Galan Rezki Waskita
GENIAL.ID, Opini - Sebuah pepatah mengatakan, jika seseorang meninggalkan asal usulnya, mereka diumpamakan seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Setidaknya dengan pengungkapan ini, ada tanggung jawab moril untuk tetap menghargai pikiran, prestasi, sekaligus apa yang diwariskan para pendahulu. Terlebih pandangan ini sempat terlontar dari mulut Sang Proklamaror Ir. Soekarno.

Jas Merah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah) katanya. Ungkapan ini secara terus terang menegaskan bahwa sejarah tidaklah berwujud sebatas cerita masa lalu, melainkan berbentuk pondasi yang kokoh. Atas dasar ini, sekiranya dapat dipetakan bahwa terdapat dua unsur penting yang menjadi implikasi dari kata Jas Merah. Unsur itu adalah nasionalisme dan patriotisme.

Nasionalisme secara teori merupakan paham atau ajaran untuk mencintai bangsa sendiri. Paham ini kemudian turut menjadi dasar terbentunya inovasi sistem dalam bernegara. Langakah tersebut terjadi karena nasionalisme menggiring untuk lebih mengenal sisi potensial sekaligus titik lemah suatu bangsa. Dengan demikian, ditemukanlah cara yang tepat dalam pengelolaan pemerintahan.

Terlebih dalam tatanan kemajemukan Indonesia, isme ini adalah benang sekaligus jarum jahitan yang menyatukan bagian per-bagian kain keberagaman menjadi sebuah pakaian.

Contoh sederhana nasionalis adalah dengan diadakannya upacara bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.  Pada skup yang lebih luas, dapat pula dilihat dari pengupayaan keteraturan ekonomi dan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah negara. Pada ranah yang lebih fundamental, nasionalisme tegak dalam keikutsertaan rakyat dalam pelaksanaan demokrasi.

Sedangkan Patriotisme, berdasarakan akar bahasa bersumber dari kata patriot (Pahlawan) yang kemudian menjelma sebagai sebuah paham (isme). Paham ini adalah bentuk yang lebih spesifik dari nasionalisme. Sederhananya adalah, patriotisme merupakan kerelaan dalam upaya bela negara sebagai bentuk cinta tanah air.  Pengorbanan ini dapat berupa harta benda maupun jiwa dan raga.

Perangai ini acap kali ditemukan pada lingkungan polisi dan militer. Keberadaannya berubah sebagai doktrin kebangsaan. Inilah sekiranya yang menjadi alasan bahwa dua lembaga tersebut dipersenjatai oleh negara. Mereka memegang kendali keamanan dan ketertiban masyarakat, serta bertindak atas nama negara.

Segala bentuk aturan tersebut semata-mata dimunculkan dengan dasar bahwa pemangku kebijakan telah memahami kondisi-kondisi sebelum hari ini terjadi. Dari situ, dahulu maupun sekarang, pemerintah selalu mendukung adanya pembelajaran sejarah dalam segala jenjang pendidikan. Bahkan demi keberadaan pemahaman sejarah, pemerintah mengadakan dua pelajaran wajib yakni Sejarah dan Pendidikan Kewargnegaraan.

Mata pelajaran Sejarah menejelaskan materi sejarah umum. Sedangkan Pendidikan Kewarganegaraan menjelaskan sejarah sebagai sebab hukum dan kewajiban warga negara. Pemerintah sangat mementingkan ilmu sejarah karena mereka pula menyadari bahwa pemerintahpun hadir sebagai hasil dari sejarah. Di lain sisi, ilmu sejarah diajarkan untuk mengenal pola-pola kolonialisme dan imperialisme.

Bagian ini dianggap penting disajikan untuk membangun kesamaan pandangan dalam mengkonter praktik penjajahan. Terlebih, sebagai bangsa yang pernah terjajah, bagian ini akan membangun kesamaan rasa sehingga terciptalah persatuan. Seorang filsuf Spanyol, Goerge Santayana mengatakan, “Mereka yang tidak megenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya”.

Pernyataan ini adalah penegasan bahwa untuk menghindari penindasan dan bergerak menuju kemajuan adalah dengan mengerti sejarah bangsa. Barang siapa yang tidak mengenal sejarah, maka ia tidaklah mengenal dirinya sendiri. Untuk itulah pemerintah mencoba memandang  sejarah sebagai instrumen besar yang wajib hukumnya ditanamkan pada setiap warga negara.

Baik rakyat maupun pemerintah perlu mendapatkan pendidikan sejarah secara formal maupun non formal. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga mengatakakan, sejarah adalah tulang punggung dari identitas nasional. Untuk itu pendidikannya akan disajikan melalui penggunaan media yang menarik. Dengan demikian kisah yang ingin disampaikan dapat menginspirasi, karena terbangun relevansi dengan kehidupan kawula muda.

Jangan sekali-kali melupakan sejarah adalah bahasa tuntunan untuk menghadapai masa depan. Rakyat diminta melihat ke belakang bukan hanya untuk membaca, tapi juga memahami nilai-nilai yang ditinggalkan. Dengan ini nasionalisme dan patriotisme akan tubuh sebagai pohon dengan akar yang menancap dalam.

Pada dasarnya, setiap ilmu yang berkembang adalah sebuah sejarah. Keberadaannya sebagai pengetahuan dan teori telah tersaring oleh tembok-tembok waktu dan diskusi. Untuk itu dalam beberapa pendefinisian seperti yang dibahasakan Mohammad Yamin, sejarah adalah potongan ilmu pengetahuan dari masa lampau.

Jikia ditilik lebih jauh, bahkan paham penjajahan juga muncul oleh karena kepahaman sejarah. Pikiran kejayaan masa lalu membuat sebuah bangsa berani untuk mengambil kendali atas bangsa lainnya. Namun dengan ilmu sejarah pula, penolakan atas metode penjajahan tersebut dapat dilakuakan. Maka ungkapan Jas Merah bukalah keterangan sepihak atau menyasar segolongan orang.

Keterangan ini akhirnya bermuara pada pasal 27 ayat (3) UUD 1945 sebagai fatwa universal. Setiap warga negara dikatakan berhak dan wajib melakukan upaya bela negara. Bersamanya, masyarakat diajak untuk masuk dalam sebuah gagasan maslahat. Bahasa hak dan kewajiban disatukan untuk menjelaskan bahwa nasionalisme dan patriotisme dituntut subur di bumi Indonesia. [**]

*Oleh : Galan Rezki Waskita (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang)

You may also like