Helmi Hidayat, MA
GENIAL.ID, Tafkir - Tulisan saya tentang apakah surga dan neraka adalah makhluk Allah SWT, atau keduanya adalah Allah itu sendiri dalam dua sisi berbeda dari Allah yang Maha Satu, menimbulkan diskusi tersendiri di grup Whatsapp. Diskusi dipicu dari pertanyaan mendasar, benarkah Allah punya sifat negatif dalam persepsi manusia, misalnya Al-Muntaqim (Maha Pendendam) atau Al-Mudzillu (Maha Memperhinakan). Bukankah selama ini Dia lebih menonjolkan sifat Rahman dan Rahim? 

Jawabannya mudah: tak ada salahnya menyematkan nama yang dalam persepsi manusia berkonotasi negatif pada Allah, toh nama-nama itu dinyatakan oleh Allah sendiri dalam Al-Quran. Dari situ para ulama mengumpulkan nama-nama Allah yang bertebaran dalam kitab suci dalam sebuah folder bernama ‘’Al-Asmaa Al-Husna’’. Buat manusia, Al-Muntaqim adalah negatif dan mereka memang dilarang menyifatinya. Tapi buat Allah? Semua sifat yang melekat pada Diri-Nya positif belaka karena Allah dengan segala kekuasaan di tangan-Nya memang berhak bersifat apa saja. 

Namun demikian, benar bahwa dari 99 nama baik Allah yang berhasil dicatat manusia, Rahman dan Rahim adalah dua nama yang paling dibanggakan oleh Allah SWT. Itu terbukti dari ungkapan ‘’basmalah’’, yang di dalamnya nama Rahman dan Rahim disandingkan. Allah tidak memperkenalkan Diri-Nya dengan ungkapan ‘’bismillaahil-Ghafuurul al-Razzaaq’’, misalnya, meski sifat mengampuni dan memberi rejeki itu berkonotasi sangat positif dan paling digemari manusia. Saya berjanji kepada kawan-kawan di grup Whatsapp itu untuk secara khusus menulis tentang Rahman dan Rahim ini. 

Untuk itu, mari kita mulai dari merenung tentang Allah, apa yang Ia kerjakan ketika semua makhluk yang ada sekarang, mulai dari malaikat, jin, manusia, sampai bermiliar-miliar planet di langit, belum ada. ‘’Ketika’’ seisi jagad raya belum ada, ‘’di mana’’ Allah? Kata ‘’ketika’’ harus saya beri tanda kutip karena kata itu merujuk pada dimensi waktu; apakah ‘’waktu’’ sudah tercipta ketika itu? Atau waktu kekal bersama Allah? Kata ‘’di mana’’ juga harus saya beri tanda kutip karena kata itu merujuk pada dimensi ruang; apakah ‘’ruang’’ sudah tercipta ketika itu? Atau ruang juga kekal bersama Allah?

Saya tak ingin berpanjang-panjang membahas kekekalan ‘’waktu’’ dan ‘’ruang’’ tadi. Dengan menyatakan itu semua saya hanya ingin mengatakan bahwa jika sekarang saja Allah adalah Tuhan yang Maha Gaib tak terlihat, apalagi dulu ketika jagad raya dan seisinya ini belum ada, Allah pasti berada dalam puncak kesunyian dan kehampaan: super kosong, super nihil, hanya ada Dia sendirian saat itu. 

Nah, apa yang dilakukan Allah di puncak super sunyi itu? 

Anda benar! Allah ketika itu hanya merenung, lamaaaaa sekali dan dalam sunyi. Ia merenung tentang Diri-Nya yang Super Agung, tentang Diri-Nya yang Maha Indah, tentang Diri-Nya yang Super Suci, dan terutama tentang Diri-Nya yang Maha Baik penuh cinta kasih. 

Namun demikian, kendati Dia maha segala-galanya, semua sifat yang segala-galanya itu menjadi nihil dan tak berarti apa-apa jika tak ada satu pun saksi yang menyaksikan semua kehebatan Allah itu. Dalam sebuah analogi, jika Anda merasa suara Anda bagus, jangan hanya bernyanyi di kamar mandi. Ikutlah audisi dan berlombalah agar seluruh umat manusia di Indonesia ini tahu suara Anda hebat. 

Demikianlah Allah, Ia tak mungkin terus bersembunyi di tengah kesunyian azali jika Ia ingin dikenali. Perlu ada saksi, jika perlu saksi-saksi, yang benar-benar bersaksi bahwa Allah memang Maha Hebat. Dari keinginan seperti itulah Allah kemudian menciptakan makhluk-makhluk, agar mereka mengetahui lalu bersaksi bahwa Allah memang Maha Hebat dan maha segala-galanya.  

Tentu saja ini bukan khayalan. Cerita itu datang dari Allah sendiri yang mengisahkan pengalaman-Nya di puncak kesunyian. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman: 

كنت كنزا مخفيا فاحببت ان اعرف فخلقت الخلق ليعرفوني

‘’Dulu Aku tak ubahnya benda berharga yang tersembunyi. Aku ingin sekali dikenali. Maka Aku ciptakan makhluk agar mereka mengenal Diri-Ku.’’ 

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, filsuf dan teolog Muslim Persia yang hidup (antara 1058-1111 M), berpendapat bahwa Allah kemudian menciptakan begitu saja makhluk-makhluk sekehandak Dia dari ‘’tidak ada’’ menjadi ‘’ada’’. Biar gampang mencerna teori Al Ghazali itu, teknik penciptaan yang dia maksud mirip tukang sulap yang memperlihatkan sebuah topi kosong, lalu dari kekosongan itu tiba-tiba muncul burung dara atau kelinci jinak, bim salabim! 

Inilah yang disebut ‘creatio ex nihilo’, makhluk tercipta dari semula tak ada menjadi ada, abrakadabra! 

Imam Ghazali berpendapat seperti ini sesungguhnya untuk menyanggah teori penciptaan yang datang lebih awal, bahwa jagad raya ini sesungguhnya tercipta dari membanjirnya cinta kasih Allah. Menurut teori yang dikenal sebagai teori emanasi atau teori membanjirnya cinta kasih ini, Allah adalah Tuhan yang Maha Baik, Sang Lautan Cinta dan Samudera Kasih. Begitu banyak cinta kasih-Nya, sampai-sampai cinta itu melimpah lalu tumpah dari Diri-Nya, mirip Matahari yang melimpahkan cahayanya untuk menerangi jagad raya ini. Nah, dari cinta kasih yang melimpah itulah lalu tercipta makhluk-makhluk yang banyak ini. 

Teori ini dalam dunia Islam diperkenalan oleh Al-Farabi. Kata filsuf Muslim yang bernama lengkap Abu Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Farabi (870 - 950 M)  ini, Allah adalah Lautan Cinta yang merenung tentang diri-Nya seperti dinyatakan dalam hadits qudsi tadi. Dari perenungan itu timbullah makhluk akibat melimpahnya cinta kasih Allah. 

Wujud Pertama yang belum bersifat materi ini kemudian mulai merenung akan kehebatan Allah. Dia bersaksi bahwa Allah memang Maha Hebat dan dari persaksian itulah timbul Wujud Kedua yang juga merenung tentang Wujud Pertama.  Dari persaksiannya itu timbul Wujud Ketiga. Proses ini terus berlangsung hingga berakhir pada Wujud Kesepuluh.

Teori ‘’Membanjirnya Cinta Kasih’’ yang diperkenalkan Al-Farabi ini, juga oleh Ibn Sina, Ibn Maskawaih, dan Ikhwan Ash-Shafa’ dengan sedikit perbedaan versi, bisa jadi sekarang sudah usang setelah ahli astronomi modern menemukan bukti bahwa susunan planet di Galaksi Bima Sakti ternyata tidak hanya sepuluh susun seperti yang digambarkan Al-Farabi. Filsuf ini memang menyebut wujud kedua dan seterusnya itu dengan nama-nama planet yang kita kenal, misalnya Satumus (Zuhal), Yupiter (al-Musytara) atau Mars (Madiah). 

Namun, satu hal penting yang harus dicatat dari teori emanasi Al-Farabi ini adalah bahwa Bumi merupakan planet terakhir yang tercipta dari membanjirnya cinta kasih Allah itu. Pendek kata, Bumi tercipta dari sisa-sisa rahmat Allah yang melimpah ruah dan karena itu di dalamnya hanya ada kegelapan dan penderitaan. Makhluk yang hidup di sini perlu cinta dan kasih Allah, Sang Lautan Cinta, jika tak mau mereka semua binasa untuk selamanya. 

Karena Bumi tercipta dari kerak paling akhir kasih sayang Allah, maka Tuhan yang Maha Suci itu tak mungkin turun ke Bumi. Planet ini bakal tertelan dan terserap  habis oleh Yang Maha Suci itu jika Dia menampakkan Diri-Nya di sini. Ini terbukti Ketika Bumi gemetar tak sanggup menerima niat Allah untuk menghadirikan Diri-Nya ketika Nabi Musa AS memohon agar Allah menampakkan Diri-Nya di hadapannya (QS Al-A’raaf: 143).   

Dari sini, apakah kiamat menyeramkan? Prosesnya menyeramkan, tapi sejatinya kita semua tengah kembali tenggelam dalam Lautan Cinta Samudera Kasih. Indah bukan?

Nah, karena Bumi dan seisinya ini menjadi ada lalu hidup berkat kasih sayang Allah, Tuhan pun jadi lebih bangga memperkenalkan Diri-Nya sebagai al-Rahman dan al-Rahim ketimbang nama-nama yang lain. Jika Anda menguasai Bahasa Arab, akan terasa bahwa kata ‘’Rahmaan’’ dan ‘’Rahiim’’ adalah dua kata yang sengaja dipilih untuk mewakili makna ‘’berjuta-juta rahmat tak terkira’’. 

Sayang, dengan segala keterbatasannya, Bahasa Indonesia hanya mampu menerjemahkan kalimat ‘’bismillaahirrahmaanirrahiim’’ dengan terjemahan ‘’dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang’’. Terjemahan itu jelas tak cukup mewakili kalimat dalam Bahasa Arab ‘’bismillaahirrahmaanirrahiim’’ karena sesungguhnya, makna Rahman adalah Lautan Cinta, sedang Rahiim bermakna Samudera Kasih. Maka, terjemahan yang lumayan mewakili firman Allah itu adalah ‘’dengan nama Allah, Sang Lautan Cinta, Samudera Kasih.’’
 
Betapa tidak. Singa dan buaya makan daging, sama dengan manusia yang juga makan daging. Tapi, beda manusia dengan singa atau buaya adalah bahwa kedua binatang itu boleh makan daging apa saja, bangkai sekalipun, tanpa membaca bismillah, sedang manusia diwajibkan membaca nama Tuhan yang penuh cinta kasih itu. Daging kambing, sapi, kerbau, atau ayam halal buat umat Islam asalkan ketika menyembelihnya mereka membaca basmalah. Tapi, semua binatang yang semula halal itu menjadi haram ketika hewan-hewan tadi disembelih tanpa nama Allah Sang Maha Cinta dan Kasih disebut. 

Dengan memerintahkan manusia agar selalu membaca basmalah setiap melakukan perbuatan baik, sejatinya Allah bukan saja ingin mengatakan Dia adalah pusat segala cinta dan kasih, tapi Dia juga ingin secara pasti membedakan kita, umat manusia, dengan binatang dan makhluk lain. Dengan menyebut basmalah di planet yang tercipta dari kerak sisa-sisa rahmat-Nya ini, umat manusia menjadi ‘’ahsanu taqwiim’’, makhluk terbaik, yang bersaksi bahwa Allah Maha Hebat, Allah Maha Baik. Itulah sebabnya Allah lebih bangga memperkenalkan Diri-Nya dengan sebutan ‘’Rahmaan’’ dan ‘’Rahiim’’ ketimbang 97 nama baik lainnya.

Mulai sekarang, setiap kali kita membaca ‘’bismillaahirrahmaanirrahiim’’, baca juga artinya di dalam hati – Dengan nama Allah, Sang Lautan Cinta, Samudera Kasih …. (*)

*) Helmi Hidayat, MA

Dosen UIN Syarif Hidatullah Jakarta

 

You may also like