Helmi Hidayat, MA
GENIAL.ID, Tafkir - Al-Quran adalah kitab suci yang unik. Buku suci ini mengandung 30 juz, tiap satu juz tidak harus terdiri atas satu surat. Bahkan satu surat bisa terdapat di dalam tiga juz sekaligus, misalnya surat al-Baqarah (sapi betina) berada di juz satu sampai juz tiga. Tapi, satu juz bisa juga terdiri atas 36 surat, misalnya juz 30.

Selama Ramadhan, banyak umat Islam berlomba-lomba membaca tuntas 30 juz ini. Tradisi "Khatmul Quran" ini bagus, tapi akan lebih bagus jika diiringi tekad memahami ayat-ayat yang mereka baca. 

Salah satu tema yang menarik dikupas dalam juz pertama adalah apakah surga dan neraka adalah makhluk Allah yang mampu berpikir sebagaimana makhluk berpikir lainnya? Tema ini akan kita temui setiap membaca ayat 24 surat al-Baqarah di juz pertama itu. Bukan saja karena di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa bahan bakar neraka adalah manusia dan batu, tapi juga dalam footnote yang berkaitan dengan ayat itu biasanya disertakan sebuah hadits Rasulullah SAW riwayat Bukhari Muslim berisi dialog antara surga dan neraka.
  
Dalam hadits yang disampaikan Abu Hurairah RA itu, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa surga dan neraka pernah saling berdebat. 

"Aku dipenuhi dengan orang-orang yang sombong dan durhaka," kata neraka. 

 "Begitu juga aku, hanya orang-orang lemah yang masuk ke dalam diriku," jelas surga. 

Maka, di tengah perdebatan itu, Allah berfirman kepada surga: “Engkau adalah rahmat-Ku, Aku merahmati hamba-hamba yang Aku kehendaki." Lalu Allah juga berfirman kepada neraka: “Engkau adalah siksa-Ku, Aku menyiksa hamba-hamba yang Aku kehendaki dan masing-masing kalian ada penghuninya.’’ 

Sejak ratusan tahun lalu, para teolog dalam Islam kerap berdebat apakah surga adalah makhluk serba indah yang diciptakan Allah untuk orang-orang baik dan neraka adalah makhluk serba jelek yang dipersiapkan untuk orang-orang berdosa; atau surga dan neraka itu sesungguhnya adalah Allah itu sendiri dengan dua sisi berbeda? Di satu sisi, Allah adalah Tuhan yang Maha Pemurah, Rahman dan Rahim, tapi di sisi lain Dia juga Tuhan yang Maha Pendendam, al-Muntaqim? 

Hadits Nabi SAW tentang perdebatan antara surga dan neraka tadi tentu melahirkan dua pendapat: kelompok pertama berpendapat surga dan neraka adalah dua makhluk terpisah yang saling berdebat, kelompok kedua berpendapat bahwa dialog keduanya justru merupakan cara Allah membuat alegori tentang Diri-Nya bahwa Dia yang Maha Agung memiliki dua sisi berseberangan yang digambarkan sebagai surga dan neraka. Itu terlihat dari firman Allah kepada surga “Engkau adalah rahmat-Ku’’ sementara kepada neraka Allah juga berfirman: "Engkau adalah siksa-Ku.’’

Menurut kelompok pertama, sebagai konsekuensi surga dan neraka adalah makhluk, manusia akan dibangkitkan di Gurun Mahsyar dalam bentuk fisik juga agar mereka bisa menikmati surga atau neraka secara fisik pula. Manusia akan dibangkitkan seperti apa adanya kini: terdiri atas daging, tulang, dan darah, yang di dalamnya ada ruh dan jiwa. Pokoknya manusia akan bangkit persis seperti kita saat ini. 

Mudah buat Allah membangkitan manusia mati sebagai makhluk hidup lagi. Kisah pemuda yang tidur selama 309 tahun di gua (QS Al-Kahfi: 25), atau lelaki yang diwafatkan 100 tahun lalu dihidupkan kembali (QS Al-Baqarah: 259), atau Nabi Ibrahim AS yang menyaksikan sendiri burung yang ia potong jadi empat bagian lalu hidup Kembali (QS Al-Baqarah: 260) adalah sebagian dalil betapa mudah Allah membangkitkan manusia seperti apa adanya kita saat ini. 

Jika masuk surga, kata kelompok pertama, manusia akan makan dan minum tanpa batas, lalu menikmati hubungan seksual dengan 70 tubuh perempuan berbeda. Sebaliknya jika masuk neraka, manusia akan dibakar, minum nanah, pokoknya fisik mereka disiksa habis-habisan. 

Tapi, pikiran seperti ini bukan tanpa pertanyaan kritis. Orang yang tak setuju dengan pikiran kelompok pertama akan bertanya, jika neraka adalah makhluk, apakah kini ia telah diciptakan? Jika neraka saat ini sudah diciptakan, bukankah ia jadi mubazir karena belum ada penghuninya? Apa yang dijaga oleh malaikat Malik kalau begitu? 

Pertanyaan serupa juga diajukan di seputar surga yang bersifat fisik. Jika surga adalah makhluk dan manusia dibangkitkan secara fisik, setara usia berapa setiap manusia dibangkitkan padahal saat wafat ia sudah jompo? Jika ia bergelimang 70 bidadari, ke mana istrinya di dunia yang dulu cenderung pencemburu dan cerewet itu? Jika penghuni surga makan dan minum, akankah mereka buang angin, kencing, juga buang air besar di surga? Jika mereka buang air dan pipis, bukankah di surga harus ada bermiliar-miliar WC karena mustahil penghuni surga buang air atau kencing sembarangan? Jika benar di surga ada bermiliar WC, bukankah aroma surga jadi tak sedap lagi dan itu mustahil karena surga dilukiskan penuh keindahan dan kenikmatan? 

Itu adalah gambaran kenikmatan surga buat kaum lelaki. Kenikmatan surga buat kaum perempuan lain lagi. Tentu bukan 70 bidadara kekar dan berotot yang bakal mengepung mereka di kamar, tapi ranjang-ranjang yang tinggi, gelas-gelas bergelantungan, bantal-bantal sandaran, juga permadani terhampar yang bakal mereka peroleh (QS Al-Ghaasyiyah: 13 – 16). Pokoknya semua perabotan rumah tangga yang selama ini mereka buru berjam-jam di pasar akan mereka dapatkan dengan mudah di surga. Lelaki mana yang mau berbuat baik di dunia dengan iming-iming bakal dapat bantal di surga? 

Semua pertanyaan kritis tentang surga dan neraka yang bersifat fisik itu tentu saja tak beroleh jawaban memuaskan. Alih-alih setuju dengan pandangan kelompok pertama, kelompok kedua berpendapat bahwa di Gurun Mahsyar, manusia hanya dibangkitkan dalam bentuk jiwa saja. Jiwa berbeda dengan ruh. Dalam Al-Quran, jiwa disebut ‘’al-nafs’’, sementara roh yang kita kenal saat ini oleh Al-Quran disebut ‘’al-ruh’’.

Jiwa adalah makhluk, namun ruh bukanlah makhluk. Ruh dalam Al-Quran disebut sebagai bagian dari Diri Allah yang ditiupkan kepada manusia (QS Al-Hijr: 29) dan bahkan kepada semua makhluk hidup di jagad raya ini. Ruh adalah prasyarat kehidupan semua organisme di alam mayapada ini, sedang jiwa adalah makhluk cerdas yang sedang menikmati dan mencerna pikiran saya dalam bentuk tulisan ini.
 
Karena manusia dibangkitkan dalam bentuk jiwa saja, kata pendapat kelompok kedua ini, mereka masuk surga dan neraka pun dalam bentuk jiwa saja. Ingat bahwa jiwa bukanlah makhluk biasa, melainkan makhluk super halus dan cerdas yang merekam semua memori kehidupan selama ia terjebak dalam tubuh manusia hidup. Makan buah-buahan, minum khamar, berhubungan seks dengan 70 bidadari buat kaum laki-laki atau mendapat tempat tidur, bantal, gelas, dan permadani yang terhampar buat kaum perempuan bukanlah objek riil, melainkan gambaran dan lukisan tentang kenikmatan dan keindahan tak terbatas tentang surga. Sedangkan deskripsi tentang kulit yang dibakar hidup-hidup, minum nanah, punggung disetrika, semuanya hanya lukisan tentang penderitaan sangat hebat yang bakal dialami jiwa yang masuk neraka. 

Mengapa oleh kelompok kedua informasi Al-Quran tentang surga dan neraka yang sangat verbal dan berbau fisik itu ditafsirkan hanya sebagai lukisan dan gambaran? Mereka menemukan jawabannya dari Allah sendiri yang menegaskan bahwa kehidupan di dunia ini bersifat maya atau "copy" dari kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Dalilnya ada dalam QS al-Ankabut ayat 64: 

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِ نَّ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ لَهِيَ الْحَـيَوَا نُ ۘ لَوْ كَا نُوْا يَعْلَمُوْنَ

"Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya sekiranya mereka mengetahui."

Pendapat ini mirip pandangan Plato tentang manusia yang tinggal di gua membawa obor. Di gua, manusia yang hidup di sana menganggap bayangan tubuh mereka di dinding gua sebagai kenyataan, padahal menurut orang yang terperosok jatuh ke luar gua, kenyataan sesungguhnya adalah apa yang tampak di luar gua: Matahari, awan, angin, pohon-pohon, dan seterusnya. Kehidupan gua adalah bayangan, copy, maya, kiasan belaka, sedang kehidupan di luar gua adalah ‘’hayawaan’’ (kehidupan sejati). Allah berfirman dalam QS Az-Zuhkruf ayat 71: "... di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh jiwa-jiwa ("al anfus") dan segala yang sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya."

Kelompok kedua ini tentu tidak sedang berkhayal ketika berpendapat bahwa apa yang dilukiskan Al-Quran tentang surga adalah gambaran tentang "keindahan tak terbatas" sementara penjelasan tentang neraka adalah lukisan tentang ‘’penderitaan tak terbatas’’ juga. Berbeda dengan kelompok pertama yang sangat berorientasi pada deskripsi fisik tentang surga dan neraka, kelompok kedua berpendapat keindahan dan kenikmatan surga tak akan pernah bisa dilukiskan oleh akal pikiran. Mereka merujuk pada hadits Rasulullah SAW yang menggambarkan surga sebagai: 

ما لا عين رات، ولا إذن سمعت، ولا خطر في قلب بشر

Surga adalah … "tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbayangkan oleh akal pikiran siapa pun."

Karena surga tak pernah bisa dibayangkan oleh siapa pun di dunia ini, maka wajar jika kelompok kedua meyakini bahwa surga sesungguhnya adalah Diri Allah SWT itu sendiri. Dia adalah puncak keindahan, puncak kenikmatan, puncak rasa, puncak segala-gala. Keindahan dan kenikmatan-Nya tak terbayangkan, seperti yang diisyaratkan Rasulullah SAW.  Bukankah Allah tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbayangkan oleh akal pikiran siapa pun? 

Tapi mengapa Al-Quran menggambarkan surga dan neraka begitu verbal dan mudah diraba? 

Tentu saja Al-Quran harus realistik ketika diturunkan ke muka Bumi ini. Mereka yang masuk Islam di awal dakwah Nabi SAW bukan saja orang-orang khawas semacam Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, atau Abu Dzar Al-Ghifari dan orang-orang sekeliber mereka, tapi banyak juga orang Badui padang pasir yang berwawasan sempit dan berdaya otak cetek. Al-Quran harus mengakomodasi pola pemikiran dan wawasan kedua kelompok ini. Buat para badui padang pasir itu, Al-Quran tak punya pilihan lain kecuali mengiming-imingi mereka dengan kesenangan fisik surga dan derita fisik neraka. Tanpa itu sangat mungkin mereka malah lari dari Islam. Sementara buat Abu Bakar dan para sahabat lainnya, juga untuk  kaum sufi dan "Ulul albab" yang selevel dengannya, surga bukanlah buah-buahan itu dan neraka bukan api itu, melainkan diizinkan atau dilarangnya jiwa melihat Wajah Allah.
 
Mana di antara dua pendapat itu yang paling benar. Tulisan ini tidak mengajak siapa pun untuk menjadi hakim atas objek yang kita semua belum pernah lihat. Ini hanya sebuah taushiyyah buat siapa pun, termasuk buat saya.
 
Dari gambaran Al Quran, kita hanya bisa menyimpulkan surga itu nikmat, neraka adalah derita. Teruslah berbuat baik di dunia ini karena perbuatan baik adalah syarat masuk surga. Jangan pernah berkhayal ingin jalan-jalan ke neraka biarpun di pinggir-pinggirnya. Tak ada bidadari atau gelas bergelantungan di sana. (*)

*) Helmi Hidayat, MA

Dosen UIN Syarif Hidatullah Jakarta

 

You may also like