Istimewa
GENIAL.ID -  Adalah seorang Vivian Dorothy Maier, yang notabene bekerja sebagai nanny, hingga akhir hidupnya ditemukan ratusan roll film yang sudah diproses maupun yang belum. Beliau meninggal tanpa perlu label atau pengakuan sebagai fotografer. Beberapa waktu kemudian setelah wafat, Vivian masuk dalam daftar fotografer perempuan.

Ada juga Francesca Woodman dan Cindy Sherman yang asyik memotret dirinya  sendiri. Atau Donna Verrato yang membius dengan karya domestic violence. Ada Gertrude Kasebier dengan karya motherhoodnya, Sally Man dengan foto-foto permasalahan anak, misteri kehidupan dan kematian. Dan Diane Arbus dengan portrait orang-orang yang termajinalkan lingkungan.

Tapi tahukah untuk menjadi fotografer hingga hari ini perempuan (di seluruh dunia) masih mengalami hal-hal klise? Mulai dari diragukan bisa memotret, dipandang sebelah mata karena fisiknya (big hip, big body, big boops) dan dianggap kurang pengalaman bahkan aneh. Kenapa gak jadi sekretaris saja, perawat, dan lain-lain.

Perjalanan hidup fotografer perempuan seperti Yin-Yang. Tak jarang karena dianggap bukan "profesi perempuan" justru terlihat lebih natural, obyek foto merasa nyaman bahkan tidak terganggu (untuk fotografer pria butuh jam terbang tinggi nih).
Untuk bisa "melihat", perempuan harus melewati obstekel dari dirinya dan lingkungan. Tidak ada kelulusan selain proses belajar melihat dari pemikiran, pengalaman hidup, dan emosi kita sendiri lewat visual.

Itulah perjalanan cinta. Tak butuh media mahal. Karena cinta itu sederhana. Tapi menjalankan rasa itulah yg mahal dan sebuah perjuangan.

Adalah seorang Maya Sofia Habsyi dengan perjalanan cintanya. Dengan segala kerinduannya kepada Yang Maha Esa. 
Bukanlah hal sepele ketika kita pergi berziarah untuk menebalkan iman sambil memotret. Tujuan Maya adalah ibadah. Sementara memotret itu hanya bonus yg bisa kita lihat pada diskusi semalam.

Dengan terik matahari, keletihan dan perjalanan yang panjang ada oase ketika mendapati banyaknya simpatisan menawarkan dahaga dan lapar. Kita cuma manusia. Makan untuk bertahan hidup.

Memotret dengan ponsel pintar menguatkan kita pada pemaknaan perjalanan cinta Maya itu sendiri yang begitu personal. 
Apakah Maya berhasil menguatkan keyakinannya? Semua ada di LOVE JOURNEY. [*]

* Oleh: Steffany Imelda

You may also like