Daniel Simatupang
Genial - Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pada bulan ini, semua umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa, di mana yang dalam bahasa Arab disebut al-shaum yang berarti menahan (imsak) atau dengan kata lain puasa merupakan suatu ibadah yang diperintahkan Allah kepada hamba-Nya dengan cara mengendalikan diri dari syahwat makan, minum, dan hubungan seksual serta semua prilaku yang merusak nilai puasa pada waktu siang hari sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ, فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ, وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ, فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ “

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Sesungguhnya menikah lebih bisa menundukan pandangan dan lebih mudah menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, sesungguhnya puasa itu adalah penekan syahwatnya.” (HR Imam Ahmad dan Imam Bukhari)

فإنّ الجوع والظمأ يكسران شهوات المعاصي “

“Sesungguhnya lapar dan haus dapat mengalahkan syahwat bermaksiat.” (Imam Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqâshid al-Shaum, hlm 15).

Pada Ramadan tahun ini semua tampak berbeda dari sebelumnya, cuti mudik yang dialihkan pada akhir tahun, pandemik virus Corona dan kita dituntut untuk berdiam diri di rumah guna menekan penyebaran virus. Sudah tidak bisa sahur On The Road, buka bersama bareng teman-teman kantor dan kampus demi kebaikan bersama. Belum lagi usaha para tenaga medis yang harus rela meninggalkan kebersamaan dengan keluarga untuk mengabdikan diri membantu proses penyembuhan korban covid-19.

Secara tidak sadar puasa juga berpengaruh positif pada perilaku yang terproyeksi dari perasaan individu, termasuk kepada ruh jika syarat dan rukunnya dipenuhi menurut tuntunan yang diajarkan. Sesuai dengan sebuah hadits di mana Rasulullah SAW bersabda, “Lima hal ini bisa membuat puasa seseorang tidak sah: berbohong, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat,”. Ini menandakan bahwa dengan berpuasa kita mampu menekan impuls-impuls negatif yang berusaha ke luar.

Ahli kesehatan jiwa dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, dari Rumah Sakit Jiwa dr H Marzoeki Mahdi Bogor, menjelaskan bahwa hal ini ada kaitannya dengan pengendalian diri saat menjalani puasa.

"Bila dikaji lebih dalam, inti dari puasa adalah pengendalian diri. Orang yang sehat jiwa-nya mampu menguasai dan mengendalikan diri terhadap dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya maupun datang dari luar," ungkapnya kepada detikcom.

Dengan berpuasa, seseorang sedang mencoba untuk melakukan psikoterapi alami, yang bahkan tanpa bantuan prefesional sekali pun mampu untuk dilaksanakan, jika dilakukan sesuai tuntunan syariat. Sehingga mampu meningkatkan pengendalian dan optimalisasi diri dengan baik, serta meningkatnya imunitas tubuh untuk melawan virus corona, karena otak dipaksa untuk berpikir positif. Berkurangnya faktor-faktor psikis yang mampu mengganggu kinerja fisik juga merupakan manfaat dari puasa, jadi puasa merupakan media yang tepat untuk terapi.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nicolayev, seorang guru besar yang bekerja pada lembaga psikiatri Mosow (the Moskow Psychiatric Institute), mencoba untuk menyembuhkan seseorang dengan gangguan kejiwaan menggunakan metode berpuasa selama 30 hari. Nicolayev mengadakan penelitian eksperimen dengan membagi subjek menjadi dua kelompok sama besar, baik usia maupun berat ringannya penyakit yang diderita.

Kelompok pertama diberi pengobatan dengan ramuan obat-obatan. Sedangkan kelompok kedua diperintahkan untuk berpuasa selama 30 hari. Dua kelompok itu dimonitor perkembangan fisik dan mentalnya dengan tes-tes psikologis. Ternyata diperoleh hasil pasien yang tidak bisa disembuhkan dengan terapi medis, bisa disembuhkan dengan puasa. Berdasarkan penelitian, berpuasa memberi pengaruh besar bagi penderita gangguan kejiwaan, juga penderita insomnia. Dari segi sosial, berpuasa memberikan sumbangan yang cukup besar. Melaksanakan ibadah puasa karena Allah memperoleh manfaat ganda yakni terhindar dari dosa, mendapat pahala dan keuntungan lainnya memperoleh ketenangan jiwa, mampu mengendalikan nafsu untuk memperoleh kepuasan yang tidak terhingga.

Puasa ini perlu dikaitkan dengan detoksifikasi jiwa karena mampu mengendalikan diri. Artinya, orang tersebut nantinya mampu menjalani aktivitas yang tetap produktif di tengah pandemi Covid-19.

Dilansir dari Merdeka.com dengan berpuasa seseorang juga mampu meningkatkan kedamaian diri, menekan rasa cemas dan depresi, merubah hal negatif dalam otak yang merangsang korteks prefrontal untuk menentukan kepribadian, ekspresi dan  fungsi kognitif, serta mengurangi rasa takut dan agresif.

Di bulan Ramadan ini, motivasi ekstrinsik begitu sangat kuat, sebagai contoh adalah saat dibukanya pintu surga. Dilansir dari NU Online, Imam Izzuddin memandang taftîh abwâb al-jannah (dibukanya pintu surga) sebagai simbol atau tanda untuk memperbanyak ketaatan (taktsîr al-thâ’ât), terutama yang diwajibkan. (Imam Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqâshid al-Shaum, Damaskus: Darul Fikr, 1992, hlm 12).

Logika sederhananya seperti ini, meskipun pintu surga telah dibuka lebar-lebar, apakah semua orang berhak melintasi tanpa memperbanyak ketaatan selama bulan Ramadhan dan bulan-bulan setelahnya? Artinya, dibukanya pintu surga merupakan dorongan untuk memperbanyak ibadah. Sehingga, semua orang bisa ber Fastabiqul Khairot dalam mendapatkan pahala.

Sebagaimana sudah dijelaskan di awal bahwa jika sesorang mengikuti tuntunan syariat dengan baik maka puasa memiliki banyak manfaat sekaligus, mulai dari fisik hingga mental. Belum lagi ditambah dengan semua amalan yang Rasulullah anjurkan ketika ramadan, maka pahala yang di dapat disa berkali lipat banyaknya, karena keutamaan bulan ramadan. [*]

*Daniel Simatupang

Penulis merupakan Pegiat Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama

You may also like