Apridhon Rusadi (Peneliti Sindikasi Indonesia Maju ) 
Genial - Mengutip pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Muhadjir Effendy  yang di sampaikan pada acara bertajuk Anugerah Revolusi Mental di Gedung BPPT, Jakarta Pusat (21/12) lalu dalam sambutannya dia mengatakan   “ Perlu saya tegaskan, revolusi mental henyalah tema. Intinya adalah perubahan dari yang tidak baik menjadi baik yang massif sifatnya”.   Dia menjelaskan bahwa revolusi mental sejalan dengan misi hijrah dalam Islam.

Pernyatan Menko PMK ini, dirasakan sudah bisa menjawab kontradiksi dari para penolak program revolusi mental, dengan dalih bahwa program tersebut bertentangan dengan semangat kebangsaan bangsa Indonesia. Gagasan Revolusi Mental sesungguhnya digagas dan disampaikan pertama kali oleh Presiden Soekarno pada peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 1956. “Revolusi mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.”

Revolusi mental juga bisa dimaknai, membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap dan perilaku sebagai bangsa agar berorientasi pada kemajuan dan hal—hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Dalam praktek sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan mempunyai semangat gotong royong.

Mental itu sendiri adalah sebuah cara berfikir dalam merespon suatu hal. Mental merupakan kata lain dari berfikir. Sehingga mentalitas dapat dikatakan dengan cara berfikir tentang suatu hal. Cara seseorang berfikir ini dipengaruhi oleh pengalaman, hasil belajar, dan atau lingkungan juga dapat mempengaruhi pola fikir tersebut. Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pengertian revolusi mental adalah perubahan cara berfikir dalam waktu singkat untuk merespon, bertindak dan bekerja.

Apakah ada hubungannya dengan semangat hijrah?.  Hijrah merupakan sebuah fase penting seseorang untuk memperbaiki diri. Hijrah yang secara harfiah berarti “meninggalkan”  merupakan roh yang menjiwai gerakan seorang Muslim sebagai hamba Allah.  Hijrah kemudian dimaknai perpindahan  atau peralihan dari satu kondisi ke kondisi yang lain. Peralihan kondisi inilah yang yang menjiwai revolusi mental, peralihan kondisi manusia Indonesia menuju cara pandang yang berorientasi kemajuan atau Indonesia Maju.

Perpindahan kondisi ini bisa dimaknai sebagai sebuah perpindahan dari akhlak atau prilaku yang tidak baik menuju prilaku yang baik,  atau yang lebih dikenal dengan prilaku akhlakhul karimah, dengan sebuah keinginan  menjadi manusia yang dengan akhlak, sikap dan prilaku sebagai bangsa yang berkeadaban.

Sejalan dengan misi diutusnya Rasulullah SAW  yang disampaikan dalam sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk meyempurnakan Akhlak”. (HR. Bukhari dalam Shahih Bukhari Kitab adab, Baihaqi Syu’bul Iman dan hakim)”.  Disini Rasulullah yang melakukan revolusi akhlak terhadap bangsa Arab yang pada saat itu belum mengenal moral dan akhlak yang baik. 

Akhlak menjadi aspek terpenting dalam rangka membangun bangsa dan negara maju, sebagaimana yang disampaikan Ibnu Rusydi seorang pemikir Islam: ” Sesungguhnya suatu bangsa akan tetat tegak dan jaya selama mereka ada akhlaknya, dan jika hilang akhlak dan jiwa mereka maka punahlah bangsa itu”.

Akhlak sebagaimana dikatakan oleh para filosof adalah berkaitan dengan kekuatan yang secara naluri ada pada diri setiap manusia.  Kekuatan ini antara lain meliputi: kekuatan syahwat (daya tarik), kekuatan amarah (daya tolak), dan kekuatan akal (daya fikir). Ketiga bentuk kekuatan tersebut merupakan unsur dasar yang berperan aktif dalam seluruh tindakan manusia. Baik yang bersifat pribadi maupun sosial. Karena itu, mesti dengan cermat memanfaatkan unsur-unsur tersebut agar dapat bekerja makasimal dalam diri anak bangsa dan berpengaruh positif dalam kehidupan dalam setiap dimensianya.

Sejalan dengan semangat ini, Gerakan Revolusi Mental ini bisa menjadi prioritas program Kementerian Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, sebagaimana yang dikutip Kumparan.com, (21/12//19), “Gerakan revolusi Mental ini gerakan kemasyarkatan yang di inisiasi dan dilakukan oleh kekuatan yang ada di masyarkat Sipil. Pemerintah lebih memposisikan diri untuk mendorong dan tentunya memprovokasi, agar gerakan ini terus bergulir disemua dimensi kehidupan”. Gerakan ini juga telah di kukuhkan menjadi gerakan nasional, yang dilaksanakan dengan sesuai amanat Intruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental.

Kekuatan civil sociaty  dalam masyarakat ibaratkan oksigen, karena berfungsi sebagai penyangga demokrasi. Cohen dan Arato (1992) dalam buku “Civil Society and Political Theory”, mendefinisikan masyarkat sipil sebagai wilayah interaksi sosial yang di dalamnya mencakup semua kelompok sosial yang akrab (khsusnya keluarga), asosiasi (terutama yang bersifat sukarela), gerakan kemasyarkatan, dan berbagai wadah komunikasi publik lainnya yang diciptakan melalui bentuk-bentuk pengaturan dan mobilisasi diri secara independen baik dalam hal kelembagaan maupun kegiatan. Karena masyarakat civil society memiliki tujuan yang sama dan sejalan dengan Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Civil society yang juga dikenal dengan istilah Masyarkat Madani, yang dapat diartikan sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, memaknai kehidupannya. Kata madani sendiri berasal dari bahasa arab yang artinya civil atau civilized (beradab). Istilah masyarkat madani adalah terjemahan dari civil atau civilized society, yang berarti masyarakat yang berperadaban (Qodri Azizi, 2004:).

Secara ringkas kita dapat memahami, masyarkat sipil (Civil Socety) atau yang dikenal juga dengan istilah masyarkat madani sebagai masyarkat beradab dan berbudaya. Mereka membangun, menjalani serta memaknai kehidupan bermasayarakat dengan nilai-nilai utama, diantaranya menjunjung tinggi hak asasi Manusia (toleransi), bekemajuan dan berpengetahuan, patuh hukum, mampu mengendalkan diri, memiliki kemandirian dan solidaritas serta mengakui norma budaya, masyarakat sipil yang memiliki ruang publik yang demokratis untuk mengemukakan pendapatnya.

Revolusi mental yang bertujuan mewujudkan bangsa yang merdeka yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia, sudah sewajarnyalah menjadi semangat hijrah masal bangsa Indonesia yang bukan hanya dilakukan secara individu, tetapi juga pada tatanan masyarakat. Sebagai sebuah langkah revolusioner untuk masa depan suatu bangsa yang harus terus digalakkan dan menjadi program prioritas Kementrian Kordinatror Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan terus melibatkan subjek masyarkat sipil. *  

*Apridhon Rusadi

Penulis Merupakan Peneliti Sindikasi Indonesia Maju

You may also like