Istimewa
GENIAL.ID - Dini hari pukul empat pagi adalah waktu yang cocok untuk berselimut, di saat musim dingin sedang memuncak di Britania Raya. Tapi dering alarm jam weker jadul mengingatkan saya untuk bangun segera.

Di tanah air yang tak mengenal musim dingin, bangun pukul empat pagi tak banyak menyulitkan. Bangun dini hari di tanah air, paling tujuannya hanya untuk mengejar shalat subuh berjamaah. Bukan untuk segera bersiap-siap kerja, seperti saya alami di perantauan kini.

Di Bandung shalat subuh tinggal pilih di rumah atau masjid. Selesai shalat bisa santai dulu, doa agak panjang di sajadah, diteruskan ngobrol dengan jamaah kalau kebetulan shalat di masjid. Pulang ke rumah cukup tersedia waktu untuk toileting dan jogging. Sebelum berangkat bisa sarapan sampai kenyang.

Di Portsmouth, perantauan saya kini, saya shalat subuh dengan seragam kerja lengkap. Setelah shalat, tanpa olahraga, hanya berani gigit-gigit biskuit digestive, yang sesekali dicelup dalam air teh hangat. Terus begitu sampai mobil jemputan tiba pukul enam pagi.

Mobil jemputan biasanya tak hanya menjemput saya seorang. Masih ada beberapa orang lagi yang dijemput. Setelah semua kru lengkap, mobil melesat ke luar kota. Butuh 1-1,5 jam untuk mencapai lokasi tempat kami berdinas, yang berubah-ubah setiap pekan bahkan bisa saja setiap hari.

Selama satu jam itu, tak banyak tukar sapa atau obrolan diantara penghuni mobil jemputan. Dengan terkantuk-kantuk, atau kadang sembari menahan 'panggilan alam', kami melalui highway yang dingin, gelap dan penuh kabut.

Sesampainya di lokasi kerja, kegiatan pertama saya adalah menuju toilet. Saya bisa cepat memenuhi 'panggilan alam' itu jika toilet tak terisi. Kalau terisi, ya sudah, nekat saja pakai toilet bos atau mengendap-endap masuk toilet staf perempuan.

Selesai memenuhi panggilan alam, saya langsung menemui koordinator kerja untuk bertanya apa yang bisa saya kerjakan, dan di mana lokasi yang harus saya services hari itu. Usai briefing, selama 6-12 jam ke depan, mulailah saya berkutat dengan alat-alat kerja.

Jika ditunjuk jadi petugas kebersihan, seharian saya menggiring troli dan menenteng lap pel serta sapu. 30-an kamar penghuni panti, berikut toilet dan ruang kantor, adalah areal yang harus saya bersihkan. Selama 6-12 jam itu, mungkin hanya 30 menitan saja saya punya kesempatan duduk.

Kalau ditunjuk jadi petugas dapur, saya langsung berhadapan dengan tumpukan wadah bekas masak dan sarapan. Pagi-pagi sudah berhadapan dengan ratusan alat makan yang mesti dibersihkan. Begitu saja terus sampai maghrib menjelang. Cucian deh lu.

Pukul 7 malam waktunya pulang. Sampai di rumah dengan sisa-sisa tenaga saya mandi, shalat, makan malam dan ngalor-ngidul sebentar dengan keluarga. Setelah kembali menyetel jam weker, pada sekitar pukul 10 atau 11 malam, saya kembali ke peraduan.  Tidur nyenyak butuh sedikit perjuangan, karena suka ada perasaan was-was, takut terlambat bangun dini hari.

Lahirnya Jubir Kelas Pekerja

Di atas tadi adalah deskripsi singkat pengalaman saya sebagai bagian dari kelas pekerja di Inggris. Sketsa kerja yang tergurat dari mulai tahun 2018, dan makin kusut saja garis-garisnya, ketika memasuki masa-masa pandemi.

Itulah sketsa singkat romantika bekerja di sektor casual, kerja kasar kalau istilah Indonesianya, sebagai support worker pada instansi kesehatan untuk lansia, semacam panti jompo, yang di Inggris dikenal dengan nama Care Home atau Palliative Care.

Jangan bandingkan panti jompo di Inggris dengan di Indonesia. Panti jompo di Inggris kadang jauh lebih besar dari rumah sakit bersalin di kita. Lingkup pelayanannya persis dengan rumah sakit umum di tanah air.

Suatu hari, saat saya menghayati rasa lelah a la kelas pekerja di sini, saya terkenang pada film dokumenter, The Sex Pistols-UK Music Hall of Fame (2004). Film tentang kelompok musik yang didapuk sebagai juru bicara kelas pekerja, pada era depresi ekonomi pertengahan 70-an di Inggris.

Inggris pada tahun-tahun kelahiran The Sex Pistols adalah Inggris yang sedang prihatin didera depresi ekonomi. Kaum pekerja dilanda resesi, menjadi budak industri, termasuk diantaranya kalangan remaja putus sekolah, dan remaja fresh graduate sekolah menengah atas. Daya beli terbatas, barang-barang mahal, sementara tagihan listrik, air, dan gas memaksa keluarga-keluarga harus bekerja keras untuk melunasinya setiap bulan.

Kontras terlihat antara kelas pekerja, dengan kaum bangsawan, elit politik, dan para hartawan. Kelompok pekerja bekerja keras untuk memenuhi sekadar tagihan bulanan. Sementara kaum bangsaawan, politik dan hartawan, jangankan sandang, pangan dan papan, kebutuhan tersier saja kelihatannya terpenuhi atau berlebih.

Kontras itu segera memicu kecemburuan sosial. Protes-protes bertebaran di ruang publik dan media. Demonstrasi meletup di berbagai kota pelabuhan dan industri. Pada mulanya lewat slogan-slogan sarkas, kemudian menjurus pada anarkis.

The Sex Pistols lahir dan berkembang dalam kondisi tersebut. Sang ideolog, manajernya sendiri, Malcolm McLaren, mendorong band itu membuat lirik-lirik protes yang sarkas, aransemen rock n roll yang terdengar lebih ngawur dan brutal, untuk dibawakan di pub-pub kecil, party-party anak muda, dalam tour awal band tersebut keliling Inggris.

McLaren berhasil menyempurnakan konsep The Sex Pistols, ketika ia mendapuk John Lydon, alias Johnny Rotten, untuk menjadi vokalis dan frontman band ini.

The Sex Pistols mungkin hanya akan menjadi band rock rata-rata, kendati liriknya kritis sekalipun, jika bukan John Lydon alias Johnny Rotten yang menjadi frontman. Dia sukses mengintrepretasikan kemuakan generasi muda dan pemberontakan kelas pekerja saat itu, ke dalam aksi panggung dan caranya bernyanyi bersama The Sex Pistols.

Aksi-aksi nyeleneh dan menjurus brutalnya bersama The Sex Pistols, diakuinya pula bertujuan untuk melepaskan ketertekanan secara pribadi, sebagai pemuda fresh graduate, yang harus banting tulang dan menyaksikan sesama buruh jungkir balik di sektor industri, dengan siklus hidup sehari-hari yang robotik dan penuh perlakuan diskriminatif.

Menggemparkan Inggris

Aksi Johnny dan kawan-kawan menemukan momentum ledaknya saat mereka tampil dalam show kecil di Lesser Free Trade Hall, Manchester, UK, pada medio Juni 1976. David Nolan, penulis buku The Gig That Change The World : I Swear I Was There, menyebut momen sebelum, saat, dan sesudah penampilan The Sex Pistols di situ, walau hanya dihadiri 40 orang, telah memengaruhi banyak hal yang terjadi dalam industri musik di Inggris dan dunia.

"That was it: that was the day, that was the time, that was the year, that was the precise moment when everything took a left turn."ungkap David.

Artinya, show itu semacam sebuah show yang merubah banyak hal mainstream seputar musik. Dari mulai pakem memainkan musik, bagaimana membuat dan mempromosikan pertunjukan musik, bagaimana menjual rekaman musik, bagaimana menata pertunjukan musik, bagaimana fashion sebuah band, dan bagaimana sebuah show menginspirasi penontonnya untuk membentuk sebuah band.

Dalam acara radio BBC 6 Music Channels, Radcliffe and Maconie, diungkapkan, tanpa show di Manchester itu, dunia mungkin tak akan menyaksikan band-band besar dengan konsep seperti Nirvana, Radiohead, Blur, Green Day, atau band yang populer di kalangan anak muda tanah air, sekalipun seleranya musik pop, yaitu : Oasis.  

Salah seorang saksi mata, yang hadir dalam konser itu dan namanya menjadi legenda musik adalah penyanyi, Morrissey. Nama ini cukup akrab di telinga para musisi indie label Indonesia. Baik dari angkatan 90an, maupun angkatan millenial.

Setelah sukses berkeliling pub dan college-college, serta dikenal terutama oleh kalangan pelajar dan mahasiswa di seantero Inggris, The Sex Pistols menandatangani kontrak dengan perusahaan rekaman EMI. Bersama EMI inilah, mereka meluncurkan single yang melegenda, Anarchy In The UK.

Tim Sommer, kolumnis surat kabar Observer mencatat, tak lama setelah Anarchy in the U.K dirilis, The Sex Pistols muncul langsung di acara televisi pagi Inggris yang populer bertajuk Today.

Dalam acara itu, pembawa acara Bill Grundy ditengarai telah menggurui, meremehkan dan menghina band, yang dari gaya dan aksennya mengidentifikasikan mereka berasal dari kalangan bawah.

Grundy memprovokasi band untuk mengucapkan kata-kata kotor dalam acara. Johnny Rotten dan Steve Jones yang terpancing, mengumpat pembawa acara berumur separuh baya itu, dalam acara yang disiarkan secara live ke seluruh negeri.

Masyarakat Inggris gaduh setelah itu. Media mainstream menyudutkan The Sex Pistols, membuat label rekaman mereka, EMI, memutuskan kontrak yang sebetulnya masih tersisa dua tahun.

The Sex Pistols tidak berhenti sampai di situ. Momen itu justru membuat posisi mereka di kalangan masyarakat bawah semakin kuat.

Pemberontakan lewat musik kembali mereka lakukan dengan merilis single God Save The Queen pada medio Maret 1977. Lagu tersebut adalah versi lagu kebangsaan Inggris yang mereka ubah secara lirik, dengan isi kritikan keras pada ratu dan kerajaan.

Agenda launching lagu ini dikenang oleh proletar Inggris sebagai momen yang bukan sekadar sensasional, melainkan heroik. Agenda itu dilangsungkan tepat di depan Istana Buckingham, dalam suasana perayaan hari besar kerajaan, Queen Jubilee.

Bagian lirik "God save the queen/She ain't no human being/And there's no future/In England's dreaming" (saya coba terjemahkan secara adaptif menjadi : Tuhan selamatkan ratu, dia bukanlah manusia, dia tak punya masa depan, dalam mimpi Inggris Raya), menjadi alasan berbagai stasiun penyiaran melakukan banned atas single ini.

Tak hanya stasiun besar seperti BBC, televisi lokal dan radio komunitas yang notabene independen, ikut-ikutan kompak melakukan sensor terhadap band dan single barunya itu.

Kolumnis Alexis Petridis dari surat kabar Guardian menyebut peristiwa penyensoran itu sebagai peristiwa penyensoran terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah Inggris.

Ideologi dan Legacy

Berbagai peristiwa penyensoran itu tak pernah benar-bener berhasil mematikan The Sex Pistols sebagai band. Eksistensi mereka malah berkembang dan bertumbuh menjadi gerakan yang kemudian dikenal dalam sejarah dan kultur modern sebagai Punk Movement.

Gerakan itu menyusup ke dalam berbagai bentuk dan platform. Tak hanya pentas-pentas musik, karya grafis, dan penerbitan karya tulis kemudian mewarnai pertumbuhan Punk Movement ini, pada tahun-tahun resesi melanda masyarakat Inggris.

Punk Movement tak hanya menjadi gejolak sesaat, melainkan bertransformasi menjadi sebuah sub-kultur mapan, yang menumbuhkan benih, menguatkan akar, dalam cara pandang anak muda british yang kritis, terhadap eksistensi kerajaan dan politik kaum konservatif, bahkan hingga saat ini.

Supir jemputan saya yang menjadi fans The Sex Pistols sejak SMP mengakui akan adanya relevansi itu dengan berseloroh dan berkelakar, "Kritik dalam God Save The Queen itu masih sesuai sampai saat ini... sebab, ratunya kan masih sama."

Pergerakan yang menggebrak dan kemudian mapan itu sendiri tidak hadir tiba-tiba, namun ada konsep pemikiran atau ideologi yang menginspirasi dibaliknya, jelas Malcolm McLaren, sang manajer The Sex Pistols.

Ternyata konsep pemikiran dan ideologinya sendiri itu, secara tak langsung, berasal dari kondisi sosial dan ekonomi di kota tempat saya tinggal sekarang, Portsmouth. Tepatnya dari karya-karya sastra yang ditulis oleh sastrawan terkemuka Inggris kelahiran kota pelabuhan ini yaitu, Charles Dickens, yang berkarya pada pertengahan hingga akhir 1800-an.

Karya-karya Dickens yang berkutat sekitar politik kelas pekerja dan kisah anak-anak serta remaja miskin yang kehilangan hak-haknya, menjadi landasan literatur dari keberadaan The Sex Pistols dan Punk Movement-nya, jelas McLaren.

Karena itulah, dalam berbagai kesempatan, McLaren kerap menyebut The Sex Pistols sebagai Dickensian. Dickensian ini, ibarat benih, secara alamiah memang akan tumbuh subur dalam situasi ketidakadilan ekonomi.

Profesor Matthew Morley, peneliti budaya yang bekerja untuk Levelhulme Trust menjelaskan, ide-ide dan cara penyampaian The Sex Pistols itu memang menjadi jalan yang efektif bagi Punk Movement, agar mereka memiliki daya tawar politik dalam menyuarakan ketidakadilan. Sehingga, kaum penguasa mau tak mau akan, dan mesti merespon pergerakan mereka.

Diabadikan Dalam Sejarah

Setelah meninjau Punk Movement dari berbagai sudut, berikut meneliti kadar pengaruhnya terhadap kultur yang ditimbulkan baik di Inggris maupun dunia, para akademisi sosial sepakat meletakkan gerakan ini dalam tempat yang istimewa dalam sejarah barat modern.

Dengan pertimbangan itulah, orang Inggris yang dikenal menghargai sejarah, berupaya mengabadikan nama The Sex Pistols dalam Walk of Fame, di kawasan taman Covent Garden, London, berdampingan dengan nama-nama pesohor terkenal lainnya, pada 15 tahun lalu, tepatnya tanggal 13 September 2005.

Setahun kemudian, museum Rock N Roll Hall Of Fame di Hollywood, Amerika Serikat, mengundang mereka untuk seremonial serupa. Hanya saja, saat itu, semua personilnya menolak untuk hadir.

Steve Jones, si mulut kotor, sang gitaris, yang seperti saya sampaikan sebelumnya pernah mengumpat di siaran live televisi nasional, menyebut museum itu sebagai 'noda tinja'.

The Sex Pistols tak pernah berubah. Jika orangtua dulu mengingat mereka sebagai remaja berandalan, maka kini orang-orang memandang mereka sebagai berandalan tua.

Di kota Portsmouth, lagu-lagu mereka masih heboh dibawakan band-band lokal, dalam pentas-pentas a tribute atau dalam party diam-diam selama pandemi.

Anarchy In The UK dan God Save The Queen masih mengalun dari speaker mobil supir pabrik, music player tukang tembok, atau menghangatkan malam-malam cleaner kereta api, yang mulai bekerja pukul 9 malam, pulang ke rumah pukul 6 pagi.

The Sex Pistols, Charles Dickens, adalah dua hal yang nyaris tak bisa terpisahkan dari sejarah kelas pekerja kota Portsmouth. Yang sebagian besar penduduknya terdiri dari buruh pelabuhan, atau pekerja sektor casual (semisal cleaning services, supir, pembantu rumahtangga, buruh warehouse, carer, dan lain sebagainya).

Partai konservatif dan kerajaan adalah sesuatu yang selalu mengundang kritik dan apriori mereka. Kalau suatu kali anda berkesempatan plesir di kota pelabuhan yang penduduknya blak-blakan tapi cepat akrab dan periang ini, mungkin anda akan mendengar kata-kata "Useless Charles".

Kata-kata itu bukan ditujukan untuk 'Charles' yang pengarang, melainkan untuk 'Charles' yang satunya lagi. Kalau anda tahu banyak tentang Inggris, anda akan mafhum, 'Charles' siapa yang mereka maksud. Hahaha. [**]

 

*Oleh: A Eddy Adriansyah

Penulis adalah koresponden Genial.Id dari Inggris. Keluarga besar Pesantren Persis 110 Manba'ul Huda dan pegiat Tajdid Institute.

You may also like