Ilustrasi (Net)
GENIAL.ID, Jakarta - Islam itu  tidak hanya aqidah, tapi juga akhlak & muamalah. Saat ini banyak yang tahunya cuma aqidah, akhirnya kosa katanya minim: “kafir dan sesat”.

Dulu di madrasah ada pelajaran “Aqidah-Akhlaq” ini karena para guru sadar bahwa belajar aqidah harus dibarengi dengan belajar akhlaq. Jangan dipisah. 

Soal muamalah (interaksi sosial) juga dipelajari dengan detil di madrasah/pesantren. Makanya santri dan Kiai bisa memilah persoalan.

Ada persoalan yang masuk bab muamalah, ada yang masuk bab akhlaq, dan ada yang bab aqidah. Kalau semua masuk bab aqidah, bisa berabe urusannya.

Berbuat baik pada tetangga itu bukan masuk bab aqidah, jadi mau tetangga kita muslim atau yahudi, kita tetap berbuat baik. Menjenguk dan mendoakan kolega yang sakit, itu bukan bab aqidah, sehingga mau muslim atau non-muslim yang sakit, tetap kita jalani.

Saat ini banyak sekali yang takut tergelincir aqidahnya hanya karena ber-muamalah dengan non Muslim. Ini orang yang tidak bisa memilah persoalan. Ada lagi yang semangat membahas aqidah tanpa berdasarkan akhlaq. Akhirnya ngomel dan curiga terus kepada mereka yang berbeda keyakinan.

Ada yang curiga dapat kiriman makanan dari tetangganya yang non-muslim. “Maksudnya apa nih? Kristenisasi?”.  Bukannya membalas dengan kirim makanan lagi.

Dalam benak mereka, semua non-muslim itu seolah anti Islam dan akan membawa mereka jadi murtad. Doktrin ini yang ditanamkan. Kacau deh.  Nah kuncinya mari saling belajar dan saling menghargai. NKRI mesti dibersihkan dari virus kebencian dan kecurigaan sesama anak bangsa. 

Untuk yang Muslim, mari belajar lagi bahwa Islam itu komplit: gak cuma soal aqidah, tapi belajar juga soal akhlaq dan muamalah (serta lainnya)

*Penulis : Nadirsyah Hosen
Wakil Ketua Pengasuh Pesantren Takhasus Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta.  Tulisan ini  sudah naik di situs personal Gus Nadir di https://nadirhosen.net. 


You may also like