Ilustrasi (Net)
GENIAL.ID - Pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini telah membuat kegiatan masyarakat menjadi sangat terbatas. Berbagai aktivitas harus dikerjakan di rumah masing-masing, mulai dari yang bekerja di kantoran hingga para pelajar.

Hal inilah  yang menyebabkan jangka waktu penggunaan media sosial mengalami peningkatan dari biasanya, khususnya di kalangan para remaja. Apalagi remaja zaman sekarang memiliki kemampuan yang lebih terhadap teknologi informasi. Akan tetapi tidak sedikit dari mereka yang paham bagaimana cara penggunaan sosial media yang baik.

Di berbagai media sosial seperti Instagram , Twitter , Tiktok dan lainnya hampir dipenuhi oleh kalangan remaja. Banyak dari mereka yang mempublikasikan ide-ide nya di media sosial tanpa memikirkan kembali apakah ide itu bernilai atau tidak, bermanfaat atau tidak, dan sebagainya. Justru hal pertama yang mereka pikirkan yaitu bisa menghibur diri mereka dan orang lain di masa pandemi ini. Terlebih karena kurangnya aktivitas yang bisa dikerjakan.

Tanpa sadar apa yang dipublikasikan ini sama sekali tidak membawa manfaat bagi diri mereka sendiri ataupun yang melihatnya. Hal ini yang menyebabkan perkembangan ilmu pengetahuan mereka menjadi terhambat.

Jika dilihat kembali, ada banyak hal yang lebih bermanfaat dari apa yang mereka publikasikan. Misalnya postingan yang bisa meningkatkan ilmu pengetahuan mereka di bidang agama, diskusi tentang agama, saling berbagi pengalaman, dan sebagainya. Sangat rugi orang yang mempunyai ilmu itu tapi dia enggan mengamalkannya kepada orang lain dan lebih memilih mengunggah sesuatu yang tidak ada manfaatnya.

Allah swt berfirman dalam QS An-Nisa ayat 66 yang artinya, “Dan sesungguhnya kalau mereka mengamalkan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan mereka“.

Dari ayat di atas tentu sudah kita ketahui bahwa menuntut ilmu dan mengamalkannya adalah perbuatan yang sangat baik. Perbuatan ini tidak hanya membawa keuntungan bagi diri mereka sendiri, tetapi juga orang lain.

Ada banyak manfaat yang didapatkan oleh orang yang senantiasa membagikan ilmunya antara lain sebagai jalan untuk menambah semangat dalam menuntut ilmu, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan mengamalkannya.

Tentunya tidak harus menjadi guru dulu jika ingin berbagi ilmu kepada orang lain. Siapapun memiliki kewajiban dalam membagikannya jika ia memiliki pemahaman mengenai ilmu tersebut.

Selain itu, tidak sedikit pula orang-orang yang berhasil memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk berbagi ilmu pengetahuan Islam. Namun kesalahan yang mereka miliki yaitu ilmu yang mereka bagikan bukan berdasarkan fakta . Bukan berdasarkan firman Allah ataupun Sabda Rasulullah. Hal ini disebabkan oleh kurangnya mencari informasi kepada orang yang lebih mengetahui ilmu tersebut.

Contohnya disalah satu akun Instagram yang pernah penulis jumpai, pada akun tersebut isi postingannya mengenai Islam, hijrah, dan sebagainya. Namun apa yang diposting itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dikarenakan pemilik akun ini masih minim dengan pengetahuan agama, dan juga segala informasi yang didapatnya segera dipublikasikan tanpa mencari tahu lebih lanjut apakah ilmu ini benar atau tidak. Hal ini yang menyebabkan timbulnya kesalahpahaman tentang pengetahuan Islam.

Perlu kita ketahui, media sosial tidak boleh dijadikan sebagai sumber dalam mengembangkan pengetahuan keIslaman. Kenapa? Tentu saja untuk menghindari hal-hal yang bisa mengakibatkan munculnya pemahaman baru yang berasal dari minimnya ilmu.

Dalam mempelajari Islam harus bersumber dari ahlinya. Dan penting juga untuk menyaring informasi tentang ilmu yang kita dapatkan apalagi tentang ilmu agama. Untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Ilmu keislaman, kita bisa mengikuti kajian-kajian yang bersumber dari ahlinya. Tentu saja di masa pandemi ini ada banyak sekali kajian online yang diselenggarakan. Sangat banyak peluang untuk bisa menjadikan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, namun itu semua kembali lagi kepada diri kita sendiri apakah ada keinginan untuk mempelajarinya atau tidak. [**]

Oleh: Fadhila Nur Hidayah
Penulis adalah  Mahasiswa jurusan PAI  di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)


You may also like