Ilustrasi/Net
GENIAL. Saat ini kita sedang menjalani ibadah puasa ramadhan yang diwajibkan bagi orang-orang yang beriman. Seluruh ummat Islam bersukacita menjalani ibadah puasa walau hampir seluruh dunia juga sedang menghadapi wabah covid-19.

Menurut Sayyidi Syekh Abdul Qodir Jailani, dalam kitab Sirrul Asrar mengatakan bahwa menjalani ibadah puasa bisa dikategorikan dalam 2 jenis.

Pertama, berpuasa menurut standart fiqih (shaum syar'iyah).

Puasa syari'at adalah :
ان يمسك عن المأكولات والمشروبات وعن وقع النساء في النهار

Menahan diri dari makan dan minum dan bersetubuh di siang hari.

Selama kita bisa menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh dari waktu imsak sampai masuknya waktu berbuka puasa, maka secara hukum fiqih, puasa yang kita jalani sah dan telah memenuhi kewajiban kita berpuasa pada bulan ramadhan. Puasa fiqih atau shaum syar'iyah ini adalah sebagaimana yang mayoritas ummat Islam laksanakan selama bulan Ramadhan.

Kedua, puasa Thoriqoh atau dari sudut pandang tasawwuf. Syech Abdul Qodir Jailani menjelaskan bahwa puasa secara tasawuf, tidak hanya menahan makan, minum dan bersetubuh saja, tetapi menjaga diri dari perbuatan tercela.  Pada kitab Sirrul Asrar beliau mengatakan bahwa Shaum Thoriqoh adalah

ان يمسك عن جميع المحرمات و المناهي مثل العجوب و الكبر والبخل و غير ذالك ظاهرا و بطنا فكلها يبطل صوم طريقة

Menjauhi sifat tercela seperti ujub sombong kikir dan selainnya secara lahir dan batin, jika melakukan salah satu dari ketiga perbuatan tersebut maka puasa tharekatnya batal.

Pada jenis puasa thoriqoh, Syekh Abdul Qodir Jailani menjelaskan bahwa yang membatal puasa bukan lagi pada makan, minum dan bersetubuh, tetapi faktor yang membatalkan puasa lebih luas dan beragam.

Di dalam puasa syari'at meskipun kita melakukan hal-hal yang tercela seperti  ujub, sombong dan kikir, bergunjing, mencela,  puasa kita tetap sah. Perbuatan tercela tersebut tetap di catat sebagai dosa. Namun tidak membatalkan puasanya secara fiqih.

Berpuasa dengan tetap melakukan perbuatan tercela yang mendatangkan dosa, seringkali kita lakukan. Misalnya saja, saat ini, walau kita sedang menjalankan ibadah puasa, betapa sering kita melakukan ghibah, fitnah, mencela, pamer kesombongan, baik dalam pergaulan sosial maupun melalui media sosial. Betapa banyak ruang-ruang pergaulan sosial kita bertebaran fitnah, caci maki, beradu sombong, mencela baik terhadap teman, maupun pemimpin kita. Kita hanyut dengan kebenaran sendiri, merasa paling bisa, paling tahu dan orang lain pasti salah.

Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah SAW dalam hadistnya beliau bersabda :

رب الصائم ليس له من صيامه إلاالجوع

Berapa banyak orang yg berpuasa tidak mendapatkan apa-apa (pahala puasa) kecuali hanya rasa lapar saja.

Maka dari itu syech Abdul Qodir Jaelani menyebutkan bahwa puasa secara tarikat memasukkan perbuatan tercela sebagai hal yg membatalkan puasa. Pada jenis puasa thoriqoh ini, yang membatalkan puasa bukan hanya makan, minum dan bersetubuh saja, tetapi melakukan perbuatan tercela bukan saja berdosa tetapi juga membatalkan puasa kita.

Fungsi dari puasa tarekat ini adalah upaya meningkatkan dan sebagai penyaring untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam puasa syariat. Artinya apabila kita berhasil menggambungkan kedua puasa ini, Insya Allah kita di golongkan sebagai orang-orang yang berhasil meraih ketaqwaan.

Sudah saatnya kita berhenti melakukan perbuatan tercela, agar puasa kita memiliki nilai ketaqwaan dihadapan Allah SWT. Selama Ramadhan mari kita berlatih puasa tarekat ini sebagai laku puasa sepanjang hidup kita, sehingga bisa membersihkan kotoran hati dan jiwa kita. [***]

Mahmuddin Muslim

Pengurus Majelis Nasional KAHMI

You may also like