Yogen Sogen
GENIAL.ID - Revolusi digital yang ditandai oleh banjirnya teknologi informasi melalui jaringan internet dan mobile technology memiliki konsekuensi langsung terhadap cara kita berpikir, bersikap, dan mempersepsikan sesuatu. Gambaran diri (self-image) ikut berubah dan kepercayan (trust) menjadi sebuah parameter baru. Slogan data adalah asset dianggap mampu memperkuat peradaban yang mampu mengubah gambaran tentang diri dan kepercayan antara berbagai entitas. Relasi antara manusia dan benda mengalami proses pertukaran kompetensi, menawarkan peluang baru, tujuan baru, dan fungsi yang baru.

Peluang baru revolusi digital di atas kemudian lahir secara berkelindan dengan kekhawatiran akan kesadaran baru generasi muda Indonesia. Merekalah generasi yang paling rentan terpapar pengaruh revolusi digital, baik langsung maupun tidak langsung. Sementara di sisi lain, mereka dihadapkan dengan tanggung jawab untuk membawa bangsa dan negara ini ke tataran yang lebih bermartabat.

Salah satu parameter kebangkitan kesadaran baru dan menumbuhkan rasa tanggung jawab adalah melalui pendidikan. Neil Postman dalam karyanya tentang The End of Education menyebut bahwa pendidikan (sekolah) bukan saja mengurus soal cara (teknis) tetapi juga hal yang bersifat metafisik (kesadaran). Pandangan Postman ini, kemudian menurut penulis diterjemahkan melalui “Merdeka Belajar” yang digadang memiliki akselerasi kemampuan untuk mencetak SDM unggul demi visi Indonesia 2045 sekaligus mengangkat derajat kualitas pendidikan dari ranking terendah versi  Programme for International Student Assessment (PISA).  (Kompas 12/06/2020).

Merdeka Belajar  Menuju Generasi Indonesia 2045     

Gairah progesif yang disematkan dalam program unggulan Kemendikbud  diharapkan memiliki konsekuensi langsung terhadap peningkatan daya saing bangsa, memperkuat jati diri dan martabat kebangsaan untuk berdiri tegak di antara bangsa-bangsa lain. Hal yang pasti tidak kita harapkan dari program ini adalah lunturnya rasa memiliki, rasa bangga, atau bahkan kenikmatan semu atas peradaban yang secara ‘emboded’ menghantar kita pada krisis  nilai-nilai  filosofi, ideologis,  dan  rasa rendah diri secara kultural.

Berbicara soal pendidikan yang memerdekakan generasi muda Indonesia, Bung Karno pernah berkata pemuda Indonesia perlu dilatih supaya menjadi  kuat. Berlatih  ialah belajar dan membiasakan  diri agar mampu (dapat) melakukan  sesuatu  (KBBI,  1988:502)  sesuai  dengan kemampuan/keahlian  yang  dimiliki  dan  dikembangkan. Di seberang jembatan,   jembatan emas,  inilah  ada  keleluasan menyusun masyarakat   Indonesia   yang merdeka   yang   gagah,   kuat, sehat,  kekal  dan  abadi.  Menyusun  dalam  arti luas  mengatur  secara  baik  (KBBI,  1988:875) kehidupan   masyarakat   Indonesia.

Kekhawatiran Neil Postman akan matinya pendidikan, harapan Bung Karno dan program merdeka belajar yang digagas Nadiem Makarim, bagi penulis menjadi semacam siklus antropologis yang sama-sama menginginkan adanya proses mendidik generasi bangsa dengan cita rasa, nilai dan filosofi merdeka yang humanum melalui semangat gotong royong. Sastrapatedja mengafirmasi melalui pendidikan nilai sebagai bagian integral dari pendidikan dan ‘built in’ dalam konsep pendidikan. Pendididikan sebagai “humanisasi”, yaitu untuk membantu manusia berkembang dalam dimensi intelektual, moral, psikologis, dan estetik.

Menjawab segala kekhawatiran dan harapan di atas,  Kemendikbud melakukan fokus pada peningkatan hasil belajar murid, dan tidak terlepas dari upaya peningkatan kompetensi guru, salah satunya melalui program Guru Penggerak. Berdasarkan data, tahun 2020, Kemendikbud merekrut 280 fasilitator dan 560 pendamping.

Peran fasilitator dan pendamping akan menjadi kunci dalam memastikan dampak baik dan keberlangsungan program Guru Penggerak. Fasilitator berperan dalam memandu proses pelatihan daring, mengumpulkan tugas-tugas peserta, memberi umpan balik dan motivasi, serta memfasilitasi refleksi belajar selama proses pelatihan calon Guru Penggerak.

Guru Penggerak Kesuksesan Merdeka Belajar

Guru sebagai pelaku perubahan budaya. Manusia pencari makna harus terus menjadikan dunianya dunia makna, semesta makna. Maka guru masa depan harus berperan sebagai “pengubah makna” (agent of cultural change) yang mampu mengembangkan nilai atau makna (value developer). Guru harus mampu membantu peserta didik membangun dunia maknanya yang baru. Oleh karena itu, guru perlu dibekali dengan pendidikan humaniora atau ilmu-ilmu kemanusiaan yang memadai untuk mendukung tugasnya membantu peserta didik memasuki kebudayaan yang terus berubah.

Esensi Merdeka Belajar adalah menggali potensi  terbesar guru-guru sekolah dan murid untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Mandiri bukan hanya mengikuti proses birokrasi pendidikan, namun benar-benar pendidikan inovatif. Berbagai tawaran instrumen pendekatan yang ada akan menghasilkan berbagai macam teknik dan inovasi setiap daerah, sekolah dan siswa.

Program guru penggerak bertujuan untuk menyiapkan pendidikan Indonesia masa depan, yang mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif  dalam mengembangkan guru di sekitarnya untuk mengimplementasikan pembelajaran berpusat pada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan.Guru diharapkan memperluas horizon pengalaman peserta didik, dan membangun kaitan pengalaman pengetahuan dan penerapannya. Pendidikan selalu terintegrasi dengan pengalaman sehingga guru juga harus dibiasakan untuk menggali pengalamannya.

Pendidikan tidak hanya dibatasi pada ruang kelas saja, laboratorium, atau layar komputer melainkan harus peka dan terlibat dengan pengalaman riil yang mengasah karakter dan mamahami kebutuhan masyarakat. Dengan cara ini maka hubungan praxis, episteme, dan techne, tidak lagi bersifat hirarkis dan berurutan, tetapi kait mengait membentuk irisan pengalaman. [**]

**Oleh: Yogen Sogen
Penulis merupakan Founder Jaringan Milenial Nusantara, PP PMKRI 2018-2020


You may also like