Istimewa
GENIAL.ID - Undang-undang Cipta Kerja yang telah ditanda tangani oleh Presiden yang otomatis masuk dalam lembaran negara. Otomatis UU tersebut telah menjadi norma hukum yang berlaku dan mengikat kita semua. 

Sayangnya, baru saja UU yang diberi nomor 11 ini di publikasi oleh pihak istana melalui website, ternyata masih mengandung kesalahan, terutama pasal 6 yang membingungkan sandarannya pada pasal 5. Tentu saja "keanehan" pasal ini langsung mendapat kritik dari publik. Apalagi Undang-undang ini sejak diketuk palu di Paripurna DPR RI telah mendapat gelombang protes dari pelbagai kalangan terutama serikat pekerja/buruh.

Kesalahan pada pasal 6 UU no 11/2020 ini dengan cepat diklarifkasi oleh Mensesneg bahwa itu hanya kesalahan teknis administrasi dan bisa diperbaiki.  Namun menurut hemat saya, kesalahan pengetikan pada beberapa pasal dalam Undang-Undang  Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja tidak bisa dianggap kesalahan teknis semata.

Kesalahan yang terjadi bisa menjadi indikasi bahwa pengelolaan, managemen dalam pembentukan hukum tidak menerapkan sikap ketelitian, hati-hati jika tak mau disebut ceroboh. 

Apalagi UU tersebut sudah ditanda tangani presiden, dan masuk dalam lembaran negara. Artinya sudah berlaku, jika ingin melakukan koreksi mesti melalui proses perubahan sesuai peraturan perundangan tentang pembentukan dan penyusunan perundang-undangan. Jika ini hanya dianggap sebagai sebuah kesalahan administrasi dan teknis ketik mengetik, pemerintah bisa terjerumus pada pelecehan prinsip negara hukum.

Mestinya Presiden Jokowi segera melakukan evaluasi pada tim kerjanya, baik pada level menteri, tim ahli, stafsus yang terlibat dalam proses penyusunan Undang-undang ini. Kesalahan-kesalahan pada pasal UU No. 11 ini tidak bisa dianggap sepele, karena apapun kesalahan itu, maka tanggungjawabnya ada pada diri Presiden. Tentu kejadian ini menjatuhkan kredibilitas Presiden. Dan jika hal ini dipolitisir maka bisa menjerumuskan pada Presiden pada labirin political game yang tak berujung. 

Energi bangsa ini akan kembali terkuras sia-sia di tengah bangsa ini membutuhkan fokus pada pembenahan ekonomi agar tak terpuruk pada jurang krisis akibat pandemi Covid-19. Belum lagi, penanganan virus corona itu sendiri yang sampai sekarang masih mewabah, dan pasien yang terus bertambah. Waalahualam [**]

*Oleh: Mahmuddin Muslim
Penulis merupakan alumni HMI


You may also like