Ilustrasi/Net
GENIAL.ID. Pembunuhan kepada Profesor Mohsen  Fakhrizadeh, yang merupakan seorang pejabat resmi dan ilmuwan nuklir Republik Islam Iran, pada 27 November lalu merupakan tindakan terorisme yang melanggar berbagai peraturan, konvensi dan kesepakatan internasional yang diakui oleh dunia.

Demikian pernyataan resmi Duta Besar Republik Islam Iran di Jakarta, Mohammad Azad, yang disampaikan kepada Genial.Id, hari ini (Kamis, 3/12).

Azad mengutuk keras pembunuhan brutal dan tak manusiawi tersebut.  Menurut Azad,  pembunuhan ini dilakukan teroris untuk menghambat pendekatan diplomatik dan dialog dalam rangka menyelesaikan perbedaan di tingkat regional dan internasional. Pembunuan ini juga merampas hak sah dan wajar Republik Islam Iran atas penggunaan teknologi nuklir damai sebagaimana ditetapkan dalam peraturan internasional.

“Pembunuhan ini juga menciptakan krisis skala besar untuk semakin membuat kawasan Timur Tengah tidak stabil dan mempersulit penerapan perjanjian nuklir Iran,” jelas Azad.

Azad menjelaskan bahwa Mohsen Fakhrizadeh memiliki peran yang besar dalam berbagai proyek ilmu dan pengetuguan di Iran yang bertujuan damai. Contoh terbaru, kontribusi ilmiah Prof. Fakhrizadeh adalah pengembangan kit uji dan vaksin Covid-19 pertamadi Iran, yang merupakan kontribusi besar bagi upaya nasional dalam mengekang pandemi.

“Produksi vaksin ini pun di bawah di bawah tekanan sepihak dan sanksi ilegal idak adil Amerika Serikat, yang secara ketat mencegah dan menutup akses Iran terhadap barang-barang kemanusiaan termasuk obat-obatan dan peralatan medis,” jelas Azad.

Selama beberapa tahun terakhir, sambungnya, beberapa ilmuwan dan pahlawan nasional Iran telah menjadi sasaran pembunuhan dalam berbagai serangan teroris. Iran punya bukti kuat pusat-pusat tertentu asing berada di balik pembunuhan-pembunuhan tersebut.

Dan pembunuhan baru-baru ini terhadap ilmuwan nuklir senior Iran tersebut, lanjutnya, juga memiliki ciri dan cara yang sama dengan tindakan pengecut lainnya yang pada biasanya dilakukan oleh rezim reroris Israel, yang telah membunuh sejumlah besar elit ilmiah di Iran dan di seluruh kawasan.

“(Ini merupakan) sebuah konspirasi jahat yang telah dirancang oleh rezim zionis Israel yang merupakan satu-satunya pemilik senjata nuklir di kawasan untuk memicu kekacauan di wilayah Timur Tengah. Rezim ini sejak penandatanganan perjanjian nuklir (Joint Comprehensive Plan of Action-JCPOA) antara Iran dan negara-negara 5 + 1 (Lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman) pada tahun 2015, terus menerus mencoba untuk membujuk Washington agar meninggalkan JCPOA dan mengembalikan sanksi paling parah sepanjang sejarah dan ilegal terhadap masyarakat Iran,” demikian Azad.

Diketahui, pada 27 November lalu, syahid Mohsen Fakhrizadeh dibunuh di Absard, dekat ibu kota Teheran.

Pembunuhan ini dilakukan saat sang Syahid berkendara menggunakan mobil anti-peluru. Sayhid keluar karena mendengar bunyi seperti tembakan yang mengenai mobilnya. Di saat itulah, sebuah mobil Nissan yang sudah dipasang senapan otomatis melintasinya, lalu menembak dari jarak sekitar 137 meter.

Press TV, kanal televisi berbahasa Inggris, menyebutkan bahwa di lokasi kejadian ditemukan senjata dengan logo dan spesifikasi industri militer Israel. [pmu]

You may also like