Perempuan Abyaneh/Dok Pribadi
GENIAL. Sobat, masih di Kashan. Kita lanjutkan perjalanan sebelumnya.
 
Di Kashan ada sebuah kota yang terkenal dengan air bunga mawar nya. Dalam bahasa Farsi bunga mawar disebut Gul-e Mohammad. Kota ini penuh dengan taman-taman bunga mawar.
 
Pada akhir abad ke 19, Albert Houtum-Schinder, seorang Inspektur Jenderal yang ditugaskan di Iran oleh Indo Eropa, bercerita bahwa ketika mengunjugi kota ini, Qamsar, ada 300 perumahan yang mempunyai taman-taman mawar yang luas. Hal ini yang membuat kota ini indah. Dari kota ini juga air mawar diproduksi dan diekspor ke seluruh dunia.
 
Proses bunga mawar menjadi air mawar disebut Golabgiri (proses membuat air mawar dari bunga mawar) yang dilakukan setiap pertengahan Mei sampai pertengahan Juni, musim semi sampai sebelum musim panas. Konon kabarnya, Kiswah atau kain kabah di Mekkah selalu dicuci oleh air bunga mawar dari Qamsar Kashan Iran ini.
 
Sobat, di Kashan juga ada sebuah desa yang sangat tua. Desa Abyaneh. Desa ini sudah ada sejak 1.500 tahun lalu. Rumah-rumah di desa ini terbuat dari campuran tanah liat dan jerami, berarsitektur Persia kuno, dan mempunyai tangga. Penduduknya sangat tertutup terhadap orang asing. Kita hanya dapat melihat mereka berkumpul di sekitar rumah mereka, atau ketika mereka berjalan di gang-gang rumah mereka yang saling berdekatan.
 
Biasanya, mereka pun tidak mau diajak untuk berfoto. Bahasa Farsi kuno dengan aksen khas Abyaneh adalah bahasa yang mereka pergunakan sehari-hari.
Hal lain yang paling mencolok di antara mereka adalah pakaiaannya. Terutama untuk kaum perempuan. Mereka memakai pakaian yang sangat terang dan berwarna-warni, terutama kerudung mereka yang besar dengan motif bunga-bunga dan warna yang terang dan mencolok. Pun dengan baju dan rok mereka yang terkenal dengan Shaliteh bermotif bunga-bunga dan berwarna.
 
Sedangkan kaum laki laki Abyaneh memakai celana panjang yang besar khas Abyaneh. Keledai merupakan alat transportasi utama mereka. Kita akan dengan mudah menemukan keledai di jalan jalan umum desa ini.
 
Ketika mengunjungi desa ini, kita juga akan merasakan seperti hidup ribuan tahun lalu. Di desa ini lah juga kita bisa mengunjungi kuil api agama Zoroaster walaupun sudah tidak dipakai lagi. Ada juga Mesjid Jami yang bersejarah, juga dua makam Imamzadeh, yaitu Imamzadeh Yahya dan Isa yang sangat dihormati oleh muslim Syiah disini. Tak ketinggalan pula kita akan menyaksikan proses pembuatan air bunga mawar kalau berkunjung kesini pada bulan Mei dan Juni
 
Desa ini terletak sekitar 80 km dari sebelah barat daya kota kashan. Dan disini pun telah banyak hotel-hotel yang sangat tradisional juga restauran-restauran tradisional Persia yang bisa mengguncang lidah anda.
 
Sobat, seperti kita tahu, umat Islam Syiah di Iran sangat suka berziarah, termasuk ke makam Imamzadeh, atau keturunan para Imam Syiah yang tersebar di seluruh pelosok Iran. Di Kashan, selain Imamzadeh di desa Abyaneh, ada juga sebuah tempat yang bisa dikatakan ‘keramat’ karena tempat ini memiliki komplek makam dan mesjid yang sangat luas dan indah. Tempat itu bernama Mashhad-e Ardahal di sebuah kota di distrik pedesaan Neyasar, Kabupaten Kashan, Provinsi Isfahan, Iran. Sekitar 30 km dari barat kota Kashan.
 
Penduduknya sekitar 2.000 orang, menurut sensus penduduk tahun 2017. Kota ini menjadi pusat para peziarah yang berziarah ke makam Imamzadeh Sultan Ali (putra Imam kelima Syiah, Muhammad al Baqir) juga ke makam penyair dan pelukis Persia Modern terkemuka Sohrab Sepehri. Kedua makam tersebut terletak dalam satu komplek pemakaman megah nan sejuk di lereng bukit yang tinggi. Makam ini memiliki dua halaman megah, beberapa balkon yang indah dan menara tinggi yang dihiasi dengan ubin keramik. Makam ini dibangun pada masa periode dinasti Seljuk.
 
Sobat, di kota ini kita juga bisa menyaksikan Ghali Shuyan atau upacara mencuci karpet yang merupakan acara keagamaan Syiah paling menarik. Hal ini berdasarkan sejarah yang terjadi lebih dari 12 abad yang lalu. Ketika itu, Sultan Ali datang dari Madinah ke Mashhad Ardehal atas undangan masyarakat setempat. Begitu tiba, musuh-musuhnya membunuhnya sebelum para pengikut Sultan Ali datang. Akhirnya oleh para pengikutnya jasadnya dibungkus dengan karpet, kemudian membasuh tubuhnya dalam aliran  150 meter, sebelum menguburnya.
 
Oleh sebab itu, selama ratusan tahun, ribuan orang dari berbagai daerah di Iran (termasuk Qom, Khomein, Mahallat, Saveh, Delijan, Golpayegan, Yazd, dan kota kota yang lainnya) berbondong bondong datang ke Mashhad Ardehal ini untuk berkabung pada setiap tahun, hari Jumat kedua bulan Mehr (Bulan Iran) atau sekitar bulan Oktober. Mereka berpakaian hitam, menyanyikan lagu-lagu agama, menangis dan memukul dada-dada mereka sebagai tanda kesedihan dan duka (kebiasaan orang Iran ketika berduka). Kemudian mereka mencuci karpet di aliran air khusus di dekat komplek pemakaman.
 
Pada tahun 2009, peziarah yang berkumpul di Mashhad Ardehal untuk pencucian karpet ini sekitar 200 ribu orang. [***]
 
Sifa Sanjurio
Staf Pengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
 
 

You may also like