Mikhail Gorbachev/Net
GENIAL. ID. Pada tanggal 15 Oktober, 30 tahun lalu, atau 1990, Pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, dianugerahi Nobel Perdamaian. Gorbachev dinilai berjasa dalam mengatasi dan mengakhiri Perang Dingin.

Istilah Perang Dingin disebutkan oleh  penulis dan jurnalis Inggris, George Orwell dalam The Observer edisi 10 Maret 1946. Inilah kondisi pasca Perang Dunia II atau setelah Sekutu mengalahkan Nazi Jerman. Saat itu hanya ada dua negara kuat, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kedua negara saling intip dengan memasang agen-agen intelijen dimana-mana. 

Kedua negara memang tidak secara terbuka saling serang secara militer meski sama sama berlomba dalam pembuatan senjata nuklir. Kedua negara berperang secara ideologi dalam memperebutkan pengaruh negara-negara lain. Aksi militer justeru terjadi di negara-negara satelit atau suatu negara yang secara resmi merdeka namun berada di bawah pengaruh dan kontrol politik negara lain.

Konflik militer misalnya terjadi di Korea, Vietnam, dan Afganistan. Negara-negara ini menjadi semacam ladang pertempuran antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Kembali ke Gorbachev. Ia tumbuh saat Uni Soviet dipimpin oleh Joseph Stalin. Karir Gorbachev di dalam Partai Komunis terus meningkat. Ia pun menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet kelima menggantikan Konstantin Chernenko yang wafat pada 11 Maret 1985. Pada tahun 1988 ia menjadi Presiden Uni Soviet.

Di tengah ketegangan Perang Dingin, Gorbachev mengeluarkan kebijakan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi). Sejak awal ia memang dikenal berbeda, baik pribadi maupun kebijakannya dengan pemimpin Uni Soviet sebelumnya.

Setahun setelah Gorbachev mendapat Nobel Perdamaian, negara Uni Soviet bubar pada tahun 1991. [pmu]

You may also like