Sumber Foto: Wikimedia
GENIAL.ID - Diego Armando Maradona baru saja berpulang pekan kemarin. Berbagai pemberitaan dan ucapan belasungkawa masih mengalir deras dari seantero dunia hingga saat ini. Karangan bunga masih terus dikirim dan memenuhi sekitar rumahnya di kawasan Tigre, Buenos Aires, Argentina.

Berbagai kenangan tentang Maradona juga masih terus ditampilkan media dan para fansnya melalui sosial media. Momen-momen puncak saat membela negaranya Argentina, terutama saat ia dan tim nasional memenangkan World Cup'86, silih berganti tampil di linimasa berbagai media cetak dan elektronik.

World Cup'86 yang berlangsung sepanjang 31 Mei hingga 29 Juni itu adalah turnamen penahbisan bagi Maradona. Aksinya bersama tim nasional Argentina berhasil mengantarkan tim berjuluk albiceleste itu meraih gelar juara dunia untuk kedua kali, setelah sebelumnya meraih gelar serupa dalam perhelatan World Cup'78 ketika negara ini ditunjuk sebagai tuan rumah.

Maradona terpilih sebagai pemain terbaik dalam World Cup'86 ini. Ia juga nyaris menjadi pencetak gol terbanyak dengan 5 gol yang disarangkannya ke gawang lawan, dengan hanya berjarak satu gol saja dengan raihan Gary Lineker dari Inggris (6 gol), yang kemudian menjadi top scorer turnamen.

Walau gagal menjadi top scorer, namun gol-gol Maradona dalam World Cup'86 itu dianggap sebagai gol-gol yang tak hanya terbaik sepanjang turnamen, namun juga bernilai bagi reputasinya sebagai salah seorang pesepakbola terbaik sepanjang masa. Baik karena prosesnya yang brilian, pentingnya gol yang ia cetak dalam mengangkat performa tim, dan juga kontroversi di balik gol yang diciptakannya.

Berikut ulasan singkat tentang gol-gol yang dicetak Maradona dalam perhelatan 4 tahunan yang digelar pada musim panas 1986 itu.

Gol Yang Memupus Trauma Maradona

Maradona mencetak gol pertamanya dalam World Cup'86 saat Argentina berhadapan dengan Italia.  Dibayangi pengalaman buruk dalam gelaran World Cup'82 di Spanyol, saat Maradona mengalami intimidasi bek Italia, Claudio Gentile, Argentina berhasil menahan sang juara bertahan dengan skor 1-1.

Italia nyaris mempermalukan Argentina, dengan lebih dulu memimpin lewat gol penalti Alessandro Altobelli pada menit ke 7. Setelah itu, pasukan azzuri membentuk blokade, berusaha meredam pergerakan Maradona yang tampak berbahaya setiap ia menguasai bola.

Bek-bek Italia mengulang cara bertahan yang serupa, dengan harapan Maradona kembali terpancing kehilangan konsentrasi, seperti saat mereka berhadapan 4 tahun sebelumnya.

Ujian berhasil dilewati Maradona pada menit ke-36, ketika akhirnya membobol gawang Italia. Histeriapun terjadi di stadion Cuauhtemoc, kota Puebla, Mexico, saat itu.

Berawal dari umpan Jorge Valdano ke daerah sebelah kanan Italia, Maradona menyambutnya dengan tendangan volley yang terukur ke sudut kiri gawang. Dengan cermat ia meloncat menerkam bola. Lolos dari kawalan Pietro Vierchowood, bek Italia yang lebih tinggi dan berpengalaman menjinakkannya ketika World Cup'82.

Meski pertandingan berakhir seri, optimisme menjulang di kalangan pendukung dan tim nasional Argentina. Penyebabnya, mereka menyaksikan sendiri bagaimana kematangan emosi Maradona yang sebelumnya diragukan,  mengingat pengalaman traumatis sebelumnya ketika bertemu dengan tim nasional Italia yang kental dengan permainan keras dan cattenaccio-nya.

Bagi Italia, pertandingan ini membuat tifosi semakin meragu, setelah sebelumnya juga bermain seri 1-1 dengan Bulgaria di partai pembuka. Sempat lolos ke 16 besar, Italia akhirnya betul-betul gagal mempertahankan gelar juara, setelah tumbang di tangan tim Ayam Jago, Prancis, yang saat itu dimotori gelandang kharismatis, Michael Platini.

Gol "Tangan Tuhan"

Maradona mencetak gol keduanya saat Argentina bertemu Inggris pada 8 besar World Cup'86. Duel yang digelar di Stadion Azteca, Mexico City, itu, sudah panas sejak kedua tim memastikan diri lolos dan bertemu di perempat final. Media-media lokal dan internasional mengaitkan pertandingan ini, dengan konfrontasi kedua negara dalam Perang Malvinas pada tahun 1982.

Sebelum pertandingan terjadi bentrok antara hooligans, julukan suporter Inggris, dengan barrabravas, julukan kelompok suporter garis keras Argentina.

Pertandingan berlangsung ketat sejak peluit kick off ditiup wasit asal Tunisia, Ali Bin Nasser. Saling serang sepanjang babak pertama, baik albiceleste maupun three lions, demikian julukan tim nasional Inggris, sama-sama gagal menyarangkan gol.

Argentina langsung menggebrak ketika peluit kick off  babak kedua ditiup. Serangan sporadis Argentina membuat kemelut di sekitar kotak penalti pada menit ke 6.

Maradona menerobos dari sayap kiri dan melakukan operan rendah diagonal ke tepi area penalti kepada rekan setimnya, Jorge Valdano, dan melanjutkan larinya dengan harapan mendapatkan umpan satu-dua.

Steve Hodge, mencoba menghalau bola namun bola malah masuk ke area penalti Inggris, ke arah Maradona, yang menyongsong bola. Kiper Inggris, Peter Shilton, berusaha meninju bola, namun lompatan Maradona lebih cepat menjemput bola tersebut. Bolapun melambung masuk ke dalam gawang Inggris.

Para pemain Inggris langsung memprotes keputusan wasit Ali Bin Nasser yang mensahkan gol berbau hands ball itu, setelah sejenak menunggu aba-aba penjaga garis, namun tak mendapatkan isyarat apapun.

Pada konferensi pers pasca pertandingan, Maradona dengan canda khasnya mengatakan, "Saya mencetak gol itu dengan sedikit kepala Maradona, dan sedikit dengan tangan Tuhan."

Gol Abad Ini

Gol ke-3 Maradona dalam World Cup'86 berselang tiga menit dari gol "Tangan Tuhan" yang kontroversial itu. Gol ini terjadi salah satunya karena pemain-pemain Inggris tampak belum berkonsentrasi penuh, akibat masih merasa terpukul atas terjadinya gol pertama Maradona.

Gol ke-3 ini disebut-sebut oleh media dan pengamat bola sebagai "Goals Of The Century" (gol abad ini).  Menggiring bola dari daerah kanan tim sendiri, Maradona berhasil melewati 5 pemain Inggris, termasuk kiper Peter Shilton, sebelum menyarangkan bola ke pojok kanan gawang.

Pemain-pemain Inggris yang dilewati Maradona itu bukanlah para pemain semenjana. Ada nama besar Peter Beardsley, Peter Reid, Terry Fenwick, dan Terry Butcher, bek legendaris Inggris yang bermain dalam 3 perhelatan World Cup dengan 77 caps untuk three lions.

Momen terjadinya gol ini bertambah dramatis, dilatari live commentary a la Amerika Latin jurnalis Spanyol, Victor Hugo Morales, yang ikut histeris menyaksikan proses gol spektakuler tersebut. "....Diegoal, Diegoal, Diego Armando Maradona ! Terima kasih Tuhan ! Terima kasih, Maradona, terima kasih untuk air mata (kegembiraan) ini..."jerit Victor dalam komentar siaran langsung yang disaksikan seluruh dunia itu.

Gol Presisi Kontra Belgia

Masih berlangsung di Stadion Azteca, Mexico City, Maradona kembali menjadi penentu pada semifinal kontra Belgia, yang saat itu diperkuat oleh kiper terbaik dunia, Jean Marie Pfaff, bek kanan kharismatik, Eric Gerets, dan pemain terbaik Belgia sepanjang masa, Enzo Scifo.

Dua gol Maradona di semifinal ini membawa Argentina melaju ke babak final versus Jerman. Selain lahir dari skema atau skenario khas Maradona, yang mengandalkan kecepatan, dribbling dan akurasi, gol yang bersarang di dua sudut berbeda itu menghasilkan presisi yang mengagumkan.

Selesai pertandingan, para komentator dan pengamat bola membahas proses terjadinya gol-gol tersebut secara detil. Setelah mengamati skema, dan menarik garis lurus antara sudut Maradona mengeksekusi bola dan sudut bersarangnya kedua gol yang berbeda itu, gol-gol itu ternyata membentuk segitiga presisi.

Kolumnis bola, Dan Williamson, membahas terjadinya kedua gol Maradona ke gawang Pfaff itu secara detil dalam kolom Virtuoso, majalah These Football Times. Dan menyebut momen terjadinya gol-gol tersebut sebagai, "The Incomparable Show of Individual Brilliance".

**

Itulah kisah dibalik gol-gol yang dicetak Maradona pada perhelatan World Cup'86. Gol-gol yang tak terlupakan, terutama bagi para saksi mata yang menyaksikan langsung di arena, atau melalui siaran langsung televisi pada tahun tersebut.

Secara keseluruhan, Maradona telah mencetak 259 gol saat ia berkarir di tingkat klub. Ia juga telah mencetak 34 gol bagi tim nasional Argentina, dalam 91 caps bersama albiceleste.  Dari gol-gol yang dicetaknya dalam rentang karir tersebut, 5 golnya dalam World Cup'86 itulah yang dianggap sebagai gol yang layak menahbiskannya sebagai maestro.

Gol-gol itu tak hanya merangkum talenta dan skill Maradona semata. Gol-gol itu seperti merangkum sisi kehidupan sang bintang sendiri. Yang tak hanya diwarnai oleh pencapaian-pencapaian spektakuler, performa-performa brilian, kualitas seorang jenius dan permainan yang artistik. Diantara gol itu juga ada gol "Tangan Tuhan", yang seakan manifestasi dari sisi kehidupannya yang lain, yang juga sering diliputi kontroversi.

Untuk gol-gol itulah, sebagaimana Victor Hugo Morales dalam live commentary-nya ketika "Goal of The Century" terjadi, publik sepakbola hendaknya melepas kepergiannya dengan mengucap, "Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, sepakbola. Terima kasih, Maradona." [**]

 

**Oleh:  A Eddy Adriansyah
Penulis adalah pembelajar dan keluarga besar Pesantren PERSIS 110 Manba'ul Huda. Tinggal di Portsmouth, Inggris.


You may also like