Ilustrasi (Net)
Genial - Salah satu aturan yang Allah berikan di awal kenabian adalah turunnya ayat “wa la tamnun tastaktsir” (Dan janganlah kamu memberi dengan maksud ingin memperoleh balasan yang lebih banyak) seperti disebutkan QS 74: 6. 

Pada ayat ini ada konsep ikhlas: beri (give) dan tidak perlu berharap akan menerima (take) yang lebih banyak. Betapa banyak orang baik yang jatuh tergelincir karena bersikap ‘ada udang dibalik bakwan’; atau karena mengharap balasan dari pemberian/pertolongannya.

Dibalik kebaikan kita tersembul keinginan untuk mendapat balasan dari kebaikan yang dilakukan. Cukuplah Allah yang nanti akan membalas kebaikan amal kita, tidak perlu berharap pada sesama makhluk-Nya. Ini mudah untuk dituliskan namun sulit untuk dilakukan bukan?

Salah satu indikasi apakah kita berharap balasan kebaikan dari orang lain itu adalah kita kecewa ketika orang yang kita tolong malah memusuhi atau diam saja saat kita butuh bantuan. Kita sering ngomel, “padahal kalau dulu tidak saya bantu, orang itu tidak bisa begini-begitu, sakarang lupa dengan saya”.  Umpatan ini muncul karena kita tanpa sadar berharap kebaikan kita dibalas oleh manusia, bukan dibalas oleh Allah SWT.

Kalau itu yang terjadi, maka kebaikan yang kita lakukan tergantung reaksi orang itu: jika dia berterima kasih, kita senang. Jika dia melupakan kita, kita pun marah. Jelas sudah: kita berharap pada balasan kebaikan dari orang itu, bukan berharap pada balasan dari Allah. 

Jadi gimana? Simpel aja. Kalau mau berbuat baik, bersedekah atau menolong orang lain, lakukan saja. Gak perlu mikir apa balasannya atau timbal baliknya. Tugas kita itu berbuat baik. Gak perlu mikir macam-macam. Sesederhana itu.

Percayalah, semua perbuatan baik tidak akan sia-sia. Lupakan saja perbuatan baik yang baru saja kita kerjakan, biar malaikat yang mencatatnya dan Allah yang memberi ganjaran. Gak usah berharap pada balasan makhluk. Bersandar semata pada Sang Khaliq. 

Penulis : Nadirsyah Hosen
Wakil Ketua Pengasuh Pesantren Takhasus Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta.  Tulisan ini  sudah naik di situs personal Gus Nadir di https://nadirhosen.net. 


You may also like