Genial - Sebelumnya, nyaris tak ada orang UK, yang pernah saya temui, yang tahu di mana letak Indonesia. Beberapa diantaranya malah tidak mengira itu sebuah nama negara. Indonesia betul-betul bukan negara yang beken di kalangan british. Mick Jagger dulu sempat bertanya-tanya, "Dimana sih Indonesia itu, guys?", saat dia ditawari konser tunggal di Jakarta pada medio 90an. 

Pengetahuan rata-rata orang british tentang Indonesia, masih sama dengan pengetahuan Mick Jagger sebelum konser di Jakarta. Baru manggut-manggut ketika kita jelaskan, Indonesia adalah sebuah negara kepulauan di dekat Pulau Bali. Ya, bagi british people, Bali Island bukan sekadar populer. Kalau sudah punya boyfriend, girlfriend atau baru menikah, cita-cita terbesar british adalah bulan madu di Pulau Bali. Bukan di Indonesia, hahaha.

Namun itu semua sepertinya akan jadi cerita lama dari tahun 2019 ke belakang. Memasuki tahun 2020, saya khawatir nama Indonesia mendadak jadi dikenal di seantero Inggris Raya. Karena atlet bulutangkis kita menyabet gelar juara di All England? Bukan. All England belum lagi digelar. Nama Indonesia bisa jadi dikenal luas, setelah hakim di Manchester menuntut vonis 30 tahun penjara, untuk seorang Warga Negara Indonesia bernama Reynhard Sinaga.

Tumbuh Jadi Monster Di Tengah Komunitas Sendiri

Kejahatan Reynhard ini bukan main-main dalam sejarah kriminal UK. Mahasiswa doktoral ini sampai dijuluki "Britain’s most prolific rapist” oleh surat kabar ternama Inggris, The Guardian. Jumlah korbannya fantastis, 195 orang laki-laki. Metode kejahatannya pun membuat publik Inggris bergidik. Reynhard membius korbannya sebelum melakukan tindakan bejatnya, lalu mengabadikan adegan itu ke dalam format DVD. Korban-korban itu mengalami penderitaan psikis yang luar biasa. Merasa jijik pada diri sendiri. Bahkan beberapa diantaranya sampai melarikan diri dari rumah, hingga ada yang berusaha bunuh diri.

Kawan-kawan atau koleganya di Manchester sungguh tidak percaya jika Reynhard ternyata adalah seorang predator seks yang buas. Reputasi pria ini bagi salah seorang kenalan wanitanya adalah, bak Peter Pan, karena wajah dan penampilannya dianggap sangat polos, sopan, dan lebih muda dari usia aslinya. 

Di Manchester, pria yang berasal dari keluarga yang makmur di Indonesia ini tinggal di dekat sebuah kawasan yang dikenal sebagai, "Gay Village".  Lokasi Gay Village ini terletak di selatan Chinatown, kota Manchester. Tepatnya di sepanjang jalan Canal Street. Tempat ini memiliki sejarah sosial yang panjang, sebagai tempat yang mengantarkan kota Manchester menjadi salah satu kota ramah gay di dunia. Gay Village ini memiliki bar, klub malam, restoran, dan kawasan hijau yang kerap ramai dikunjungi komunitas LGBT. Dalam situs promosi wisata kota Manchester, Visit Manchester, tempat ini cocok dikunjungi saat musim panas. Tempat yang sempurna untuk merayakan hari dengan "Alfresco" (istilah makan bersama orang british), dan meneguk anggur atau bir dibawah langit terbuka dan udara yang bersih.

Tinggal di kawasan wisata dan komunitas yang tenang dan aman bagi kaum gay, Reynhard justru tumbuh menjadi sesosok monster. Kok bisa ya sosok yang berasal dari keluarga makmur, berpendidikan, bahkan dilansir dari surat kabar Daily Mail, juga rajin ke gereja, bisa melakukan perbuatan yang keji ini hingga berulang-ulang. Apa yang membuat Reynhard sampai bisa melakukan perbuatan itu ? Justru di tempat yang bagi seorang gay seperti dirinya, sama sekali tidak ada diskriminasi atau pemarjinalan. Seharusnya, Reynhard baik-baik saja menikmati kehidupannya sebagai bagian dari komunitas LGBT yang damai. Begitu logikanya. 

Proses Menjadi Psikopat

Jika menilik pada metode dan jumlah korbannya, Reynhard ini sudah tergolong seorang psikopat. Dr. Michael First, psikiater dari Columbia University, mengatakan bahwa psikopat pada awalnya adalah seseorang yang tidak merasa khawatir, ketika perilakunya secara psikis ataupun fisik, menyakiti dan menimbulkan kerugian besar pada orang lain. Perilaku ini yang kemudian berkembang menjadi lebih jauh. Makin banyak jumlah korbannya, makin meningkat kerusakan yang dialami korban, maka makin tinggi juga tingkat kepuasan seorang psikopat.

Proses seorang menjadi psikopat, menurut Profesor Essi Viding bisa berlangsung sejak masih kanak-kanak. Anak-anak dengan sifat kurang empati, tidak pernah merasa bersalah, atau kerap menunjukkan emosi yang dingin, memiliki resiko menjadi seorang psikopat ketika dewasa. Penyebabnya sendiri tidak ada yang betul-betul tahu persis, demikian dilansir dalam situs resmi Ciputra Hospital. Namun kuat dugaan, pengalaman dari fase awal kehidupan, bisa meningkatkan resiko seseorang menjadi psikopat. "Pola asuh yang buruk, pola asuh yang berfokus pada hukuman (bukan hadiah) dan pola asuh yang tidak konsisten tampaknya menjadi sebab dari munculnya sifat psikopat," tulis official website Ciputra Hospital.

Apakah pola yang dialami Reynhard Sinaga identik dengan faktor penyebab yang dipaparkan oleh para ahli dan lembaga kesehatan resmi tersebut? Saya tentu tidak berani menyimpulkan demikian. Bisa saja proses yang dialami Reynhard ini berbeda dari rata-rata kasus, yang melibatkan seorang psikopat. Butuh riset lebih dalam dan kesediaan pihak-pihak terkait untuk mendapatkan konklusi yang tepat.

Refleksi Untuk UK

Seketika, peristiwa ini menjadi peringatan dan refleksi tersendiri bagi UK, sebagai locus dimana kejadian berlangsung. Dari opini yang berkembang di media-media UK, dan dari opini yang berkembang diantara warganya, mereka merasa perlu mengulang dan meningkatkan sosialisasi tentang masalah keamanan bagi warga, sebagai langkah preventif agar peristiwa serupa tak terulang lagi di masa mendatang. 

Warga yang beresiko tinggi mengalami tindak kriminal, seperti mereka yang kerap pulang larut malam, bekerja dengan mengambil shift malam hari, hingga mereka yang suka party dan minum-minum (Saya lihat begitu membudaya di kalangan anak muda di UK), harus kembali diingatkan ulang tentang tahapan-tahapan self safety yang sebetulnya sudah tertulis dalam S.O.P negara. 

Perilaku semacam Reynhard ini ternyata selain lahir secara alamiah dari dorongan psikisnya, juga terjadi karena ada celah kelemahan yang dia manfaatkan, dari para warga beresiko tinggi itu. Dalam aksi bejatnya tersebut, Reynhard jelas memanfaatkan kebiasaan anak-anak muda di kota Manchester, yang kadang secara spontan begitu saja menerima tawaran minuman gratis, menuruti ajakan ikut ke pesta atau kumpulan, yang bahkan belum pernah mereka datangi sebelumnya.

UK juga tampaknya menyadari betul bahwasanya, korban-korban Reynhard memerlukan penanganan lebih lanjut, agar pulih secara fisik dan psikis, untuk kembali terjun ke kehidupan normal seperti sediakala. Pemerintah UK juga mengkhawatirkan akan adanya korban-korban Reynhard yang belum terdeteksi atau enggan melaporkan diri, sehingga mereka membuka hotline untuk pengaduan yang diwartakan secara massal di media-media UK. Pertimbangan mereka dalam jangka pendek adalah penyembuhan, pertimbangan jangka panjang mereka adalah untuk mencegah perkembangan traumatik para korban ke arah lebih buruk, seperti upaya bunuh diri, atau justru tumbuh menjadi predator seksual baru. Ya, dalam banyak kasus yang pernah saya simak, korban kejahatan berpotensi menjadi pelaku kejahatan baru, jika tidak ditangani dengan baik secara fisik maupun psikis. 

Refleksi Untuk Indonesia

Haruskah Indonesia berefleksi atas kejadian ini? Refleksi apa yang sebaiknya dilakukan oleh Indonesia, sebagai negara asal pemuda yang kini dijuluki "Evil Sexual Predator" oleh perusahaan media paling tua di UK, BBC, ini ? 

Walaupun peristiwa Reynhard ini terjadi di UK, dan Reynhard sendiri sudah lebih 10 tahun berada di negara itu, namun Indonesia sebagai negara asal perlu diingatkan untuk sekali lagi meninjau strategi pendidikan terutama pola parenting, yang kelihatannya menjadi faktor umum yang disepakati para ahli, punya keterkaitan erat dengan peristiwa-peristiwa kejahatan yang dilakukan seseorang ketika dia telah dewasa.

Parenting di negeri kita memiliki tantangan berat di era digital ini. Isu ketergantungan gadget pada masyarakat menumbuhkan sub-perilaku dimana orangtua lebih intens berselancar di dunia maya daripada berkomunikasi dengan anak, yang dibalas dengan sub-perilaku serupa oleh sang anak. Hal ini sekilas tampak kecil. Tapi jika berlangsung terus-menerus, hal ini bisa menumbuhkan kebiasaan, lalu perasaan addict, yang berujung pada perilaku tak empatik dan ketidak-terampilan dalam berkomunikasi dan berekspresi secara alamiah di dunia nyata. 

Bayangkan, jika anak kita mengalami proses tersebut, kemudian kelak harus jauh dari kita, entah bekerja di luar kota atau belajar di luar negeri, sebagaimana Reynhard. Awalnya kita akan memandang, toh kecanduan internet pun bisa sekolah di luar negeri. Tapi yang saya alami, hidup di perantauan, khususnya UK, kalau orang tua tidak melatih kemandirian, cara bersosialisasi dan cara berempati, maka para pelajar atau perantau itu hanya akan tumbuh sebagai pribadi-pribadi yang kesepian. 

Orang yang kesepian, hal pertama yang akan dilakukannya adalah mencari perhatian. Jika dia yang dihampiri kesepian itu adalah sosok yang tumbuh dalam keluarga yang hangat dan jujur komunikasinya, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang empatik, atau memberlakukan reward atas pencapaian positif sekecil apapun, maka ia akan mendistraksi kesepiannya dengan mudah melalui kegiatan-kegiatan atau hobi yang positif di perantauan.

Namun jika orang yang dihampiri kesepian itu tumbuh dalam keluarga yang kurang hangat dan kurang jujur dalam komunikasi, tumbuh dalam lingkungan tanpa empati, dibebani dengan beban mental dan spiritual yang diluar kondisi dan kemampuannya, maka ia bisa jadi akan sulit mendistraksi rasa sepi itu, atau tersesat ke arah penyaluran yang negatif. Benih dan bakat psikopat itu akan berkembang cepat dan liar, apalagi jauh dari pengawasan keluarga atau dengan sedikit orang yang ia kenali akrab di perantauan.

Pesan Untuk Keluarga Para Perantau

Hidup di negeri orang memerlukan banyak adaptasi bagi para perantau. Bahasa, kultur, makanan, prosedur belajar dan bekerja, semuanya memerlukan adaptasi. Bahkan untuk mereka yang sudah terampil berbahasa Inggris sekalipun. 

Setelah kita beradaptasi dengan hal-hal tersebut, kadang kala tantangan berikutnya adalah home sickdan paling parah, perasaan teralienasi. Bagi mereka yang pergi merantau bersama keluarga, perasaan itu bisa diminimalisir dan mudah didistraksi. Tapi bagi perantau yang datang untuk belajar atau bekerja sendirian di negeri orang, dibutuhkan effort lebih untuk sekadar melepaskan perasaan tersebut. 

Saya kira, apa yang dirasakan oleh perantau seperti Ryenhard juga pada mulanya adalah sebentuk homesick, yang lalu berkembang kearah perasaan kesepian, yang berkembang lagi ke arah perasaan teralienasi. 

Ah, masa kesepian, kan dia punya duit, berasal dari keluarga berada, tinggal di negara maju pula!

Mungkin begitu pandangan orang di tanah air, khususnya mereka yang belum pernah mengalami ada di posisi diaspora. Realita yang saya saksikan, merantau ke luar negeri dengan menjadi pekerja atau pelajar itu, bukan perkara materiil saja. Banyak sisi non-materiil yang memerlukan support dari orang-orang, terutama dari keluarga atau kenalan dekat di tanah air.

Hampir semua perantau di UK ini, setidaknya yang pernah berjumpa dengan saya, mengharapkan hal tersebut. Saya hanya menebak, Reynhard juga pada awalnya hanya mengharapkan support seperti itu. Ia ingin dianggap dan diperhatikan sebagaimana biasa, ketika ia berada di tengah-tengah keluarga atau kawan-kawannya di tanah air, saat kesepian menghampirinya. Perhatian sewajarnya saja yang dia perlukan. Sebagaimana kita mengungkapkan perhatian rutin pada anak atau kolega yang sedang belajar, yang menyandang belajar dan memerlukan support, walaupun hanya lima menit bercanda lewat sosial media, atau video call, misalnya.

Saya juga awalnya pernah merasakan kesepian, atau lebih tepatnya kejenuhan, saat berkegiatan di tanah rantau. Bekerja dengan target diantara orang-orang yang berasal dari berbagai etnik, tak hanya british saja, kadang menimbulkan pressure juga terhadap fisik dan mental. Tapi saya beruntung, sebab saya tak sendiri, karena saya merantau bersama dengan anak dan istri. Distraksi dari perjuangan hidup dalam belajar dan bekerja itu relatif mudah bagi saya, karena didampingi orang-orang terdekat. Kalau ada kesulitan, ketidak-enakan, tinggal diskusi dengan anak-istri. Kalau kangen dengan handai-taulan, tinggal telepon. Jika mereka yang di tanah air sulit menerima telepon, mudah saja, tinggal balik lagi ngobrol dengan anak-istri. Self healing lebih mudah bagi perantau yang datang bersama keluarga, seperti saya dan beberapa keluarga Indonesia yang saya kenal di UK.

Mudah-mudahan kasus Reynhard ini menyadarkan keluarga para diaspora di tanah air, untuk selalu membangun komunikasi dan meningkatkan kualitas perhatiannya, bagi orang-orang tersayangnya yang jauh, yang sedang belajar atau bekerja di negeri orang. Walau mereka tampak happy di sosial media, meski mereka tinggal di negara yang menurut anda lebih maju dari Indonesia, itu tiada artinya tanpa pengertian, pemahaman dan inisiatif perhatian dari keluarga dan handai taulan di tanah air. Untuk mereka yang akan melepas anaknya sekolah di luar negeri pun, hendaknya memastikan anaknya kuat secara mental, bukan kuat secara finansial saja.   

"Karena sehelai daun pun tak dapat menguning tanpa sepengetahuan seluruh pohon, walau diam-diam. Demikian pulalah si salah tak dapat berbuat salah, tanpa keinginan nafsu sekalian manusia walaupun terpendam.

"Sabda Sang Nabi yang berbicara dalam prosa "Sang Nabi" karya Khalil Gibran itu, terbaca lagi oleh saya. Mengingatkan kita bahwa ketika ada salah satu individu dalam masyarakat melakukan sebuah kesalahan, anggota masyarakat lainnya dalam kadar yang berbeda-beda, juga punya andil dalam kesalahan yang diperbuat si salah tersebut. 

Mungkin ada yang tak sepakat dengan sabda "Sang Nabi" dalam bab yang membahas tentang hal-ihwal kejahatan itu. Tapi saya kira, kita sepakat untuk mulai melahirkan benih-benih empati dan merawat benih tersebut, setidaknya untuk disemai ke dalam sanubari orang-orang tercinta yang ada di dekat kita atau sedang jauh di tanah rantau. Agar psikopat seperti Reynhard lainnya tak terlahir lagi dari, dan di tengah masyarakat kita.*

Eddy A

*Penulis adalah pegiat Tajdid Institute. Saat ini bermukim di Portsmouth, UK.

You may also like