Ustadz Jalaluddin Rakhmat/Net
GENIAL. Dari kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, dalam sebuah meeting Senin sore, pikiranku terbang melintasi berbagai masa dan beragam suasana. Sebelumnya, sejumlah panggilan di telepon genggam tak terangkat. Memang sengaja di-silent. Perlahan kubuka satu demi persatu pesan whatsapp. Inna lillahi wa inna ilahi raaji'un, Ustadz JR meninggal dunia di Bandung.

Dua puluh empat tahun lalu, 1997, saya mengenal namanya Jalaluddin Rakhmat. Saat itu saya masih kelas dua Tsanawiyah di Pesantren Persatuan Islam 67 Benda. Tahun-tahun itu, saya merasa sedang giat-giatnya membaca. Dan di antara dua nama yang paling menyedot perhatianku adalah Emha Ainun Nadjib, dan kedua Jalaluddin Rakhmat.

Bila Emha memikatku dengan buku "Indonesia Bagian dari Desa Saya", maka Jalaluddin Rakhmat menarikku dengan Islam Aktual dan Islam Alternatif. Kadang, dari dua buku itu, saya jadikan bahan ceramah bila tiba-tiba dan mendadak diminta khutbah, bila ustadz utama terlambat datang.

Tak lama, di masa Aliyah, di perpustakaan Pesantren yang sama, saya menemukan jurnal. Berjilid-jilid. Nama jurnalnya, Al Hikmah. Ternyata diterbitkan oleh yayasan milik Jalaluddin Rakhmat: Yayasan Muthahhari. Di saat yang sama, hampir kubaca semua buku terbitan Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), terkait dengan aliran sesat dan aliran sempalan di Indonesia. Tapi, pencerahan dalam tulisan Jalaluddin Rakhmat--yang disebut sesat itu--jauh lebih memikat dari buku-buku LPPI.

Kemudian, di banyak forum di Ciputat, di kampus IAIN Jakarta, Jalaluddin Rakhmat sering tampil. Termasuk saat merespons kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) yang saat itu sedang marak. Dari forum ke forum itu, rasa-rasanya gagasan-gagasan Jalaluddin Rakhmat kian memikat. Buku-bukunya yang begitu lezat kulahap semua--pun demikian dengan buku-buku Cak Nun. Dan saat itu, saya mulai menyebutnya Kang Jalal. Hal ini ditambah pula dengan buku: Catatan Kang Jalal; Visi Media, Politik dan Pendidikan.

Kang Jalal ini makhluk apa. Demikian lama-lama pikiran saya diajak terbang. Fikri Yathir. Rasa-rasanya Kang Jalal ini ahli di semua bidang: agama, komunikasi, filsafat, tasawuf, sains--belakangan neurosains. Bicara apapun selalu menyedot perhatian. Makin lama, semakin ingin dekat. Maka di manapun di Jakarta bila Kang Jalal memberikan pencerahan, saya senantiasa datang.

Hingga Kang Jalal mengajar kursus hadits setiap hari Kamis di Pondok Indah, dan saya senantiasa hadir.  Dan saya sendiri tetap Muhammadiyah--yang dulu pernah menjadi jalan dakwah Kang Jalal. Kang Jalal sendiri sosok yang sangat terbuka, baik hati dan begitu ramah. Kang Jalal, sebenar-benarnya ulama, sebenar-benarnya cendekiawan.

Sejak saat itu, saya tak lagi memanggil Kang Jalal, tapi Ustadz Jalal. Saya merasa Ustadz Jalal tak mengenal saya. Hingga bertahun-tahun tak lagi jumpa. Sampai suatu ketika, kami bertemu di sebuah acara di kediaman Duta Besar Iran di Jalan Madiun, Menteng, persis belakang Masjid Sunda Kelapa. Saya mencoba menyapa, dan Ustadz Jalal ternyata kenal saya. Itulah pertama kali--dan menjadi satu-satunya momentum--saya berfoto dengan ustadz Jalal.

Di awal tahun 2018, ditemani seorang teman, saya berkunjung ke rumah dinas Ustadz Jalal di Komplek DPR/MPR, kalibata. Ditemani air putih, sambutan Ustadz Jalal sangat hangat. Kami berbincang sekitar tiga jam. Membicarakan banyak hal, termasuk soal Persatuan Islam (Persis) dan Muhammadiyah--yang beliau apresiasi. Kang Jalal sendiri memberi pengantar untuk buku Ketua Umum Persis KH A. Latief Muchtar: Gerakan Kembali ke Islam. Tak lama, saya kembali ke rumah Ustadz Jalal, mengantar seorang teman.

Pada Agustus 2018, saya datang kembali ke rumahnya. Mau mengucapkan ulang tahun. Di dalam rumah, sudah ada dua senior lain di Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), sayap PDI Perjuangan. Dua orang. Tak lebih dari 10 orang--bersama staf ahli ustadz Jalal--kami makan tumpeng bersama. Merayakan kebahagian kecil-kecilan. Dan itu ternyata, pertemuan kami secara langsung yang terakhir. Inna lillahi wa Inna ilahi raajiun....

Selamat terbang Ustadz JR dengan penuh ketenangan, menemui sang kekasih dengan nyaman-tenteram dan penuh keridhaan...[***]

Yayan Sopyani Al Hadi

You may also like