Ilustrasi dari Film Tjokroaminoto/NET
GENIAL. ID. Tanggal 16 Oktober merupakan tanggal berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi. Tahunnya tahun 1905. SDI merupakan organisasi yang pertama kali lahir di Indonesia, atau Hindia Belanda.

SDI merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang politik Belanda. Selain itu, SDI juga bertujuan untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim, khususnya pedagang batik.

Bagi KH Samanhudi, perhimpunan ini penting sebab penguasa Hindia Belanda menjalankan kebijakan sistemik dan tidak memperlakukan pedagang pribumi secara adil. Dengan mendirikan SDI, KH Samanhudi mau pedagang pribumi yang mayoritas muslim dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar lainnya.

Hal menarik lain dari kehadiran SDI adalah keanggotan yang sangat terbuka, dan bukan hanya semata untuk suku tertentu. 

KH Samanhudi sendiri lahir di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah pada 1868. Nama kecilnya adalah Sudarno Nadi. Saat muda ia belajar ke pesantren KM Sayuthy di Ciawigebang, pesantren KH Abdur Rozak di Cipancur, pesantren Sarajaya di Cirebon, pesantren Ciwaringin Cirebon dan juga nyantri ke KH Zaenal Musthofa di Tasikmalaya.

Pada tahun 1912, di bawah kepemimpinan  Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI). Pada tahun 1917, Tjokroaminoto menjadi anggota Volksraad atau Dewan Perwakilan Rakyat yang dibentuk pada tanggal 16 Desember 1916 oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Tjokroaminoto, yang dikenal sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota ini, kemudian menjadi guru bagi para pemimpin-pemimpin besar di Indonesia. Rumah orang Indonesia yang menolak tunduk pada Belanda ini menjadi tempat kost untuk menimba ilmu padanya. 

Di antara santri Tjokroaminoto itu adalah Soekarno, Semaoen, Alimin, Muso, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dan bahkan Tan Malaka. [pmu]

You may also like