Soekarno/Net
GENIAL. Banyak orang mengira bahwa Ajaran Bung Karno dimulai dari gagasan Sukarno tentang persatuan perjuangan diantara tiga ideologi besar pada awal abad 20 yaitu Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Pandangan seperti itu wajar saja, sebab literatur resmi pikiran-pikiran Sukarno bisa dikaji lewat sebuah buku berjudul Dibawah Bendera Revolusi (DBR) dan karya Sukarno yang menjadi pembuka dalam DBR I adalah artikel berjudul Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Namun apabila kita mengkaji lebih jauh lagi, pemikiran Sukarno bisa kita telisik melalui karya tulisannya sejak Sukarno aktif sebagai organisatoris Tri Koro Darmo Cabang Surabaya, organisasi pemuda Jong Java.

Pada usia 16 tahun, pemikiran Sukarno lebih condong kepada Internasionalisme-Sosialisme. Sukarno mendapat pengaruh Sosialisme dari A. Baars ketika duduk di bangku sekolah menengah menengah Hogere Burger School (HBS) Surabaya. Pada saat itu, Sukarno menolak konsep yang abstrak dari gagasan penyatuan Jawa Raya dan Sumatera Raya dalam satu bentuk federasi. Ia lebih menekankan akan pembebasan rakyat dari penderitaan mereka. Tendensi internasionalisme Sukarno mulai dikonfrontir dengan nasionalisme ketika Sukarno mendapat inspirasi dari perjuangan Bapak Nasionalis Tiongkok, Dr. Sun Yatsen di tahun 1918.

Ideologi politik yang dirancang oleh Dr. Sun Yatsen untuk membebaskan rakyat Tiongkok dari belenggu feodalisme dan penindasan kekaisaran Qing, yaitu Min Tsen (Kebangsaan atau Nasionalisme), Min Tsu (Kerakyatan atau Demokrasi ), dan Min Sheng (Kesejahteraan atau Sosialisme) atau yang dikenal San Min Chu I (Tiga Prinsip Rakyat). Sukarno sendiri pernah menyatakan bahwa Ia juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran Dr. Sun Yatsen, “Di dalam tahun 1912, Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tetapi weltanschauung-nya telah ada dalam tahun 1885, kalau saya tidak salah, dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku The Three People’s Principles, San Min Chu I – Mintsu, Minchuan, Min Sheng, Nasionalisme, Demokrasi, Sosialisme – telah digambarkan oleh doktor Sun Yat Sen weltanschauung itu, tetapi baru dalam tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas weltanschauung San Min Chu I itu, yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun.” Begitu juga ketika Sukarno mengajukan prinsip kesejateraan rakyat juga mengutip dari pemikiran dari Dr. Sun Yatsen.

Bandingkan dengan penuturan Asmara Hadi yang dikutip oleh Asrama Nanda Rizal dalam bukunya Marhaenisme dalam Alam Pikir Soekarno: Biografi Intelektual Asmara Hadi (Sastrawan dan Tokoh Politik Nasional 1928-1965), dimana pemikiran Sukarno tentang Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi diawali dengan perumusan tiga ideologi besar dunia yaitu Nasionalisme, Demokrasi dan Sosialisme. Sukarno menyatukan ketiganya menjadi Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi, yang nantinya dinamakan Marhaenisme. Ibarat sebuah rumah atau gedung, nasionalisme adalah pondasi dan atapnya. Demokrasi adalah pilarnya. Sedangkan Sosialisme adalah isi atau barang-barang serta sarana dan prasarana yang mengisi dalam ruang atau gedung tersebut. Tanpa pilar dan pondasi, rumah atau gedung tersebut akan runtuh. Pilar dan pondasi rumah atau gedung berdiri dengan kokoh, tetapi tanpa ada isi atau barang-barang dan sarana yang menunjang didalamnya akan terasa hampa.

Bernhard Dahm dalam bukunya berjudul Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan menceritakan pada saat perpecahan di dalam tubuh Sarekat Islam, Sukarno sudah berani melontarkan gagasan persatuan antara Sarekat Islam dan Partai Komunis Indonesia yang menurutnya mempunyai cita-cita yang sama yakni, “Kesejahteraan Rakyat”. Sampai pada saat mendekati tahun 1921, Sukarno mensintesakan aliran-aliran politik dalam wadah perjuangan politik Sarekat Islam. Bahkan Sukarno sudah pada satu sikap, “Apa gunanya kita punya pemerintah sendiri, jika ia masih dikuasai oleh penganut-penganut kapitalisme dan imperialisme”.

Tahun 1923, saya kira adalah tahun Sukarno meramu metode berpikirnya sendiri dalam bentuk teori perjuangan diberi istilah Trilogi yakni: Nationale Geest (Roh dan Semangat Nasional), Nationale Wil (Kemauan Nasional) dan Nationale Daad (Perbuatan Nasional). Trilogi sebagai teori perjuangan disempurnakan oleh Sukarno pada tahun 1960 menjadi Caturlogi yakni Semangat Nasional, Konsepsi Nasional, Kemauan Nasional, dan Perbuatan Nasional.

Dalam rumusan Trilogi Sukarno, semangat nasional adalah faktor terpenting di dalam menggerakan rakyat melawan kolonialisme dan imperialisme. Diperlukan faktor penggerak sebagai modal spiritual yang sudah menjadi keyakinan atau kepercayaan Rakyat Indonesia yang hidup dan berkembang di alam pra kapitalisme. Karakteristik masyarakat pra kapitalis biasanya mereka lebih mempercayai mitologi dalam bentuk ramalan dibandingkan dengan rasionalisme.

Cara berpikir rakyat pra-kapitalisme yang masih sepotong-sepotong dengan segala keyakinan dan logika mereka, Sukarno angkat dan dihubungkan dengan metode ilmiah. Kenyataan atau kebenaran yang hidup dalam masyarakat menjadi faktor terpenting bagi Sukarno di dalam membangkitkan semangat perlawanan Rakyat dalam satu barisan massa-aksi yang radikal dan revolusioner.

Strategi perjuangan ini berbeda dengan cara Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir maupun Tan Malaka yang lebih memilih rasionalisme Barat di dalam mengorganisir rakyat. Sukarno mengakui bahwa Hatta dari segi filsafat, pemikirannya lebih sistematis dan teratur. Tetapi untuk membakar semangat perlawanan diperlukan taktik perjuangan dengan bahasa atau cara yang sudah dikenal oleh mereka.

Sukarno dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams mengakui bahwa konstruksi pemikirannya tidak tersusun rapi dan sistematis sesuai dengan kaidah-kaidah filsafat Barat. Sukarno lebih memilih cara mentalitas Indonesia sebagai taktik di dalam menyampaikan segala gagasan dan pemikirannya. Sebab menurut Sukarno seperti yang dijelaskan pada saat Hari Kemerdekaaan RI Ke-8 , “Di negeri kita ini, dengan masyarakatnya dan rakyat jelatanya yang masih tulen berjiwa ketimuran, kekuasaan pemerintah bukan saja bersinar melalui zahir, tetapi juga saluran batin. Zahir melalui kekuatan-kekuatan jasmanilah yang riil, seperti tentara, polisi, pamong praja, justisi. Batin melalui keunggulan-keunggulan akhlak dan keluhuran-keluhuran budi pekerti.”

Mentalitas Indonesia yang dimaksudkan Sukarno, bisa kita baca dalam Pledoi Indonesia Menggugat. Sukarno menguraikan kepercayaan rakyat yang sudah diramalkan dalam Serat Joyoboyo. Keyakinan akan datangnya seorang Mesias sebagai juru selamat, diberi julukan sebagai Ratu Adil atau Heru Cokro, “Apakah sebabnya Rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya Ratu Adil…, Tak lain tak bukan ialah oleh karena hati Rakyat yang menangis itu tak berhenti-henti, tak habis menunggu, nunggu atau mengharap-harap datangnya pertolongan, sebagaimana orang yang berada di dalam kegelapan tak berhenti-berhenti pula saban jam, saban menit, saban sekon, menungu-nungu dan mengharap kapan, kapankah matahari terbit?”

Kemudian dalam melihat fakta-fakta kebenaran akan ketertindasan rakyat Indonesia oleh belenggu kolonialisme dan imperialisme, Sukarno tidak tenggelam ke dalam perenungan-perenungan teoritis dan berdiri di atas Menara gading. Ia ikut aktif di dalam kancah perjuangan melawan kolonialisme-imperialisme. Praktek perjuangan ini dalam Trilogi Sukarno disebut sebagai eksistensi perbuatan (Nationale Daad). “Di dalam membangunkan dan membangkitkan Rohnya Rakyat Indonesia inilah kewajiban semua nasionalis Indonesia, dari azas apa dan haluan apapun jua,” kata Sukarno dalam Majalah Suluh Indonesia.

Seluruh pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia, menurut Sukarno haruslah menjadi propagandis kepentingan Rakyat terjajah dengan membangunkan Roh dan Semangat Merdeka dalam hati-sanubari Rakyat Indonesia, agar supaya Roh dan Semangat Merdeka menjadi Roh dan Semangat Rakyat Indonesia, yakni Roh dan Semangat Nasional (nationale geest).

Pemimpin pergerakan bagi Sukarno adalah eksistensi yang mewujud dari perasan atau lahir dari penderitaan Rakyat. Pemimpin pergerakan hanya sebagai katalisator atau penyambung lidah Rakyat. “Kalau tidak untuk mengaktivir kepada perbuatan, buat apa orang menjadi pemimpin?”, demikian Sukarno mengejek para pemimpin pergerakan yang hanya pandai berteori tetapi tidak masuk ke dalam gelanggang praktek perjuangan nasional melawan kolonialisme-imperialisme.

Tugas pemimpin pergerakan, justru mendorong semangat perlawanan dalam bentuk perjuangan nasional di dalam merubah sistem politik dan ekonomi yang menghegemoninya sampai pada dasar-dasarnya. Pemutarbalikkan nilai daripada semua nilai yang dikatakan oleh Sukarno sebagai “Umwertung aller werten.” Sukarno menamakannya Revolusi. Dalam gerakan tingkat dunia di manapun menurut Sukarno, pertama-tama yang ada adalah emosi yang menjadi api semangat perjuangan, kemudian digerakkan melalui organisasi revolusioner yang menjadi obor bagi kehidupan rakyat dan membangun kesadaran kritis rakyat dengan jalan revolusi.

 Perbuatan Nasional (Praxis) dalam pandangan Sukarno ditujukan untuk emansipasi manusia seutuhnya. Manusia yang merdeka secara individu dan sebagai makhluk sosial dapat bergaul dengan sesama manusia dalam kesederajadan dan kebersamaan. Pemikiran Sukarno ini berangkat dari tuntutan hidup manusia yang paling substansial dan bersifat universal, yang diiistilahkan oleh Sukarno sebagai Tuntutan Budi Nurani Manusia (the Social Conscience of Man).

Sukarno mencermatinya dari perkembangan dan perubahan masyarakat, terutama sekali masyarakat dibawah hegemoni kolonialisme-imperialisme. Masyarakat terjajah menjadi titik berangkat di dalam mengkaji ontologis pemikiran Sukarno, yang mendeskripsikan tentang substansi dan historis dari eksistensi atau kehadirannya, asas pemikiran dan berbagai konsekuensi pemikiran Sukarno.

Kemerdekaan individu tidak boleh diartikan dengan individualisme yang menjadi semangat dan apinya dari paham Kapitalisme. Tidak mungkin rakyat Indonesia menerima paham individualisme yang secara historis telah menyengsarakan mereka, dan bertentangan dengan kulturnya sendiri. Bukan individu yang dimaksudkan oleh John Locke, David Hume, Adam Smith maupun Frederick Hayek. Individu yang dimaksudkan oleh Sukarno seperti pemahaman Marx, yakni “individu-individu yang hidup secara sosial,” atau Hegel, “Individu yang terkolektif sebagai sebuah bangsa.”

Melalui filsafatnya sendiri, Sukarno mengambil jarak dengan individualisme, dan meletakkan dasar filsafatnya pada kolektivisme. Kolektivismenya Sukarno adalah konsekuensi logis dari pemikiran Sukarno tentang Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Pancasila yang diperas menjadi ekasila, yakni gotong-royong tidak lain dari bentuk perlawanan Sukarno secara filosofi terhadap individualisme.

Sukarno mengartikan gotong-royong yang menurutnya berarti “Kerja Komunal”. Kerja-kerja yang dilakukan oleh individu-individu yang hidup secara sosial, atau dalam kasus Indonesia, individu-individu yang terkolektif sebagai sebuah bangsa. Kalau kita telusuri lagi, Sukarno sepertinya mengadopsi pemikiran Hegel yang beranggapan bahwa manusia akan bisa memahami kenyataan diri mereka melalui kerja. Melalui objek kerjanya atau produk dari hasil kerja mereka, manusia menemukan kebebasannya, dan mengenali esensi dirinya dalam objek kerja yang mereka produksi.

Sukarno mengkritisi sekaligus melengkapi ideologi Liberalisme Amerika Serikat yang menjunjung tinggi “Empat Kebebasan”, yakni kebebasan berbicara, bebas berkepercayaan, bebas dari kemiskinan dan bebas dari ketakutan. Sukarno menambahi satu kebebasan yang lahir dari tuntutan manusia yang terjajah yakni “Kebebasan untuk Merdeka.” Kemerdekaan menjadi batu pijakan di dalam memenuhi tuntutan budi nuraninya yang disinari dan dibimbing oleh filosofi, dasar penghidupan nasional, arah, raison d’etre sekaligus tujuan dari Tuntutan Budi Nurani Manusia yaitu terbebasnya masyarakat dunia dari penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lain maupun terhadap manusia lain. Emansipasi manusia dimulai dari kemerdekaan manusia sebagai makhluk individu dan sosial, sebab tanpa kemerdekaan segala filosofi, dasar dan tujuan, prinsip maupun ideologi menjadi utopis atau khayalan belaka.

Kemerdekaan disimbolkan oleh Sukarno dengan Proklamasi Kemerdekaan, sedangkan filosofinya disimbolkan dengan konstitusi Negara Republik Indonesia sebagai Deklarasi Kemerdekaan. Sehingga menurut Sukarno, Proklamasi Kemerdekaan tidak bisa dipisahkan dengan Konstitusi NRI yaitu Pembukaan UUD 1945. Amerika Serikat hanya mempunyai Deklarasi Kemerdekaan, tetapi Republik Indonesia mempunyai Proklamasi dan Deklarasi Kemerdekaan. Proklamasi dan Deklarasi Kemerdekaan adalah satu kesatuan hasil dari dialektika perjuangan bangsa Indonesia melawan antipodenya sendiri, yakni kolonialisme-imperialisme dan feodalisme bangsanya sendiri.

Proklamasi Kemerdekaan menurut Sukarno, “Bukan hanya mempunyai sisi negatif atau destruktif, dalam arti membinasakan segala kekuatan dan kekuasaan asing yang bertentangan dengan kedaulatan bangsa kita, menjebol sampai ke akar-akarnya segala penjajahan di bumi kita, menyapu-bersih segala kolonialisme dan imperialisme dari tanah air Indonesia, tidak, proklamasi kita itu, selain melahirkan kemerdekaan, juga melahirkan dan menghidupkan kembali kepribadiaan bangsa Indonesia dalam arti seluas-luasnya: Kepribadiaan politik, kepribadiaan ekonomi, kepribadiaan sosial, kepribadiaan kebudayaan, pendek kata kepribadiaan nasional.”

Kemerdekaan dan kepribadiaan nasional bagi Sukarno adalah laksana dua anak kembar yang melengket satu sama lain, yang tak dapat dipisahkan tanpa membawa bencana kepada masing-masing. Semangat dan esensi filosofi kemerdekaan melahirkan kesadaran yang dapat digunakan sebagai sumber ilham (intuisionisme), dan sumber  pikiran, tekad, serta tenaga (dialektis-dinamis), bahkan menjadi sumbangan positif dalam memperkembangkan konsepsi-konsepsi baru yakni konsepsi yang lahir dari hati nurani.

Kesadaran ini merupakan sumber utama daripada pelaksanaan konsepsi-konsepsi baru yang sedang tumbuh dan berkembang dalam romantika, dinamika dan dialektika perjuangan manusia yang sedang melepaskan diri mereka dari hegemoni kolonialisme dan imperialisme. Kesadaran ini melahirkan logikanya sendiri yang tidak terlepas dari historis dan kultur manusia yang sedang menulis sejarahnya sendiri yakni sejarah bangkitnya budi nurani yang oleh Mao Zedong diistilahkan sebagai sejarah meniupnya angin Timur.

Filosofi kemerdekaan melahirkan konsepsi hati nurani (teori) dan  sekaligus melaksanakan filosofi hidup manusia (praxis) yang lahir dari tuntutan budi nuraninya sendiri. Suatu filosofi yang merelasikan manusia dengan hatinya, dan dengan Tuhannya. Suatu filosofi yang merelasikan manusia yang dilihat secara individu dengan seluruh umat manusia yang dalam perspektif Marx adalah individu-individu yang hidup secara sosial.

Sukarno menyimpulkannya sebagai perikemanusiaan, perdamaian, persahabatan antarbangsa, keadilan antar bangsa, bebas dari penghisapan dan penindasan antarbangsa dan antarmanusia. Inilah refleksi mutlak dari kepribadiaan Indonesia yang hidup kembali sejak Proklamasi 17 Agustus 1945.

Menyambung dari teori Sukarno tentang Trilogi bahwa Perbuatan Nasional merupakan akibat dari kemauan. Kemauan atau kehendak sebagai motor penggerak dalam melakukan perbuatan. “Tiada perbuatan tanpa kemauan,” kata Sukarno. Kemauan ini harus terlebih dahulu dibangkitkan dan diaktifkan sebelum perbuatan. Kemauan manusia hanya bisa didorong oleh pikiran atau teori yang pada tahun 1960, Sukarno menyebutnya sebagai “Ideologi dan Konsepsi Nasional”.

Terdapat relasi yang nyata antara kemauan yang diaplikasikan lewat praktek perbuatan (Praxis) dengan pikiran (Teori). Walaupun kemauan manusia lepas dari pikirannya, tetapi menurut Sukarno, pikiran dalam bentuk teori, ideologi, atau konsepsi akan sangat menentukan corak dan kekuatan kemauan yang mewujud dalam pergerakan rakyat. Kemauan nasional bagi Sukarno adalah “Wahyu Cakraningrat” yang dapat menggerakan rakyat terjajah melawan antipodenya.

Kemauan atau kehendak sebagai pendorong perbuatan yang dimaksudkan oleh Sukarno bukan “Kehendak Bebas” yang dimaksudkan oleh Marx. Menurut Sukarno, Marx tidak menyangkal peranan individu dalam sejarah. Individu dalam pandangan Marx dan para pemikir Abad Pencerahan merepresentasikan kemanusiaan secara keseluruhan (universalitas manusia). Marx menunjukan bahwa manusia (adalah individu-individu yang hidup secara sosial) bukan produk dari sejarah, bahkan sebaliknya, sejarah adalah aktivitas manusia yang sadar mempunyai tujuan dan sesuatu yang dikehendaki. Marx dalam Brumaire XVIII Louis Bonaparte menegaskan kembali peranan manusia, “Manusia membuat sejarah mereka sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya sekehendak hati mereka; mereka tidak membuatnya di bawah situasi-situasi yang dipilih oleh mereka sendiri, tetapi di bawah situasi-situasi yang sudah ada, yang ditentukan dan ditransmisikan dari masa lalu.”

Kemudian pada tahun 1926 melalui artikel Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme, Sukarno menguraikan tentang tiga ideologi besar dunia yang mempengaruhi kaum intelegensia, dan pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sukarno meramunya menjadi basis teori dan awal perumusan ideologi perjuangannya. Dari segi filsafat, ketiga ideologi besar tersebut memang saling bertentangan, namun menurut Sukarno ada unsur-unsur kesamaan diantara para penganut ideologi Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme yaitu membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu kolonialisme Belanda.

Dalam pandangan Sukarno, kesamaan cita-cita para penganut aliran Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme bukanlah kontradiksi yang bersifat antagonistik bahkan bukan kontradiksi pokok maupun kontradiksi dasar. Konsekuensi dari metode berpikir seperti ini adalah persatuan dari ide-ide yang bertentangan. Oleh karenanya, menurut Sukarno harus disatukan kedalam satu front perjuangan bersama yaitu persatuan pergerakan nasional menuju Indonesia merdeka.

Wujud konkretnya pada 17-18 Desember 1927, dibentuklah Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia  (PPPKI) yang diprakarsai oleh Sukarno lewat Partai Nasional Indonesia (PNI). Tradisi persatuan ini dilanjutkan oleh Gabungan Partai Politik Indonesia (GAPI), didirikan pada 21 Mei 1939 yang dipimpin oleh Muhammad Husni Thamrin, Amir Syarifuddin, Abikusno Cokrosuyoso dengan semboyannya “Indonesia Berparlemen”. Puncaknya adalah setelah Indonesia merdeka yaitu dibentuknya Front Nasional.

 Bagi sebagian kalangan intelektual kiri maupun liberal-demokratis, konsepsi persatuan nasional Sukarno adalah utopis dan mengalami kegagalan. Namun bagi Sukarno dengan mode pemikiran dialektika, thesa politik devide et impera rezim kolonial Belanda harus dilawan dengan antithesa politik persatuan nasional. Gagasan politik persatuan nasional yang ditawarkan oleh Sukarno merupakan pemikiran yang orisinil dan tinggi nilai kebenarannya disaat para pemimpin pergerakan nasional waktu itu, tendensi perjuangannya bersifat kedaerahan, sukuisme, agama dan golongan. Inilah ontologi pemikiran Sukarno.

Selain itu, menurut keyakinannya Sukarno, ketiga ideologi besar tersebut terdapat nilai-nilai yang sangat berharga dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, yaitu nasionalisme bangsa tertindas, Islam sebagai agama dan ajaran politik yang anti kolonial dan Marxisme yang memberikan corak nasionalisme yang membedakan dengan nasionalismenya nasionalis Indonesia.

 Untuk memperkuat pemikirannya, Sukarno mensintesakan mazhab ilmu modern yang terkandung dalam Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme dengan kebudayaan yang sudah berurat akar dalam kehidupan dan DNA bangsa Indonesia. Ide, gagasan, pemikiran dan cita-cita Sukarno yang menjadi ideologi perjuangannya harus memikul natuur atau sesuai dengan kemauan rakyat, sebab hanya ideologi perjuangan seperti itulah yang akan terpikul oleh natuur. Pemikiran dan praktek politik Sukarno sejak tahun 1920-an sampai menjelang berakhir kekuasaannya berkesinambungan dan konsisten. Dari konsistensi pemikirannya, kita akan lebih mudah mengkajinya dari perspektif filsafat ilmu pengetahuan.

Pasca kemerdekaan, Sukarno memposisikan ideologi pemikirannya dalam barisan aliran Sosialisme Ilmiah, namun bukan ke dalam kubu Marxisme-Leninisme PKI, Partai Murba-Tan Malaka dan Angkatan Communis Muda-Ibnu Parna, maupun Sosialisme-Demokrasi yang dianut oleh Sutan Syahrir dan partainya yaitu Partai Sosialis Indonesia. Semua ide, gagasan, pemikiran dan cita-cita Sukarno diartikan sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap segala bentuk utopia dan idealisme para penggagas Sosialisme Utopis.

Pandangan Sukarno ini sebenarnya berangkat dari pendirian Marx dan Engels yang memposisikan aliran Sosialisme Saint-Simon dan Robert Owen sebagai Sosialisme Utopis. Metode yang digunakan oleh para Sosialis Utopis dianggap tidak berangkat dari kaidah-kaidah keilmuan. Sebagai garis pembeda dengan mereka, Marx dan Engels menamakan aliran sosialisme mereka sebagai Sosialisme Ilmiah. Menurut Sukarno, Marhaenisme adalah termasuk kedalam aliran Sosialisme Ilmiah.

Sukarno juga mulai berani menyatakan bahwa Marhaenisme sebagai Marxisme yang diterapkan di Indonesia. Sukarno menegaskan bahwa, ”Kalau dus ingin memahami betul Marhaenisme–ini saya menyimpang sebentar—harus memahami dua hal. Lebih dulu memahami Marxisme, apakah Marxisme itu, satu. Dan kedua, memahami keadaan-keadaan di Indonesia.” Namun apabila kita mengkaji pemikiran Sukarno, Ia tidak sepenuhnya menjalankan doktrin Marxisme. Sukarno hanya meminjam salah satu ajaran Karl Marx, yaitu Materialisme Historis atau Materialisme Sejarah dan digunakannya sebagai metode analisa untuk menyelidiki problematika dan realitas sosial yang terdapat di tanah air. Sehingga Sukarno adalah bukan seorang Marxis sepenuhnya. Sukarno adalah Sukarno; Sukarno yang Nasionalis, Theis dan sekaligus Sosialis.

Sukarno mengharapkan ajarannya yaitu Marhaenisme sebagai Ajaran Bung Karno bukan hanya sebagai teori politik dan perjuangan, akan tetapi juga sebagai bentuk praksis dari penerapan teori-teori perjuangannya. Marhaenisme harus menjadi Guide to action yaitu tuntunan dan pedoman terhadap perjuangan (ideologi), guide for action yaitu tuntunan dan pedoman untuk melaksanakan perjuangan (organisasi) dan guide of action yaitu tuntunan dan pedoman bagi untuk bagaimana pelaksanaan perjuangan (kader). Artinya Marhaenisme sebagai teori politik dan perjuangan harus dipraktekkan dalam perjuangan dan kehidupan sehari-hari. [***]

Darwin Iskandar

Alumnus Fakultas Ekonomi Beijing Jaiotong University

You may also like