiyah, Fatmawati ditawari oleh Soekarno untuk melanjutkan pendidikannya di Rooms Katolik Vakschool atau sekolah kejuruan di Bengkulu. Pada tahun 1943, keduanya resmi menikah, dari sinilah kontribusi Fatmawati dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Jepang dimulai.

“Menjadi istri dari presiden pertama jelas bukan hal yang mudah, dimana saat itu keadaan negara masih dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Sejak Jepang pada tahun 1942 menjajah Indonesia ada banyak peristiwa yang mengancam keselamatan Fatmawati.” Ungkap Amilan. 

Setelah kemerdekaan pada tahun 1945, sekutu dan Belanda juga kembali datang ke Indonesia yang kemudian membuat situasi menjadi tak terkendali. Fatmawati harus membiasakan diri menghadapi keadaan genting, belum lagi demi menghindari penangkapan pihak Belanda, Fatmawati tinggal berpindah-pindah. 

“Untuk menjaga keselamatannya, Fatmawati sering tinggal terpisah dari Soekarno, bahkan saat perang melawan penjajah, Fatmawati pernah ikut memasak makanan untuk pasukan gerilya. Jadi memang keberadaannya sangat penting, bukan hanya sekedar penjahit bendera kemerdekaan, tetapi juga menjadi partner Soekarno dalam bertindak dan membuat pergerakan dalam memerdekakan Indonesia,” tegas Amilan. 

Fatmawati pada tahun 1949 pernah memberikan gagasan tentang persatuan dengan persamaan hak. “Dimana ada rasa persamaan nasib dan persamaan cita-cita, di situlah tempat yang subur bagi rasa persatuan” (Fatmawati Soekarno, 1949). Menurutnya perempuan kerap dianggap sebagai objek penderita, pelengkap, pasangan hidup yang biasa disebut dengan analogi dapur, sumur dan kasur. Sehingga hal ini berdampak pada posisi perempuan yang kurang berpengaruh dalam berbagai bidang, bahkan hingga hari ini setelah 75 tahun Indonesia merdeka. 

Amilan juga mengungkapkan bahwa Fatmawati adalah sosok yang memiliki pendirian yang sangat teguh terutama soal agama. Fatmawati lahir dari seorang ayah yang memiliki peran strategis di Muhammadiyah, ibu Fatmawati, Siti Chadijah juga aktif di dalam Aisyiyah (organisasi perempuan) Muhammadiyah . Saat menginjak remaja Fatmawati juga mengikuti jejak ibunya dalam membangkitkan Nasyiatul Aisyiah di Bengkulu yang kemudian membentuk karakternya untuk berjiwa nasionalisme, Soekarno juga turut berperan dalam mentransformasi nilai-nilai ideologi kebangsaan  semasa Fatmawati mendampingi hidupnya. 

Refleksi 98 tahun kelahiran Fatmawati jika dilihat pada hari ini, khususnya pada peran perempuan di politik, sudah mulai memiliki harapan, Indonesia sudah memiliki Presiden perempuan yaitu Megawati Soekarnoputri, bahkan untuk pertama kalinya perempuan telah menjabat Ketua DPR RI, yaitu Puan Maharani cucu dari Fatmawati. 

“Nilai-nilai peran perempuan dalam mengambil jabatan strategis di negara ini harus bisa diperluas, kuota 30% perempuan di parlemen sudah dilaksanakan namun belum mampu dipenuhi, ini adalah langkah yang harus diperjuangkan oleh perempuan agar nantinya produk hukum yang dikeluarkan dari DPR dapat lebih berpihak kepada perempuan, misalnya saja RUU PKS yang kembali menjadi prioritas di tahun 2021, kiranya setelah ini ada lebih banyak lagi undang-undang yang memihak kepada kaum perempuan,” pungkas Amilan mengakhiri pembicaraan. (Mil)

You may also like