GWF Hegel/Net
GENIAL. Siapakah Hegel itu?

Nama lengkapnya adalah Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Ia bisa disebut Hegel saja. Ia lahir pada 27 Agustus 1770 di Stuttgart. Orang tuanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Selain betul-betul menggumuli filsafat, Hegel juga tertarik kepada kajian teologi. Di usianya yang ke-18, ia belajar teologi di Universitas Tubingen. Pada usia 20 tahun, ia berhasil menyelesaikan studi filsafatnya. Ia juga menyelesaikan studi teologinya tiga tahun kemudian.

Setelah menyelesaikan studinya di Tubingen, Hegel bekerja sebagai guru privat pada sebuah keluarga bangsawan di Bern, Swis. Setelah itu, ia pergi ke Frankfurt. Di sinilah, dalam rantang waktu antara 1793 sampai 1800, ia menulis karya-karya awal di bidang teologi. Tentu, teologi di sini bukan dalam pengertian biasa, tapi teologi falsafi.

Kemudian, pada 1801, Hegel memulai karirnya sebagai dosen di Universitas Jena. Di kampus itu, ia bertemu dengan seniornya, Schelling. Keduanya saling bekerja sama menerbitkan jurnal filsafat. Selain menulis beberapa karya filsafat awal, pada periode ini pula, ia menerbitkan buku Fenomenologi Roh (the Phenomenology of Spirit).

Selanjutnya, Hegel diangkat menjadi rektor di sebuah Gymnasium di Nuremberg. Pada masa ini, ia menerbitkan Ilmu Logika (the Science of Logic). Ini adalah sebuah buku yang berisi ulasan tentang metafisika. Di buku ini, ia membahas tema-tema seputar wujud, esensi, dan konsep.

Kemudian, Hegel pindah ke Heidelberg dan menjadi dosen sekaligus mendapatkan reputasi yang sangat tinggi sebagai seorang faylasuf. Pada masa ini, ia menerbitkan Ensiklopedia Ilmu Filsafat dalam Ringkasan. Ini adalah saat di mana Hegel telah menjelma menjadi sosok raksasa dalam bidang filsafat.

Pada 1818, Hegel pindah ke Berlin. Selain mengajar, ia masih bisa menerbitkan buku lain yang tidak kalah pentingnya: Garis Besar Filsafat Hukum (the Philosophy of Rights). Ini sering dirujuk oleh para pemikir sesudah Hegel sebagai salah satu karya terbaik di bidang filsafat hukum atau filsafat politik pada zamannya.

Pada 1831, Hegel wafat. Lahu al-Fatihah.

Penjelasan tentang riwayat hidup dan karya-karya yang ditulisnya baru menjawab setengah dari pertanyaan siapakah Hegel itu? Setengah sisanya adalah penjelasan tentang konteks historis dan filosofis yang menjadi latar belakang karya-karya filsafat Hegel, khususnya buku the Phenomenology of Spirit. Dalam konteks ini, dalam buku Reason and Revolution, Herbert Marcuse menyebut Hegel sebagai seorang faylasuf Revolusi Perancis.

Hegel tidak sendirian disebut sebagai faylasuf Revolusi Perancis. Bersama dengan Kant, Fichte dan Schelling, Hegel dikenal sebagai barisan faylasuf Idealisme Jerman di mana aliran filsafat terakhir ini dipahami sebagai "teori Revolusi Perancis." Istilah ini tidak berarti bahwa Idealisme Jerman berbicara tentang seluk-beluk Revolusi Perancis, melainkan mereka mengembangkan filsafat yang merespon tantangan yang diberikan oleh revolusi tersebut.

Apa tantangan yang dimunculkan oleh Revolusi Perancis? Revolusi Perancis (1789–1799) menuntut agar negara dan masyarakat ditata kembali di atas landasan-landasan yang bersifat rasional. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa lembaga-lembaga sosial-politik kompatibel dengan prinsip kebebasan individu. Ini tercermin dalam semboyan "liberte, egalite, fraternite" yang terkenal itu.

Bagi Idealisme Jerman, Revolusi Perancis bukan hanya telah menghapuskan absolutisme sistem feodal, serta menggantinya dengan sistem ekonomi dan politik baru, tapi juga telah membebaskan individu; menjadikan manusia sebagai tuan bagi dirinya sendiri. Karenanya, keberadaan manusia di muka Bumi ini tidak lagi bergantung kepada otoritas eksternal, melainkan tergantung kepada akal pikirannya sendiri. Dengan kata lain, manusia menjadi subyek yang otonom.

Revolusi Perancis yang dipimpin oleh Napoleon memang telah memancangkan sistem ekonomi yang berpijak pada pertukaran dan ditopang oleh industrialisasi yang masif. Dengan keberadaan industri yang cukup luas itu, manusia memiliki segala hal yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Di Jerman sendiri, kelas menengah tidak sekuat kelas menengah di Perancis. Jika di Perancis telah terjadi revolusi bersekala besar, di Jerman tidak ada revolusi serupa. Kekuatan-kekuatan feodal masih bercokol cukup kuat. Dalam konteks ini, Idealisme Jerman adalah pendukung perubahan Jerman agar bisa mengikuti perubahan yang telah terjadi di Perancis.

Karena tidak didukung oleh kekuatan sosial yang mendorong ke arah kebebasan, para faylasuf Idealisme Jerman memulainya dengan melakukan "revolusi pemikiran" atau "revolusi filsafat" yang mendukung gagasan kebebasan dan masyarakat serta negara yang rasional. Dengan kata lain, di Perancis, rasionalitas telah terwujud dalam bentuk tatanan masyarakat yang bebas, sementara di Jerman hal itu baru sebatas angan-angan.

Pada titik ini, Idealisme Jerman adalah sebuah proyek filsafat yang sebetulnya hendak mengubah tatanan masyarakat agar sesuai dengan tuntunan oleh akal budi. Karenanya, dalam filsafat Idealisme Jerman, tema-tema seperti kebebasan, akal budi, roh, subyek, dan kesadaran menjadi pokok bahasan utamanya. Intinya, bukan kenyataan yang harus menentukan pikiran, tapi sebaliknya, pikiran yang harus menentukan kenyataan.

Apakah mungkin kenyataan bisa berubah mengikuti pikiran atau akal budi? Menurut Hegel, pikiran dan kenyataan bukan dua hal yang sepenuhnya asing. Sebab, baik pikiran maupun kenyataan (fisik atau sosial) adalah sama-sama manifestasi dari suatu Roh. Karenanya, perubahan kenyataan yang dituntun oleh pikiran adalah mungkin, bahkan sudah seharusnya.

Dalam kerangka pemikiran Hegel, Roh di sini adalah totalitas sekaligus pijakan dari segala yang ada. Apa yang ada ini tidak lain adalah emanasi atau pancaran dari Roh itu. Jika semua manifestasi dari Roh ini ditandai oleh berbagai batasan atau determinasi, Roh sendiri bersifat mutlak. Karenanya, Roh juga disebut sebagai Yang Absolut.

Dalam the Phenomenology of Spirit, Hegel berupaya menunjukkan bahwa perkembangan kesadaran manusia dan perkembangan lembaga-lembaga sosial, ekonomi dan politik, tidak lain adalah proses manifestasi dari Roh atau Yang Absolut dalam sejarah. Berbagai perkembangan itu ditandai oleh perkembangan rasionalitas, dari tahap yang paling kurang rasional menuju tahap yang paling rasional.

Mengapa perkembangan dalam berbagai manifestasi Roh itu ditandai oleh perkembangan rasionalitas?

Pertama, Roh pada dirinya sendiri adalah bebas dan rasional secara mutlak. Kemudian, dalam berbagai proses manifestasinya, Roh mengasingkan diri pada alam. Karenanya, alam juga disebut sebagai Roh yang tidur. Namun demikian, melalui proses-proses yang bersifat dialektis, Roh itu perlahan kembali sadar. Pada manusia, kesadaran itu berkembang menjadi kesadaran-diri, rasio dan roh. Hegel menyebut perkembangan terakhir ini sebagai momen Roh Subyektif.

Melalui hubungan dialektis antara manusia dalam alam, muncul juga perkembangan kebudayaan (lembaga sosial, ekonomi, politik, dll) yang berjalan secara bertahap. Perkembangan ini disebut sebagai momen dialektis dari Roh Obyektif. Dengan menunjuk pada perkembangan sejarah/kebudayaan, Hegel menekankan bahwa tatan sosial semakin lama semakin rasional.

Hegel juga menyebut momen dialektis ketiga yang dihasilkan dari hubungan antara Roh Subyektif dan Roh Obyektif. Momen terakhir ini disebut sebagai Roh Absolut. Pada momen ketiga ini, Roh Absolut juga mengalami perkembangan secara dialektis dari ketiga manifestasinya, yaitu: estetika, agama dan filsafat. Pada momen terakhir ini, Roh disebut Roh Absolut karena Roh telah kembali menyadari diri sepenuhnya.

Sebagai pengantar kepada corak filsafat Hegel, ulasan tentang roh, kesadaran, akal budi di sini tampaknya cukup dibuat singkat saja seperti ini. Sebab, ulasan yang lebih mendalam akan dilakukan ketika kita telah masuk ke dalam pembacaan buku the Phenomenology of Spirit secara rinci. Di sini, cukup disampaikan bahwa filsafat Hegel adalah semacam refleksi atau "advokasi" bagi perkembangan kesadaran dan sejarah menuju kepada kebebasan.

Karenanya, menurut hemat saya, Herbert Marcuse sudah tetap menyebut Hegel dan para faylasuf Idealisme Jerman lainnya sebagai para pemikir Revolusi Perancis. Hegel sendiri sepertinya pantas dijuluki sebagai "Napoleon dalam teori" sementara Napoleon Bonaparte bisa disebut sebagai "Hegel dalam tindakan." [***]

Iqbal Hasanuddin

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)

You may also like