Iu Rusliana
GENIAL.ID. Bila saja boleh meminta, tentu saja kita ingin lahir dari keluarga berkecukupan, orang tua punya jabatan atau minimalnya perusahaan. Tapi kelahiran adalah bagian dari takdir, dimana episode kehidupan mulai dicatatkan. Tak bisa kita memilih untuk lahir dari keluarga presiden, menteri atau pengusaha kaya raya. Menghindari lahir dari petani yang miskin atau nelayan pap. Kita terlahir dari keluarga, dimana ayah dan ibu juga keturunan asal muasalnya demikian adanya. Bersyukur, bahagia dan bersiaplah untuk taklukan dunia. 

Sebagai penanda, disematkanlah nama terbaik sebagai identitas Anda. Nama itu telah diberikan beberapa hari atau bahkan menjelang hari lahir kita oleh orang tua. Nama adalah doa, dimana kedua orang tua berharap yang terbaik untuk Anda. Apapun itu, terimalah dengan suka cita. Seperti penulis, yang karena nama ini, kerap disangka wanita, atau bahkan sebagian tak bisa mengeja, menjadi Lu, bukan Iu, mungkin karena tak biasa dengan nama-nama suku Sunda.  Dalam banyak tradisi, nama itu membawa keberuntungan (hoki) atau bahkan kesialan sehingga bila perlu diganti. Tapi sekali lagi, terimalah anugerah nama, karena sejatinya, pada panggilan tentang siapa dirimua itu, sebagian kasih sayang orang tua tercinta ada.

Apabila orang tua mendoakan sejak dalam kandungan, atau bahkan saat berharap diberikan amanah oleh Tuhan, mari meneruskan doa itu dengan segala ikhtiar terbaik mencapai raihan. Tujuan utama manusia adalah mengabdi dan menjadi pemakmur bumi miliknya Tuhan.  Itulah tujuan sejati, dimana manusia melakukan perjalanan yang tak lama, lalu akan kembali ke keabadian. Semua agama memahami konsep kehidupan yang hampir  sama, tentang kesementaraan dunia dan keabadian. 

Apabila tujuan telah ditentukan, tonggak capaian kehidupan hendaknya ditetapkan. Susunlah  tiap hari, minggu, bulan dan tahunan. Berusahalah konsisten dengan apa yang dicatatkan diri.  Mengalir dalam alur tujuan, mengarah dalam rencana dan keinginan. Sembari terus berjuang, bernegosiasi dengan keadaan. Tak merasa puas saat telah mencapai atau bahkan melampaui ingin diri. Tak merasa sedih, kalah atau terhina, saat banyak hal tak dapat diterima. 

Mari mengidentifikasi diri. Siapa aku dengan nama yang diberikan orang tuamu. Apa tujuan aku? Terjawab dengan peran manusia sebagai hamba Tuhan dan wakil yang bumi ini harus dimakmurkan. Apa yang harus dilakukan? Kerjakan apa yang mungkin, sesuai dengan kondisi yang ada dan tengah di jalani. Apabila Anda pelajar dan mahasiswa, maka belajarlah sepenuh hati dan tempa lah diri. Teruslah belajar, mendengar dan tak malu bertanya. Teruslah hebatkan diri dengan pengalaman. Tak usah hindari kehinaan diri, karena kita akan belajar arti kekuatan ruhani. Tak usah takut dengan kekalahan, karena kita akan belajar tentang bangkit dari kesakitan. Tak usah jumawa dikala berjaya, karena tak ada yang abadi, semuanya dipertukarkan dan keabadian hanya milik Tuhan. [***]

*** Oleh:  Iu Rusliana
Dosen Filsafat dan Manajemen Sumber Daya Manusia UIN Sunan Gunung Djati Bandung


You may also like