Istimewa
GENIAL.ID, NTT -   Puitik Natur akan  merilis singel Song-Poetry  Kembali Ke Tanah Damai, Adonara Tanah Mahar Gading, persembahan
Adrian Mere featuring Bara Pattyradja.

Serial musik puisi ini mengusung konsep  sinematografi, sebuah prakarsa menyajikan folklor budaya dan kosmologi alam Lamaholot yang eksotis dan magic. Lewat gema puisi dan nada nada ritmis,  keindahan lekuk pesona alam Flores Timur dieksplorasi secara visual dan artistik.

Rudy Tokan, salah satu pendukung agenda kultural ini, menyatakan bahwa Puitik Natur edisi song poetry ini telah secara sungguh-sungguh membentangkan jembatan imaji puak puak Lamaholot untuk kembali meniti identitas lokal yang telah lamur digerus arus jaman. "Semoga melalui seni dan budaya, kita kembali memanusia, kembali menjadi ata diken yang luhur dan luhung serta menanggalkan egoisme purba yang kadang menjadi sumber konflik horizontal," pungkasnya.

Si Kerongkongan Ajaib, Adrian Mere akan padu padat feat Bara Pattyradja dalam duet manis dalam debut perdana ini. Diiringi petikan dawai sang gitaris Pengki. Ina Bine Lewo Tanah dimodeli Tanti Atamukin & Dian Samsara. Penata rias Sumiyati & Nadien Atakoza. Koreografi akan menampilkan generasi milineal dari Komunitas Baca Masdewa Watololong.  Video Clip profesional  didirect frame_project12 yang dinahkodai Wilfridus Ero.

Agenda kultural ini terselenggara berkat dukungan dari swadaya personal oleh Frans Lebu Raya, AYOart&culture, Umar Ahmad (Bupati Tubaba, Lampung), Fahd Pahdepie (Amanat Institute), Apolonia Corebima, SuaraMIRAL, Rudi Tokan, Emanuel Kolfidus, Stef Ola Demon, Hasan Basri, Muhamad Mahlin dan Komunitas Baca Masdewa sebagai squadron Koreo Puitik Natur.

Bara Pattyradja, saat dihubungi secara terpisah mengungkapkan, semoga karya ini dapat memantik energi kreatif generasi muda NTT dan masyarakat Adonara khususnya dalam berkesenian. Paling insidental, kita ajak orang orang bernyanyi dan berpuisi. Kita ajak orang orang untuk mengambil jeda sejenak. Merefleksikan apa makna menjadi manusia Adonara, menjadi Lamaholot, menjadi Flores, menjadi NTT bahkan menjadi Indonesia. 

"Saya percaya, seni adalah sebuah jalan untuk menciptakan perdamaian. Sebab bersengketa bukan kodrat  yang dilegacykan para leluhur di tanah ini," tandas Bara Pattyradja selaku eksekutif produser.

You may also like