Mahmuddin Muslim (foto: istimewa)
GENIAL.ID, Tarikh - Setiap bulan ramadhan banyak peristiwa yang selalu kita ingat sebagai umat muslim. Mulai dari pertama kali Allah SWT memberikan wahyu (Qur'an) pada Rasulullah SAW, dimana malaikat Jibril datang pada Muhammad SAW menyampaikan kalam Ilahi di gua Hira'. Sejak itulah mulainya kerasulan Muhammad ibn Abdullah SAW.

Ada peristiwa perang Badar, yang sangat berdampak besar pada perkembangan Islam dan dakwah Rasulullah. Strategi perang Khandaq yang menjadi sebuah strategi baru dalam peperangan pada masa itu dan memberikan kontribusi besar pada ilmu strategi perang. Demikian juga peristiwa pembebasan kota Mekkah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tanpa pertumpahan darah sedikitpun.

Pada bulan ramadhan juga terjadi peristiwa perang Tabuk, Ketika Islam Berhasil Mengusir Bizantium. Demikian juga pada bulan ramadhan wafatnya Siti Khadijah, wafatnya Siti Fatimah, wafatnya Ruqayyah anak Rasulullah SAW, Siti Aisyah pun wafat di bulan ramadhan. Untuk bangsa Indonesia, proklamasi kemerdekaan Indonesia juga dideklarasikan pada 17 Ramadhan.

Namun terkadang kita lupa pada sebuah peristiwa yang masih berdampak sampai saat ini, terbunuhnya Ali bin Abi Thalib RA, oleh seseorang yang merasa paling Islam, Abdurrahman Ibnu Mujlam.

Subuh 19 Ramadhan 40 H. Lelaki perkasa itu baru saja menyelesaikan wudhu-nya, dia hendak menghadap Tuhan penciptanya. Tiba-tiba sebilah pedang diayunkan kepadanya. 
Darah mengucur. Ia rebah dengan luka menganga. Pedang yang melukainya telah dilumuri racun. Lelaki perkasa yang telah menjadi korban kebiadaban itu adalah Ali ibn Abu Thalib, seorang yang selalu dipuji oleh Rasulullah SAW sebagai pintunya ilmunya.

“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Siapapun yang hendak memasuki kota, dia harus melewati pintunya dahulu,” ujar Nabi.

Ali bin Abi Thalib adalah sepupu Rasulullah SAW yang menjadi orang pertama yang mengimani Kerasulan Muhammad ﷺ. Ali bin Thalib selalu berada di sisi Nabi, dalam keadaan sulit dan susah, Ali selalu merelakan tubuh dan jiwanya untuk melindungi Rasulullah SAW. 

Siapakah pembunuh keji yang tega melakukan kejahatan pada Ali. Tersebut lah Abdurahman Ibnu Muljam yang dikenal rajin ibadah sampai dahinya menghitam. Dia hafal Al Quran. Dia menjalankan puasa daud, sehari puasa, sehari tidak.  Dia rutin sholat malam. Dengan segala ibadahnya itu, Ibnu Muljam merasa lebih islami dari Ali RA. Dia mengkafirkan Ali. Menuduh Ali tidak berpegang pada hukum Allah lalu merasa berhak untuk menumpahkan darahnya. 

Ibnu Muljam secara sembrono memakai ayat Qur'an sebagai alat pembenar perbuatan kejinya pada Ali RA. 

"Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, Hai Ali!” Ia membaca firman Allah QS Al-Baqarah 207.

Kesombongan Ibnu Muljam, merasa paling Islam dan memiliki ilmu yang lebih tinggi dari Ali RA sang pintu ilmu Rasulullah SAW. Dia menista keluasan ilmu Ali RA karena kedangkalan wawasan dan keluwesan pikirannya. 

Padahal Rasulullah ﷺ yang mulia pernah berkata kepada Ali, 
“Sesungguhnya tidak mencintaimu kecuali mukmin dan tidak membencimu kecuali munafik.” 

Akibat tebasan pedang yang telah dilumuri racun oleh Ibnu Muljam, selang tiga hari setelah Ali bin Thalib pun syahid, pribadi agung itu menghembuskan nafas terakhirnya menemui ajalnya karena kebodohan seorang Ibnu Muljam yang mengaku Islam.

Peristiwa terbunuhnya Ali bin Abi Thalib merupakan sebuah tragedi beragama yang paling sadis dan memilukan dalam sejarah Islam.

Pemikiran Ibnu Muljam yang penghafal Qur'an, rajin beribadah ritual adalah pemikiran yang menganggap orang yang tidak sepemikiran dengannya sebagai kafir. Yang berbeda dengannya adalah orang sesat. Karena dianggap kafir dan sesat, maka Ibnu Muljam merasa perlu melakukan tindakan yaitu wajib dibinasakan.

Dalam melakukan tindakan pembinasaan orang yang berbeda dengan pemikirannya, Ibnu Muljam selalu berteriak "berpeganglah pada hukum Allah.” 

Hukum Allah SWT yang selalu Ibnu Muljam teriakan adalah hukum menurut pemikiran dan hawa nafsunya. Siapapun yang berbeda pandangan dengannya akan dicap kafir dan sesat. Jika ada perbedaan dari kebenaran versi Ibnu Muljam, adalah penentang Islam sehingga wajib dibunuh.

Sebagai orang yang rajin beribadah, Ibnu Muljam terjebak pada kedangkalan pemikirannya sendiri. Tanpa disadari, dia yang penghafal Qur'an telah menjelma menjadi "Tuhan". Melakukan klaim kebenaran sesuai dengan pikirannya sendiri. Pikirannya yang sempit telah menjadikan dia dicatat oleh sejarah dengan tinta paling nista karena membunuh seorang manusia mulia.

Dia membunuh Ali ibn Abu Thalib, orang yang mencintai dan dicintai Rasulullah SAW. Ibnu Muljam tidak sadar jika Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling memahami Islam setelah Rasulullah SAW.

Cara berpikir Ibnu Muljam masih banyak kita temui saat ini. Ibnu Muljam telah lama mati. Tetapi cara berfikirnya masih banyak yang mewarisi dan mudah kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Lihat saja, misalnya ISIS yang menggunakan kebenaran Qur'an dengan klaim kebenaran ISIS, digunakan untuk membunuh secara membabi buta manusia lainnya. Bahkan sesama muslim yang tidak sama pemikiran dengan ISIS, dengan mudah di kafir kan dan dianggap sesat, pun mereka bunuh dengan cara-cara biadab.

Cara-cara mereka membunuh dan menjalankan hukum perang, juga jauh dari ajaran dan tuntunan Islam. Agama yang rahmatan Lil 'alamin dan pembangun peradaban, di tangan mereka berubah menjadi agama yang pemarah, haus darah, membabi buta dan menghancurkan peradaban manusia. 

Ibnu Muljam abad ini yang kemana-mana membawa dan menyebabkan kerusakan. Kehidupan yang tenang dan damai telah mereka rusak dengan alasan ingin menegakkan hukum agama. Mereka selalu mengusung simbol-simbol beragama dalam setiap gerakan pengrusakan yang mereka lakukan. Para pengikut pemikiran Ibnu Muljam saat ini, sama seperti panutannya, sangat sibuk dan rajin beribadah ritual.

Cirinya, mereka sibuk dengan ibadah ritual, sibuk mengkafirkan dan menyesatkan sesama muslim dan paling merasa Islam sendiri.

Pemikiran yang merasa Islam sendiri, memudahkan mereka mempengaruhi khalayak ummat muslim karena memakai simbol dan rajin ibadah ritual yang mereka pertontonkan, apalagi setiap perbuatan mereka selalu meneriakkan kebesaran nama Ilahi dan tidak ada hukum kecuali milik Allah. Tak heran pewaris Ibnu Muljam ini merasa sebagai pemegang kunci surga. 

Pewaris Ibnu Muljam sering juga kita temui dalam pelbagai ruang publik. Di media sosial bertebaran kaum "berjubah" agama ini melakukan provokasi baik pada orang non muslim atau pada kaum muslimin yang berbeda pandangan dengan mereka.

Bahkan, dalam beberapa event politik elektoral seperti pemilu, pilkada atau pilpres, sangat mudah kita temukan ucapan, tindakan maupun tulisan yang mengkafirkan lawan politik atau orang yang berbeda pilihan politik dengan mereka.

Dengan berbekal rajin ibadah ritual, "keshalehan" dalam berpakaian, mereka merasa paling Islam sehingga pilihan politik pun jika tidak ikut mereka, maka kita kafir dan keluar dari Islam. Mereka terlihat sangat mencintai "ibadah ritual" tapi sangat mudah membenci manusia lainnya termasuk saudara muslim. Mereka terkesan sibuk "beribadah" pada Tuhan, tapi mereka melakukan tindakan-tindakan dan cara-cara iblis dalam memecah belah ummat. 

Mudah-mudahan setiap Ramadhan kita akan selalu mengenang syahidnya seorang putra Abu Thalib yang seluruh hidupnya dibaktikan untuk kebenaran. Yang dari lisannya mengalir mutiara-mutiara hikmah, dari tangannya keadilan ditegakkan dan dari fikirannya, kegelapan disingkapkan serta dari kematiannya kita bisa mengambil hikmah agar terjauh dari racun  pikiran Ibnu Muljam.

Salam bagimu, wahai putra Ka’bah.

*) Mahmuddin Muslim
Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia


You may also like