Genial - Pada hari minggu pagi Waktu Portsmouth,UK, saya membaca artikel "Gerakan Pramuka" yang ditulis Iqbal Hasanuddin (Genial, 23 Februari 2020). Awalnya saya membaca artikel ini karena tertarik, sebab sempat putus-nyambung berkegiatan di Pramuka, dari mulai SD sampai saat sudah diangkat menjadi ASN. Sebelum merantau ke Inggris pun, saya baru saja menyelesaikan tugas sebagai salah satu anggota tim pembentukan Saka Widya Budaya Bakti PP-PAUD dan Dikmas Jawa Barat. 

Sampai ditengah artikel saya terkejut, mengetahui ada tragedi pada hari Jum'at 21 Februari 2020, yang melibatkan 200 lebih anggota Pramuka dari SMP 1 Turi Kabupaten Sleman. Saya sama sekali baru mengetahui peristiwa ini, sebab selain tak update tentang berita-berita dari tanah air karena kesibukan di perantauan, berita-berita dari tanah air yang sampai kebanyakan berkutat di masalah-masalah politik atau yang terbaru, wafatnya Ashraf Sinclair.

Setelah membaca artikel Iqbal Hasanuddin, saya mencoba mencari informasi ke berbagai media lain, terutama menyimak berbagai penuturan dari pihak sekolah, pihak berwajib, tim SAR, juga penuturan dari pihak anggota kegiatan susur sungai yang menelan korban nyawa tersebut, kepada pihak media.

Ada beberapa hal yang cukup ganjil, yang saya dapatkan dari menyimak berbagai informasi yang disampaikan ke media, tentang tragedi susur sungai Sempur ini. 

Pertama, Kepsek yang mengaku tidak mengetahui ada kegiatan susur sungai. 

Kedua,penggunaan lokasi yang terletak di kawasan sungai yang biasa dipakai ekowisata dengan guide dan guard penduduk setempat ini, ternyata tidak melalui koordinasi dengan pengelola atau masyarakat yang lebih tahu keadaan tempat tersebut. 

Ketiga, jumlah anggota yang berkegiatan tidak sebanding dengan jumlah pembina yang bertugas. Pembina yang mempunyai ide susur sungai ini bahkan pamit pulang karena ada keperluan, saat kegiatan sedang berlangsung. 

Keempat, menurut saksi korban yang selamat, kawannya mengeluh kelelahan setelah satu jam melakukan kegiatan tersebut.

Kelima, kegiatan susur sungai dilakukan pada waktu siang menjelang sore, disaat cuaca hujan. Secara waktu maupun kondisi cuaca, rasa-rasanya kurang ramah bagi anak-anak seusia kelas 7 dan 8, apalagi dalam jumlah besar dan tak terlatih sebelumnya.

Hilangnya nyawa merupakan sebuah musibah. Pembina-pembina maupun penyelenggara acara ini pun tentu saja, tidak punya maksud untuk mencelakakan, apalagi menghilangkan nyawa para peserta kegiatan susur sungai ini. Saya dan siapapun tentu akan sepakat meyakini itu.

Namun demikian, peristiwa-peristiwa seperti ini menggelitik saya, yang pernah berkutat dengan pramuka, maupun model-model pembelajaran dalam lingkup pendidikan luar sekolah selama ini. Tergelitik untuk sekadar mengajukan saran sebagai bahan refleksi, agar ke depannya, kegiatan yang sejatinya bertujuan untuk membangun karakter ini tidak menjadi kontaproduktif bahkan fatal accident, seperti yang menimpa para Pramuka SMP 1 Turi Sleman.

Saran saya, dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler, utamakan faktor keselamatan individu dan keselamatan bersama. Keselamatan individu terkait dengan kondisi orang per orang yang berbeda. Misalnya, ada peserta didik yang mengidap suatu penyakit tertentu, maka itu sudah disortir sejak awal, agar pada saat kegiatan mendapatkan porsi sesuai kondisi fisiknya. 

Sedangkan untuk keselamatan bersama, maka sebelum, saat berlangsung dan setelah kegiatan, hendaknya selalu perhatikan wardrobe, waktu, tempat dan cuaca. Apa yang terjadi di Sungai Sempur memperlihatkan penyelenggara terkesan lalai dalam seluruh aspek ini. 

Dalam hal wardrobe, seharusnya untuk susur sungai yang melibatkan anak-anak seumuran SMP kelas 7 dan 8, yang diarahkan untuk masuk ke dalam air, penggunakan rompi pelampung atau life jacket adalah sesuatu yang mutlak. Jangankan life jacket, beberapa peserta dan juga korban yang tewas, ditemukan mengenakan wardrobe yang bahkan untuk kegiatan olahraga saja cukup membatasi gerak fisik. 

Waktu kegiatan pun sebaiknya disesuaikan dengan jenis kegiatan. Untuk peserta didik usia SMP, waktu ideal berkegiatan di alam, seperti susur sungai, adalah pada pagi hari. Stamina mereka sedang dalam kondisi prima saat itu. Selain kuat secara fisik, pikiran mereka di pagi hari cenderung fokus, mood mereka gembira, sehingga koordinasi tubuh dan konsentrasi pikir mereka siap menerima materi kegiatan.

Berkenaan dengan tempat, selain disesuaikan dengan usia dan prakiraan kemampuan adaptasi peserta didik, survei tempat dan koordinasi dengan pihak-pihak yang berwenang di calon lokasi kegiatan itu, harus dilakukan secara serius dan intens. Jika jelang kegiatan pihak berwenang sampai menyampaikan peringatan untuk mengurungkan agenda utama, sebaiknya hal itu diikuti, bila alasannya untuk keselamatan.

Faktor cuaca seharusnya menjadi concern utama dalam kegiatan seperti susur sungai ini. Untuk daerah Indonesia yang rawan bencana, sebaiknya faktor cuaca ini tidak dianggap enteng. Kejadian banjir bandang yang terjadi berkali-kali, seharusnya membuat para penyelenggara kegiatan jauh lebih waspada, saat berkegiatan di sungai, apalagi pasca hujan seperti kejadian di Sungai Sempur. 

Pada akhirnya, selain wardrobe, waktu, tempat dan cuaca, yang utama adalah kembali pada faktor manusia, yaitu penanggungjawab kegiatan yang kompeten. Dalam kejadian yang menimpa para anggota Pramuka di SMP 1 Turi, sisi ini kelihatannya menjadi sisi lemah yang mengemuka. Siapa penanggungjawab kegiatan susur sungai Sempur ini? Kepala Sekolah mengaku sama sekali tidak tahu. Pembina yang mempunyai ide pulang dengan alasan ada keperluan lain.

Dari sisi manusia, fatal accident potensial terjadi pada pelaksanaan kegiatan yang tidak jelas penanggungjawabnya atau ada yang menyepelekan tanggungjawab tersebut. Sebagai contoh, dari peristiwa di Sungai Sempur ini, ketika Kepsek tidak tahu-menahu, dan pembina pencetus kegiatan susur sungai ini pulang (konon sudah menjadi tersangka), sebetulnya kegiatan susur sungai ini jangankan dalam hal manajemen resiko, dalam hal manajemen penyelenggaraan saja menunjukkan kelemahan yang serius.

Konsekuensi seperti tidak tercapainya tujuan kegiatan, defisitnya biaya kegiatan, hingga faktor keamanan dan keselamatan peserta, adalah konsekuensi yang harus dihadapi, jika suatu kegiatan tidak memiliki penanggungjawab secara kelembagaan hingga penanggungjawab lapangan yang jelas. Kegiatan akan berlangsung asal jadi, dan ketika ada masukan atau usulan dari panitia lain ataupun peserta, suggest-suggest tersebut menjadi tak mudah dieksekusi. 

Apa yang saya sampaikan adalah sekadar pemandangan ideal untuk menatap masa depan yang lebih preventif. Tidak hanya masa depan dalam lingkup kegiatan Gerakan Pramuka, namun juga masa depan kegiatan ekstrakurikuler lain dalam lingkup Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, termasuk kegiatan Orientasi Kampus di lingkup Pendidikan Tinggi, yang kerap menjadikan alam sebagai wahana berkegiatan.

Matangkan segala sesuatunya sebelum pelaksanaan ekstrakurikuler. Sesuaikan kemampuan dan ketersediaan sumberdaya manusia, faktor biaya dengan model-model pembelajaran ekstrakurikuler yang ada. Utamakan keselamatan disamping tujuan pembelajaran. Dan yang sangat penting dan urgen, pilihlah penanggungjawab yang bertanggungjawab dan punya keterampilan komunikasi dan koordinasi serta human relations yang baik.*
 

*A Eddy Adriansyah

Pegiat Tajdid Institute. Pernah terlibat dalam tim pembentukan Saka Widya Budaya Bhakti PP PAUD dan Dikmas Jawa Barat 2018. Saat ini bermukim di Portsmouth, Inggris

You may also like