Ilustrasi/Net
GENIAL.ID.  Pendiri Republik Islam Iran, Ayatullah Ruhollah Khomeini, telah menetapkan Jumat terakhir Ramadhan sebagai "Hari Internasional Al-Quds" untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Sejak saat itulah umat Islam di berbagai negara Muslim dan para pendukung kemanusiaan serta penuntut kebebasan akan menggelar berbagai kegiatan dan aksi solidaritas sebagai bentuk dukungan kepada rakyat tertindas Palestina.
 
Saat ini, tanggal 22 Mei nanti, Hari Internasional Al-Quds diperingati oleh berbagai komunitas di hampir 80 negara, bahkan di negara-negara dengan minoritas Muslim. Sebab mendukung dan membela Al-Quds AL-Sharif tidak terbatas bagi Muslim dan negara-negara Islam, karena membela Baitul Maqdis sama seperti membela rumah dan kemuliaan kebebasan. Pada tahun ini, walau pandemi Covid-19 telah membatasi kegiatan masyarakat di berbagai negara dunia, tetapi penyampaian solidaritas internasional kepada masyarakat Palestina melalui berbagai cara inovatif tetap akan disampaikan dengan sebuah slogan yang sama yaitu "Kegagalan Kesepakatan Abad dan konsolidasi cita-cita Palestina."
 
Bagi pemerintah Iran, pentingnya “Hari Internasional Al-Quds” dapat dilihat dari beberapa aspek. Yaitu untuk menghidupkan isu Palestina, mendukung bangsa tertindas Palestina dan resistensi mereka melawan kezaliman, mencabut akar friksi di dunia Islam, melawan terorime dalam bentuk penjajahan serta mengutuk intervensi kekuatan besar di kawasan.
 
Bagi pemerintah Iran juga, sebagaimana disampaikan Atase Pers Kedutaan Iran Ali Pahlevani Rad, ada tiga alasan penting yang menjadikan isu Palestina menjadi isu utama bagi Dunia Islam. Pertama, identitas Agama Palestina sebagai wilayah yang penting untuk berbagai agama khususnya agama Islam. Kedua, identitas pendudukan rezim Zionis Israel yang terus melancarkan pendudukan dan kebijakan ekspansionismenya. Ketiga, identitas koalisi antara Barat dan rezim Zionis Israel untuk terus memecah belah dan menyebarkan dualitas antara umat Muslim dengan tujuan melanjutkan pendudukan mereka.
 
"Pada saat berbagai perkembangan di dunia antara lain isu terorisme, krisis ekonomi, pandemi Covid-19 dan lain-lain telah mengalihkan perhatian komunitas internasional dari isu Palestina dan menguntungkan Zionisme global dan Israel, maka perayaan “Hari Internasional Al-Quds” secara masif dan inovatif sangatlah bermakna bagi masyarakat Palestina yang tertindas karena “Hari Internasional Al-Quds” adalah refleksi dan peran dunia Islam dalam upaya pembebasan Palestina secara nyata," jelas Ali, menyampaikan pesan pemerintahan Iran melalui kedutaan di Jakarta.
 
Bagi pemerintah Iran juga, sambung Ali, Hari Internasional Al-Quds juga merupakan momentum komunitas dunia untuk mengutuk tindakan ilegal memindahkan kedutaan besar Amerika ke Al-Quds dan mengakuinya sebagai ibukota rezim Zionis seraya menuntut pembebasan Al-Quds dan mendukung rakyat tertindas Palestina tetap menjadi prioritas pertama dunia Islam serta mengecam setiap aksi yang ingin mengesampingkan prioritas ini dan upaya mengalihkan pikiran umat Islam.
 
Hari Internasional Al-Quds tahun ini pun begitu penting dikarenakan AS bersama dengan rezim zionis Israel memaksakan kehendek keji mereka kepada masyarakat Palestina melalui “Kesepakatan Abad Ini (Deal of the Century)” alias “Konspirasi Abad”. Berdasarkan konspirasi ini Al-Quds akan diserahkan kepada rezim Zionis Israel, pengungsi Palestina di luar negeri tidak berhak kembali ke tanah airnya, dan Palestina hanya terdiri dari wilayah yang tersisa di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Ide ini merupakan sebuah fitnah besar oleh kekuatan hegemoni untuk menghapus hak-hak rakyat Palestina secara permanen. Dengan kata lain hanya dengan pembayaran sejumlah uang, Palestina akan diduduki selamanya.
 
"Republik Islam Iran percaya bahwa “Kesepakatan Abad” adalah ”Pengkhianatan Abad” terhadap masyarakat Palestina karena ini merupakan kesepakatan antara rezim Zionis Israel dan Amerika tanpa melibatkan pihak Palestina sehingga hanya dapat dikategorikan sebagai rencana pemaksaan kehendak yang akan menemui kegagalan," jelas Ali.
 
Republik Islam Iran, lanjutnya, menganggap solusi demokratis dan politik untuk isu Palestina adalah memberikan hak menentukan nasib sendiri kepada rakyat Palestina yaitu dengan kembalinya seluruh pengungsi Palestina ke tanah air mereka dan penyelenggaraan referendum komprehensif dan bebas di seluruh wilayah Palestina yang diikuti oleh semua penduduk asli Palestina di hadapan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Hal ini merupakan solusi dan penyelesaian secara adil atas hak rakyat tertindas Palestina.
 
Secara umum, sambungnya, solusi usulan Republik Islam Iran yang telah terkomunikasikan ke Sekretaris Jenderal PBB mencakup beberapa hal, yaitu, pertama, seluruh pengungsi Palestina memiliki hak untuk kembali ke tanah air mereka. Kedua, seluruh masyarakat Palestina, penganut agama apa pun (Islam, Kristen, Yahudi) harus menentukan nasib, masa depan dan sistem politik negara mereka melalui proses referendum yang adil dan demoktaris. Ketiga, berdirinya sistem politik pilihan mayoritas rakyat Palestina. Keempat, sistem politik pilihan mayoritas masyarakat Palestina akan memutuskan tentang nasib pihak-pihak pendatang ke wilayah Palestina.
 
"Hal yang amat penting berkaitan dengan Palestina adalah tindakan “pendudukan” sebagai langkah ilegal yang bertentangan dengan peraturan internasional dimana penerimaan pendudukan ini merupakan hal yang tidak sesuai dengan hukum dunia serta berlawanan dengan undang-undangn dasar dari berbagai negara, maka Republik Islam Iran mengajak seluruh negara dunia khususnya negara-negara Muslim untuk melakukan upaya yang diperlukan guna mendukung penuh resistensi dan perjuangan rakyat Palestina serta menolak prarkarsa palsu Kesepakatan Abad dan membantu proses penyelesaian masalah Palestina secara adil dan demokratis," demikian Ali mengutip pernyataan pemerintah Iran yang disampaikan melalui kedutaan. [pmu]

You may also like