Lucky Andriyani
Genial - Kongres ke-V Partai Amanat Nasional (PAN) akan dihelat tahun 2020. Sederet nama bakal calon telah mengorbitkan diri, mulai dari politisi senior hingga putra politisi senior sangat mungkin akan melenggang di kontestasi mendatang, bahkan petahana pun tak mau ketinggalan untuk ikut merebut posisi nomor wahid di partai berlambang matahari bersinar ini.

Sebagai partai politik (Parpol) yang cukup dewasa berdemokrasi, kongres kali ini tampaknya cukup dinamis. Hal itu terlihat dari beberapa bakal calon ketua umum sedang gencar melakukan konsolidasi (membangun komunikasi politik) lintas kekuatan, guna mendapatkan dukungan (suara). Berbagai spekulasi bermunculan, mulai dari perang opini telah mewarnai ruang diskusi dan jagat maya hingga pada tingkat propaganda.

Menariknya, menjelang kongres, setiap calon ketua umum harus sowan ke pendiri partai, Amien Rais. Sebab  “restu" atau dukungan dari dia merupakan kunci utama kemenangan sang kontestan. Namun tentu saja harus dengan pertimbangan moral yang cukup dan rasional, dan tidak sembarang orang yang di restui.

Sebagai partai yang berjargon Partai Reformis, sudah menjadi kewajiban setiap kontestan memantaskan diri sebelum mementaskan diri. Tak terkecuali, integritas, standar moralitas, kapasitas keilmuan (gagasan), dan loyalitas menjadi modal utama, bukan sekedar modal semangat apalagi telah terbukti gagal membawa perubahan bagi  partai. Jelas tertolak. Bila perlu di pangkas!

Di tengah kondisi politik penuh transaksional yang kian mengalami krisis gagasan ini, maka seyogyanya sosok yang akan menahkodai PAN harus mempelopori gerakan politik gagasan. Akibatnya populisme politik identitas selalu menjadi trend di perpolitikan nasional dari pemilu ke pemilu, sehingga PAN membutuhkan sosok yang punya inovasi dan gagasan yang jauh kedepan.

Baca Juga: Hanafi Rais Masuk Bursa Calon Ketum PAN

Rupanya tradisi dukungan dari  pendiri partai itulah yang ingin di nafikan oleh elit partai yang di muat oleh salah satu media massa beberapa hari yang lalu. Elit partai tersebut (disinyalir kuat merupakan orang kepercayaan calon petahana). Alih-alih ingin meraih dukungan agar kandidat yang dijagokannya terpilih kembali, namun justru menuai kontroversi. Tak jarang menuai kritikan tajam dan kecaman dari berbagai kalangan, mulai dari kader, simpatisan partai hingga warga persyarikatan Muhammadiyah sebagai konstituen terbesar di partai ini, yang mayoritas adalah loyalis ayahanda Amien Rais, tak terkecuali penulis sendiri. Alasannya? Karena dinilai membangkang dan tak beradab. Membangkang terhadap pendiri partai ibarat Azazil yang membangkang atas kehadiran Adam AS.

Tetapi pasca komentar tak beradab tersebut berselewiran, muncul berbagai klarifikasi dengan segala dalih, seolah tak terjadi apa-apa. Akibatanya komunikasi bersifat irreversible (tak dapat ditarik kembali), makanya membutuhkan kehati-hatian dan penuh kewaspadaan dalam berucap. Itu lah pentingnya adab berkomunikasi. Apalagi disaat situasi menjelang kongres yang kian memanas, sehingga diharapkan semua pihak agar menjaga suasana dalam keadaan kondussif. Dan pastikan memilih diksi dalam kalimat yang tepat dan tidak menyinggung siapapun. Saling sikut harus segera diakhiri.

Rasa-rasanya sikap elit partai tersebut cukup memacu adrenalin sekaligus menantang kami selaku kader persyarikatan Muhammadiyah yang berada di PAN. Meski demikian, namun ada hikmah di balik peristiwa tak terpuji itu. Hikmahnya, kami langsung merapatkan barisan (solidaritas), membangun konsolidasi agar kedepan tidak lagi mengangkat orang-orang di barisan para pembangkang. Karenanya mewakili aspirasi dan ijtihad politik warga persyarikatan Muhammadiyah, makanya calon ketua umum yang dipilih atas restu ayahanda Amien. Belum diketahui secara pasti, apa motivnya, tetapi intinya boleh jadi pernyataan tersebut merupakan upaya Character Assassination.

Utamakan Adab bukan ambisi 

Bermanuver boleh-boleh saja, dan berbeda pandangan dan pilihan politik itu wajar. Itu lah demokrasi kita. Namun di balik kebebasan, ada tapak batas yang tak boleh dilewati. Maka utamakanlah adab. Jangan karena berambisi ingin berkuasa terlalu lama, sehingga ingin mempraktikan cara politik yang "bar-bar" dan nier etika. Betapa pun besar hasrat dan keinginan untuk berkuasa, setidak-tidaknya tak boleh melewati tapak batas. Hormat terhadap pendiri partai adalah kewajiban bagi setiap kader. Sebagai saran, utamakanlah adab daripada kepentingan. Ini penting bagi siapapun sebagai kader.

Bukan bermaksud membangun tradisi pengkultusan. Namun tidak berlebihan jika kita sebagai kader harus menaruh rasa hormat terhadap beliau. Karena biar bagaimanapun tanpa pengorbanan dan jerit  payah beliau, partai ini tidak akan lahir, kita semua tidak akan seperti sekarang, menikmati kebebasan berdemokrasi. Tanpa beliau reformasi tidak akan lahir.

Sebagai partai yang lahir di era reformasi dan memiliki jargon politik Partai Reformis, PAN masih membutuhkan sosok ayahanda Amien Rais, sehingga tak ayal, hampir seluruh lapisan kader dan pengurus DPW dan DPD PAN se-Indonesia bahkan di tingkat grassroots masih menaruh harapan dan kepercayaan penuh terhadap ayahanda Amien Rais selaku pendiri sekaligus Ketua Dewan Kehormatan Partai.

Disinyalir kuat, beliau akan merestui kandidat yang loyal dan sejalan dengan pandangan politiknya, bukan menciptakan tradisi berkuasa terlalu lama. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari beberapa aspek berikut ini:

Pertama, PAN didirikan oleh ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode tahun 1995-2000. Adalah fakta dan peristiwa sejarah yang tak dapat di ingkari bahwa struktur dan infrastruktur partai pada saat itu hingga sekarang diisi oleh kader persyarikatan Muhammadiyah.

Kedua, karena didirikan oleh tokoh Muhammadiyah, PAN memiliki relasi politik yang erat dengan Muhammadiyah. Karenanya warga/kader persyarikatan  Muhammadiyah sebagai pemilih mayoritas, otomatis pengurus DPW dan DPD PAN (kader Muhammadiyah) akan solid satu suara sesuai arahan ayahanda Amien Rais. Sebagai catatan, mayoritas warga persyarikatan Muhammadiyah menaruh ketidakpercayaan terhadap ketua umum PAN 2015-2020. Oleh sebab itu, jangan sampai warga persyarikatan sebagai basis utama konstituen PAN akan bermigrasi ke partai lain jika ketua umumnya belum diganti.

Ketiga, sejak berdirinya tahun 1998 (dari kongres ke kongres) hingga sekarang, PAN memiliki tradisi ketua umum cukup satu periode. Hendaknya tradisi meregenerasi dan meremajakan kepemimpinan ini terus dirawat, bukan sebaliknya membangun tradisi mempertahankan status quo. Ditambah jejak digital ketua umum PAN 2015-2020, menjelang kongres 2015 lalu, sering menggembar-gemborkan mengenai masa jabatan ketua umum di PAN cukup satu periode saja. Jika petahana masih berambisi mencalonkan diri sebagai ketua umum berikutnya, berarti sama saja menjilat kembali ludah sendiri yang telah dibuang.

Keempat, suara PAN pada Pemilu 2019 ini tidak mengalami kenaikan signifikan, bahkan cenderung jalan di tempat (stabilitas). Perolehan suara yang stabil tersebut membuat PAN bahkan mengalami kehilangan kursi di DPR. Perolehan suara pada Pemilu 2014 9.481.621 (7,59%), sedangkan pada Pemilu 2019 memperoleh suara 9.572.623 (6,84%). Dari segi perolehan suara, PAN memang mengalami sedikit kenaikan namun kurang dari 10.000 (91.002), tapi dari segi persentase, PAN mengalami penurunan.

Hal itu di buktikan oleh kehilangan 4 kursi di DPR, dari sebelumnya 48 kursi menjadi 44 kursi. Suara tersebut merosot di satu provinsi (Jawa Tengah) yang hanya memperoleh 832.010, padahal pada Pemilu sebelumnya PAN memperoleh 8 kursi (1.208.202) di provinsi ini.

Harusnya jika perolehan suara partai cenderung jalan di tempat, berarti ada yang salah dengan manajemen kepemimpinan partai. Penulis meyakini bahwa Pemilu kali ini, PAN sedang diuji publik, maka harus hati-hati dan hendaknya evaluasi diri. Akibatnya publik menghukum PAN atas sikap para elite PAN yang di nilai tak punya sikap politik secara konsisten (tidak gentle).

Dewan kehormatan partai beserta kader menginginkan PAN sebagai partai oposisi, akan tetapi para elitenya terus bermanuver ingin bergabung di pemerintahan, padahal mayoritas kader akar rumput dan konstituen sangat kontras dengan pemerintah.

Berdasarkan beberapa variabel di atas, tampaknya sudah cukup menjadi alasan agar petahana beserta loyalisnya hendaknya memantaskan diri, sehingga ada pertimbangan moral baginya.  Itu lah yang disebut sebagai adab politik. Membangun budaya kepantasan diri. Bukan sebaliknya memaksakan kehendak padahal sudah terbukti gagal memimpin. Sebagai alasan utama calon petahana mengklaim hanya mengakomodir aspirasi kader. Tak tanggung-tanggung 28 DPW.

Jikalaupun mereka memberikan dukungan secara terbuka. Penulis yakin itu hanya dampak psikologis akibat di bawah tekanan (under pressure), bukan pure aspirasi kader, bahkan boleh jadi 28 DPW itu dimobilisasi didatangkan ke Jakarta, karena elit partai yang hadir saat itu merupakan loyalis calon petahana. Dalam teori negara, ini merupakan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Jika itu yang terjadi, betapa dalam bahaya partai ini, partai yang dikenal paling demokratis namun pimpinan partai mempraktikan warisan orde baru, sehingga harus diselamatkan.

Sebagai kader ideologis Muhammadiyah, kami akan Sami’na wa ’Atho’na terhadap arahan dan nasehat ayahanda Amien Rais. Sebab bagi kami, PAN masih sangat membutuhkan pandangan-pandangan bijak dari beliau, bahkan bangsa ini membutuhkan sosok sekaliber beliau sebagai role model, dan kandidat pilihan beliau adalah kader terbaik yang mampu membawa kebesaran partai dari segala aspek.

Penulis: Lucky Andriyani (Kader Ideologis Muhammadiyah dan Ketua DPD BM PAN Jakarta Pusat)

You may also like