Asry Almi Kaloko
GENIAL.ID. Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) telah dilakukan beberapa waktu yang lalu. Sejumlah media ternama di AS sudah mengumumkan kemenangan pasangan calon dari Partai Demokrat yaitu Joe Biden dan Kamala Harris. Presiden Joko Widodo juga turut mengucapkan selamat atas kemenangan Biden dan Harris melalui akun media sosial resminya, Presiden Jokowi mengharapkan agar kerja sama antara Indonesia dan AS semakin erat baik itu bidang ekonomi, demokrasi hingga multilateralisme yang nantinya dapat memberi manfaat bagi kedua negara.

Pemilu di AS kali ini begitu menarik karena walaupun ditengah pandemi Covid-19 yang angka penularannya cukup tinggi di negeri Paman Sam tersebut, partisipasi masyarakatnya mencapai rekor dalam sejarah pilpres Amerika modern, dimana persentase pemilih mencapai angka diatas 65 persen. Joe Biden dipastikan akan melenggang ke Gedung Putih dengan 290 suara elektoral yang diraihnya. Dalam kurun waktu 264 tahun sejak AS merdeka negara ini akhirnya memiliki wakil presiden wanita yang juga wanita kulit hitam pertama yang mampu menjadi orang nomor 2 di AS. 

Saat ini bukan hanya Indonesia, namun hampir seluruh negara menantikan hasil akhir pemilu negara adidaya tersebut. Bagi Indonesia kemenangan Joe Biden harus disikapi dengan bijak. Indonesia harus mampu mengikuti dinamika politik internasional siapapun yang menjadi pemimpin di AS. Indonesia harus mampu memanfaatkan persaingan geopolitik global saat ini termasuk pertarungan antara AS dan China. 

China saat ini memiliki ambisi teritorial, kawasan Laut China Selatan menjadi kawasan yang perlu diwaspadai, kawasan ini begitu penting karena menjadi penghubung perdagangan global yang juga menjadi pusat kompetisi kekuatan negara adidaya. September yang lalu Donal Trump berniat mengerahkan armada laut tambahan dari total 293 menjadi 355 kapal untuk membendung China dikawasan tersebut, hal ini menjadi keuntungan bagi Indonesia di Laut Natuna. Namun jika Biden terpilih bisa jadi armada-armada tersebut ditarik dan dinormalkan kembali. 

Kedatangan Menlu AS, Mike Pompeo ke Indonesia beberapa waktu yang lalu juga turut menjadi bola panas karena mengungkapkan agar Indonesia berhati-hari terhadap ancaman komunis China. Merespon hal ini Indonesia harus mampu mengambil sikap sendiri karena faktor geopolitik dan posisi strategis Indonesia yang berada di dua benua dan dua samudra. 

Kedatangan Mike Pompeo juga tidak hanya berbicara isu komunis tetapi juga berbicara soal perpanjangan GSP (General System of Preference) yaitu fasilitas bebas bea untuk barang ekspor Indonesia ke AS. Awal tahun yang lalu, AS padahal mengeluarkan Indonesia dari daftar negara berkembang yang kemudian menjadi negara maju, yang artinya tidak ada fasilitas bebas bea masuk, namun saat kedatangan Mike Pompeo, AS masih akan memperpanjang GSP tersebut, ini menjadi sinyal penting bahwa AS sangat memperhitungkan Indonesia. 

Pemerintah harus mampu mengambil keputusan dan manfaat sebesar-besarnya dari fasilitas yang diberikan oleh AS tersebut, tidak dapat dipastikan akan berapa lama fasilitas ini didapatkan oleh negara apalagi dinamika politik AS pasti berubah karena presidennya telah berganti. Dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam yang masuk dalam rantai pasok global (Global Value Chain), Indonesia masih kalah karena Vietnam sudah berhasil mengekspor 3 kali lipat lebih banyak dari Indonesia. Di tahun 2019 sebelum pandemi menyerang perekonomian negara, kita berhasil mencatat keuntungan impor AS dari Indonesia sebesar USD 20,1 miliar sementara Vietnam mencatat sebesar USD 66,6 miliar (US Census Bureu 2019-2020). 

Selama perang dagang AS dan China masih berlanjut Indonesia harus terus meningkatkan kompetensi agar mampu menekan biaya produksi yang sangat tinggi yang berasal dari faktor-faktor seperti SDM yang belum mumpuni, angkutan logistik hingga proses perizinan yang berbelit. UU Cipta Kerja yang sudah disahkan sebagai UU NO. 11 tahun 2020 diharapkan menjadi angin segar agar persoalan-persoalan yang menyebabkan faktor produksi yang lambat dapat segera diatasi agar nantinya menarik investor-investor yang harus diambil manfaat sebesar-besarnya demi kemajuan dan kemakmuran bangsa. 

Siapapun yang menjadi pemenang pemilu presiden di AS, Indonesia harus siap menghadapi dinamika politik yang terjadi. Posisi geo-strategis serta potensi sumber daya alam yang sangat kaya harus mampu dikelola secara baik. Kemenangan Joe Biden harus dimaknai sebagai tantangan baru karena kebijakannya pun pasti berbeda dengan yang dilakukan Donal Trump khususnya bagi Indonesia. Yang paling penting adalah bagaimana melanjutkan kerja sama yang lebih progresif dan saling menguntungkan. Kita harus selalu mengingat amanat UU bahwa politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif, tidak mencampuri urusan internal negara lain dan tidak memihak pada kekuatan manapun, tetapi harus mampu memanfaatkan persaingan geopolitik global untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa. [***]

Asry Almi Kaloko
Mahasiswi Hubungan Internasional HI UIN Jakarta

You may also like