Iu Rusliana/Net
GENIAL.ID. Seperti halnya akan melakukan perjalanan jauh, bekal harus lebih dari cukup dipersiapkan. Bukan hanya harta tentunya, karena uang dan warisan sebanyak apapun, akan habis jika tak bisa mengelolanya. Paling penting kamu punya sikap mental, rencana yang baik, panduan nilai, pengetahuan dan keterampilan.

Sikap mental pembelajar adalah bekal pertama. Selalu mau belajar apapun, tentu yang baik dan bermanfaat. Terus mengembangkan diri, ulet, rendah hati dan mau mendengar kritik juga nasihat. Tidak mudah menyerah dan melakukan segala sesuatu dengan ringan tanpa beban karena sedang belajar untuk lebih baik. Selalu sanggup mengadaptasi perubahan tanpa kehilangan jati diri. Hidup dengan sederhana dan berbasis kebutuhan. Begitulah pembelajar menjalani hidupnya.

Sebaik-baiknya bekal adalah rencana yang baik dan detil. Sekaligus dipersiapkan rencana B, C dan D yang mungkin dipilih. Ini lah bekal kedua kamu. Rencana detil diperoleh melalui pengetahuan tentang peta rute yang akan dilalui. Peta rute tak harus dilalui oleh kamu, tapi oleh orang lain yang lebih dahulu melalui. Kamu tinggal mempelajarinya dan karenanya belajarlah dari pengalaman. Kalau kamu mau A, harus dipersiapkan apa saja untuk mencapai A. Pun demikian seterusnya, jangan sungkan bertanya kepada orang tua, guru, dosen atau teman, agar tidak sesat di jalan.

Bekal selanjutnya yang wajib diyakini adalah agama. Pemandu jalan agar sesuai perintah Tuhan. Ilmu agama menjadi penerang untuk pahala atau sebaliknya dosa. Petunjuk tentang keharusan menghindari kerusakan, menebar sebanyak mungkin kemanfaatan. Dalam agama kamu diajarkan untuk meminta segala hal pada-Nya. Bekal puncak dari segala ikhtiar terbaik manusia adalah doa.

Pengetahuan memberi kamu kompas sebab akibat dan kemana jalan yang harus ditempuh. Keterampilan membekali kamu kemampuan untuk bertahan, beradaptasi dan memenangkan keadaan. Hard skill dan soft skill harus terus ditempa agar semakin cukup kemampuan. Keterampilan komputer, big data, bergaul, berkomunikasi, menulis dan yang lainnya harus diasah.

Dunia kini sedang dirundung duka pandemi. Semakin panas dan krodit juga datar, begitu kata Friedman. Desa buana yang dilipat dan digenggam melalui telepon seluler masing-masing, begitu kata Yasraf Amir Piliang. Seperti yang diingatkan Neil Postman, ini era technopoly, dimana masyarakatnya tidak lagi sekedar menggunakan teknologi sebagai sistem pendukung, tetapi teknologi yang membentuk masyarakat. Era turbulensi yang bisa melempar siapapun menjadi manusia tawanan zaman.

Lima bekal di atas tak berat loh untuk dibawa. Sudah cukup untuk menguatkan kaki agar tidak oleng oleh perubahan yang berlari tiada henti. Selanjutnya, mari menari di antara disrupsi, dengan tetap memelihara jati diri sebagai orang Indonesia-warga global yang beragama, pembelajar, jujur, bermanfaat, rendah hati dan di bidang masing-masing berprestasi. Mungkinkah? Ayo siapkan bekal dan aku sih yakin kamu pasti bisa. [***]

Iu Rusliana

Dosen Filsafat Ilmu dan Manajemen Sumber Daya Manusia UIN Sunan Gunung Djati Bandung

You may also like