Istimewa
Genial - Pagi yang cerah di hari Sabtu (26/10). Melaju ke Komplek Perumahan Pondok Indah Jakarta Selatan. Bukan untuk refreshing ke Mall Pondok Indah. Bukan untuk bertemu dengan para selebritis papan atas yang konon banyak bermukim di Pondok Indah. Bukan pula untuk berbicara soal bisnis dan ekonomi. Akan tetapi, saya ke Pondok Indah untuk mengisi pengajian yang diadakan Ibu Mien Rudjito bersama keluarga besar kakeknya: Keluarga besar Bapak Mukhtar.

Dalam undangan tertera pengajian dimulai pukul 11.00 dan saya sampai pukul 10.45, 15 menit lebih awal. Rumah yang berpagar coklat muda setinggi kurang lebih 3 meter, saya ketuk, lalu disambut bapak satpam. Setelah masuk, saya disambut Mba Ani, putri Ibu Mien Rudjito. Sontak saya terpana dengan bangunan depan rumah yang terbuat dalam bentuk seluruhnya kayu jati berumur tua dan unik. Semacam rumah Joglo. Di dalam ruangan terdapat 4 tiang kayu jati glondongan berukuran sekitar 50 cm persegi, bukan kerjaan mesin, tidak terlalu halus. 

Saya reflek, "bagus sekali ini mba Ani, sepertinya jati tua?" 

Mba Ani menjawab, "iya ini kayu jati yang berumur tua. Dibawa dari Klaten Jawa Tengah. Bapak kami suka sekali dengan kayu jati, rumah Jawa dulu. Karena kami berasal dari Klaten."

Setelah saya diajak masuk ke rumah. Salam sungkem dengan Ibu Mien Rudjito yang terlihat sudah sepuh. Ibu Mien bercerita kalau suaminya yang sudah almarhum, yaitu Bapak Rudjito, adalah mantan Direktur Utama BRI. Saya penasaran berapa luas rumahnya? Beliau menjawab, 800 meter. 

Berdatanganlah para keluarga. Suami-istri-anak-anak. Pukul 11.00 pengajian dimulai. Dimoderatori oleh Mas Pradhana Adimukti. Tema pengajian "Peran Laki-laki sebagai Suami dan Orangtua". 

Saya memulai dengan ayat yang menyatakan bahwa, "Kalian kaum perempuan adalah pakaian bagi kaum lelaki, dan kalian kaum lelaki adalah pakaian bagi kaum perempuan". Ayat ini jelas memposisikan lelaki sama dengan perempuan: sama-sama bagaikan pakaian bagi pasangannya. Kenapa pakaian? Sebab, 1. Pakaian berfungsi untuk menutup aurat. Artinya suami harus bisa menutupi kekurangan dan aib istri dan istri harus bisa menutupi kekurangan dan aib suami. Soal rumahtangga harus ditutupi, privasi, tidak dibeberkan ke publik.

2. Pakaian berfungsi untuk melindungi tubuh dari sengatan panas matahari dan dinginnya suhu udara serta angin. Suami dan istri harus sama-sama melindungi rumahtangganya dari gangguan yang datang dari luar, intervensi dan pihak ketiga. 

3. Pakaian adalah simbol kemuliyaan dan kehormatan serta perhiasan/keindahan. Seseorang dihormati orang lain lantaran berpakaian. Tidak percaya? Silahkan telanjang lalu jalan-jalan ke pasar. Orang lain menyangka orang gila atau minimal orang lain tidak menghormatinya. Suami-istri harus tampil baik di hadapan publik, agar terjaga kehormatannya.

Lalu, saya menjelaskan satu ayat "Perempuanmu adalah hartsun (tanah ladang) bagi kamu sekalian lelaki". Ayat ini menjelaskan bahwa perempuan/istri adalah tanah ladang dan lelaki/suami adalah benih. Ladang dan benih saling membutuhkan dan saling menentukan. Sebagus apapun dan seunggul apapun benih, jika ladangnya tandus dan jelek semisal ladang gambut, maka tidak bisa menghasilkan tanaman yang dapat dipanen secara maksimal. Sebaliknya pun sebaik apapun ladangnya, jika benihnya buruk atau gabug, maka tidak bisa menghasilkan tanaman yang baik. Sehingga ladang dan benih adalah dua unsur yang sama-sama penting, saling menentukan. 

Relasi suami dan istri terkadang terjadi ketimpangan relasi, lantaran suami merasa punya otoritas segalanya di atas istri, sebab suami menganggap dirinya bekerja mencari uang sedangkan istri mengurus persoalan rumah tangga dan anak. Istri dianggap tidak bekerja yang dapat menghasilkan uang. Cara pandang ini harus dirubah. Karena, sejatinya istri pun bekerja, yaitu mengurus rumahtangga, menjaga dan mendidik anak. Jika anak masih bayi, istri menyusuinya. Setiap saat harus terjaga manakala bayi bangun minta susu. Al-ummu madrasatul al-ula (ibu adalah sekolah yang paling utama) bagi anak-anaknya.

Nabi Muhammad sendiri menjahit sandal yang robek dan menyuci serta merapikan baju sendiri. Beliau membantu pekerjaan rumahtangga. Beliau pun tidak pernah sekalipun memukul dan melakukan KDRT terhadap istri-istrinya.

Penulis: Mukti Ali Qusyairi (Ketua LBM PWNU DKI Jakarta)

You may also like