Genial - Jumat pagi ba'da subuh (20/03), Imam Jami Mosque Portsmouth secara informal berbincang kepada jamaah masjid Jami, "Mungkin kita besok-besok bakal shalat di rumah masing-masing dulu, sampai pemberitahuan selanjutnya dari pemerintah. Minimal, supaya jemaat Gereja Immanuelle tetangga kita tenang, tidak ada yang kumpul-kumpul."

Ternyata, pagi hari itu, di Gereja Immanuelle, Pendeta Kepala bilang kepada beberapa jemaatnya, "Ibadah sore nanti kita berdoa di rumah masing-masing dulu, supaya tetangga kita jamaah masjid jami, tidak was-was kita berkumpul." Begitu kata tetangga saya, jemaat Gereja Immanuelle.

Kok kompak ya. Padahal, mereka ini, tidak janjian. Belum saling bertemu, pasca himbauan pemerintah UK, supaya "Mass Prayer" bagi seluruh umat beragama ditiadakan sementara, demi pencegahan Pandemik Coronavirus.

***

Ibadah bersama diantara berbagai umat beragama di UK ditiadakan dulu untuk sementara. Dan Masjid Jami, masjid terbesar di kota Portsmouth dan salahsatu masjid terbesar di bagian Inggris selatan, sepakat mengikutinya. Demikian pernyataan resmi Ustadz Nazim Ahmed kepada jamaah shalat Jumat (20/3), yang dikutip juga oleh media lokal The News.

Saat pengumuman Jumatan dan Shalat Berjamaah ditiadakan untuk sementara, seorang Kakek asal Afghanistan menangis, begitu juga seorang Kakek dari Irak. Membuat saya yang sempat nyaris terlelap jadi terjaga lagi.

Mereka ini konon sudah puluhan tahun tidak lepas dari shalat berjamaah di Masjid, yang didirikan dengan susah-payah oleh para asylum seeker, korban perang, pelajar, dan penguasaha muslim di Kota Portsmouth. 

Masjid sudah seperti pengganti kampung halaman yang hilang, karena penjajahan atau perang saudara, untuk mereka. 

Jangankan untuk mereka, saya saja gembiranya luar biasa, waktu tahu istri saya berhasil menemukan rumah yang bagus dan masuk budget sewa, yang hanya butuh waktu 5 menit jalan kaki untuk mencapai masjid. Masjid segera menjadi rumah kedua bagi keluarga kami.

Jadi saya bisa merasakan, bagaimana sedihnya Kakek Afghan dan Kakek Irak itu.

***

Masjid Jami kami bersebelahan dengan Gereja Immanuelle. Setiap tiba hari Natal, setahu saya Imam kami tidak mengucapkan Selamat Natal, tapi dia membawa rombongan pengantar bingkisan dan aneka makanan istimewa, yang kemudian dinikmati dengan sukacita oleh jemaat Gereja, terutama kalangan Veteran dan elderly yang hidup pas-pasan, sebagai hadiah. "We are family..." kata Imam Masjid Jami, waktu Pendeta Kepala Immanuelle mengucapkan terimakasih.

Sebagian umat Nasrani atau umat beragama lain, kalau lebaran juga suka menghampiri umat muslim. Mereka menyalami kami dan beberapa diantara mereka membagi-bagikan coklat, kue dan permen, yang disambut girang terutama oleh anak-anak. Saya sempat diberi bingkisan kue baklava. Itulah kue baklava saya yang pertama dalam hidup. 

Jikalau ifthar, pihak masjid juga suka mengajak umat Nasrani,Sikh, Hindu, dan kalangan masyarakat lain, seperti senator misalnya. Semuanya dijamu di ruangan masjid. Dan entah mengapa, kalau ada pertemuan interfaith (lintas agama), umat beragama lain lebih senang diadakan di masjid. Enak bisa selonjoran, kata salah satu diantara mereka.

***

Shalat jumat dan shalat berjamaah lainnya untuk sementara libur dulu, atas himbauan Muslim Council British, yang berpedoman pada anjuran Deputi Menteri Kesehatan Inggris. Sekretaris Masjid Jami Portsmouth, Ustadz Nazim Ahmed, setelah menyampaikan himbauan itu menambahkan,

"Kami berharap semua orang tetap ada dalam keadaan sehat dan aman, serta turut mendengarkan dan mematuhi saran yang diberikan oleh pemerintah, karena sangat penting bagi kita bekerja sama, untuk melewati waktu yang sangat sulit dan penuh ujian ini."

Walaupun menangis, kakek Irak, kakek Afghan dan semua jamaah ikhlas menerima keputusan untuk kebaikan bersama itu. Beberapa jamaah muda juga tampak saling menghibur, saling menguatkan, saling memotivasi jamaah lainnya untukterus mendoakan umat dan keselamatan semua, terutama dalam shalat dan tahajud-tahajud di rumah.

Menyaksikan pemandangan itu saya terharu dan gembira. Sekali lagi Allah menjawab doa saya sebelum merantau, rabbi anzilnii munzalan mubarakan wa anta khayrul munziliin. Mohon dikaruniai kota yang Engkau berkahi, yaa Allah. 

Respect itu ternyata, apalagi jika melibatkan mereka yang berbeda etnik, negara dan agama, rasanya bagaikan air zamzam sejuk yang diteguk selesai thawaf. Masya Allah. Menyegarkan tubuh dan hati.

Ekspresi para jamaah masjid itu, saya jelaskan kepada anak saya, adalah ekspresi kecintaan kepada Allah dan masjid yang sesungguhnya. Mencintai Allah Yang Maha Lembut. "Mudah-mudahan kita dikaruniai hati yang lembut dan badan yang sehat..." ucap saya, sambil memandang burung-burung camar terbang di atas langit cerah kota Portsmouth.

"See you soon at Ramadhan, mylovely mosque... Insya Allah," bisik saya dalam hati.*

*A Eddy Adriansyah
Pegiat Tajdid Institute dan bekerja pada Elite Care Service Southern United Kingdom, tinggal di Portsmouth.

You may also like