Anton Doni Dihen
Genial - Adonara merupakan suatu entitas jati diri yang menarik. Wajahnya mungkin tampan, tapi sekaligus membuat penasaran. Dan bisa dinilai berbeda antara yang satu dan yang lainnya.

Saya masih ingat cerita tentang seorang pastor yang datang ke Adonara untuk mengenal lebih dekat orang Adonara. Sesampai di dermaga Waiwerang dia bertanya, apakah saya bisa bertemu orang Adonara. Lalu orang-orang di dermaga Waiwerang mengatakan, kami orang Adonara. Dia bingung, kok orang-orang Adonara pada baik, berbeda dari gambaran yang dia peroleh sebelumnya.

Ya gambaran yang dia peroleh dari publikasi Ernst Vatter. Tentang Adonara Pulau Pembunuh (Adonara, Island of Murderers). Sebagaimana sudah berulang dikutip di berbagai publikasi, di sana Vatter menulis:

There is no region in the east of the Netherlands Indies in which there is so much murder as on Adonara. Almost all murder and violence, raids and brutal offences which are brought to trial in Larantuka are committed by Adonarese. No other island in the east of the Indian archipelago has so bad a reputation both among Europeans and the inhabitants of neighbouring regions as this island, which is blessed by nature with beauty and fertility and whose population is distinguished from the neighbours by exceptional intelligence, enterprise, adaptability and limitless vitality. It is not just the curse of blood feud which burdens this land and in fatal linkages year in and year out demands victims over and over again. A special emotional and mental structure, foreign to the other people of the Solor-Alor archipelago, also plays a role: an exaggerated sensitivity to offences and insults, however harmless by nature, towards all friction and misunderstandings, as is unavoidable in communal life, a sometimes grotesque vanity and megalomania, combined with marked feelings of inferiority about their own race and culture, joy in war and blood-letting, paired with mistrust and fear. Finally, an unmistakable inclination to brutality and cruelty, or perhaps more correctly, an untameable drive to give spiritual tensions an explosive resolution through acts of violence. One could also describe Adonara as the island of immoderation. For European sensibilities, provocation and response among these people stand in no relationship. Inducement and reaction seem to us to be beyond any rational relationship (Vatter 1932: 157).”

Dengan gambaran seperti itu, tentu saja Vatter menghadirkan kesan yang buruk dan menyeramkan tentang Adonara. Dan ketika, misalnya, dikutip oleh penerbit buku panduan travel “Lonely Planet” dalam suatu publikasi, kita bisa membayangkan dampaknya pada kunjungan wisata orang asing ke Adonara.

Namun demikian, potret vulgar seperti itu tampaknya sedikit kita butuhkan pada hari-hari ini, ketika orang-orang Adonara ingin merefleksikan dengan lebih tenang siapa diri mereka sebagai Adonara dan bagaimana harus berjalan menuju masa depan. 

Ada beberapa catatan yang dapat diberikan terkait judul dan alinea yang sangat panjang tersebut di atas.

Pertama, judul Pulau Pembunuh dan deskripsi dengan menggunakan kata “raids” dan “brutal offences” terasa tidak sepenuhnya tepat dalam menggambarkan perilaku Adonara. Sebagaimana saya pahami, orang Adonara tidak membunuh orang sembarangan. Hanya pihak yang berselisih yang saling membunuh.Bahkan kalau boleh berspekulasi, Adonara adalah pulau yang paling aman untuk orang asing dan orang yang tidak mempunyai hubungan persengketaan. Orang asing dan orang-orang tanpa hubungan persengketaan bahkan bebas melintasi kawasan konflik tanpa ada gangguan sama sekali.

Beberapa peristiwa yang dirujuk Ernst Vatter dan RH Barnes (dalam tulisannya berjudul “An Outbreak of Violence in Eastern Adonara, Indonesia, in 1934”), yang dalam khasanah budaya perang Adonara dikenal dengan istilah “beliwana” atau “heru lehu” (penyanderaan dan pembunuhan seseorang atau beberapa orang dari kalangan lawan di tempat yang jauh dari tempat sengketa untuk membalas dendam dan memancing pertempuran yang lebih serius) lebih menggambarkan kurangnya gentlemanship ketimbang menggambarkan kebrutalan. Sebab orang-orang yang menjadi korban “beliwana” pasti merupakan orang-orang yang mempunyai hubungan darah atau hubungan asal desa (atau lewo) yang samadengan pihak lawan. 

Juga sebagaimana yang digambarkan oleh Kopong Medan dalam tesisnya, perang di Adonara yang umumnya berkarakteristik perang tanding berlangsung dengan kepatuhan tinggi pada konvensi atau norma yang jelas, baik berkaitan dengan waktu, tempat, alat yang digunakan, dan siapa yang boleh disentuh. Misalnya, perang tidak boleh berlangsung tengah hari (sekitar pukul 12.00 sampai pukul 15.00). Ada istilah untuk itu: koli kemeta tepo nuane.

Perempuan dan anak-anak juga tidak boleh disentuh sama sekali. Demikian pula untuk orang-orang di sekitar medan perang yang tidak berkaitan dengan sengketa, mereka juga tidak boleh disentuh. Ada istilah ketun matan kuluke (jeli melihat siapa yang pantas untuk dijadikan sasaran).Jadi perang berlangsung dalam ketertiban norma. Pelanggaran dan penyimpangan mungkin terjadi, dulu dan belakangan ini, tapi pelanggaran dan penyimpangan ini tidak terlalu jauh berjarak dari konvensi atau standar norma yang ada.

Kedua, penggambaran sejumlah karakteristik (karakteristik baik dan karakteristik buruk) yang dilihat sebagai khas Adonara dibandingkan dengan pulau sekitarnya (antara lain, bad reputation dalam hal pembunuhan, special emotional and mental structure, exceptional intelligence, enterprise, adaptability, dan limitless vitality) menghadirkan dugaan bahwa ada lingkungan sejarah yang unik Adonara, yang memproduksi karakteristik tersebut. Sebab secara genetika dan sebagai bagian dari masyarakat Lamaholot pada umumnya, perbedaannya dengan masyarakat Lamaholot lain di luar Adonara mestinya tidak signifikan. Saya menduga bahwa di antara empat karakteristik  positif di atas (exceptional intelligence, enterprise, adaptability, dan limitless vitality) ada karakteristik yang justru berhubungan dengan atau diproduksi secara tidak langsung oleh budaya perang. Sayang sekali Vatter tidak menelusuri bagaimana masyarakat ini bisa memproduksi hal unik dalam sejumlah karakteristik di atas dan hanya melihat hubungan antara bad reputation dalam hal pembunuhan dengan special emotional and mental structure, yang terlalu sensitif, terlalu berlebihan sedemikian rupa sehingga tidak masuk akal untuk orang Eropa. “For European sensibilities, provocation and response among these people stand in no relationship. Inducement and reaction seem to us to be beyond any rational relationship,”  tulis Vatter.

Ketiga, begitu terfokusnya Vatter pada perilaku pembunuhan, dan begitu terjebaknya dia dalam melihat fenomena permukaan, sehingga nilai-nilai yang berkembang seputar perang diabaikan dalam studi Vatter. Padahal, sebagai orang Adonara saya yakin, bahwa budaya perang menumbuhkan banyak nilai. Bahkan kadar komitmen pada nilai-nilai itu sedemikian rupa sehingga ia dapat menjadi keunikan positif orang Adonara. 

Sebagaimana yang juga dicatat oleh Karolus Kopong Medan, budaya perang menguatkan komitmen orang Adonara pada kebenaran dan keadilan. Sebab satu-satunya alasan berperang adalah mencari kebenaran dan keadilan. Orang tidak berperang karena sekadar melampiaskan hobi. Maka ketika kita salah, kita tidak maju ke medan perang. Tapi ketika kita yakin kita benar, kita tidak tanggung berperang.

Budaya perang juga menumbuhkan iman, keberanian, kepercayaan diri, dan keperkasaan, bahwa ketika kita berdiri di pihak yang benar, tidak ada yang perlu ditakutkan. Kita percaya bahwa Tuhan dan leluhur lewotana akan melindungi kita jika kita berada di pihak yang benar. 

Perang juga mensyaratkan kebersihan diri. Kita tidak ikut berperang ketika kita tahu kita punya sejumlah kesalahan atau dosa pribadi. Orang dengan dosa pribadi akan menemukan tanda-tanda dalam perjalanan ke medan perang, misalnya terluka karena duri kecil. Maka ketika menemukan tanda seperti itu, yang bersangkutan harus pulang dan tidak usah ikut perang. Demikian pula dalam kejadian perang, orang dilarang menyentuh perempuan atau memetik apapun dalam perjalanan perang tanpa seijin pemiliknya. Sehingga dapat dikatakan bahwa budaya perang juga menumbuhkan nilai kebersihan diri dan kelurusan hidup.

Di samping itu, budaya perang juga menyumbang secara signifikan pada budaya demokrasi. Jika demokrasi yang berkualitas membutuhkan kualitas deliberasi (mendiskusikan dan mempertimbangkan sesuatu dengan seksama), maka perang Adonara menyumbangnya dengan cukup baik. Orang harus memperhitungkan sesuatu dengan seksama: alasan berperang, utang darah, utang budi, siapa saja yang dapat beraliansi, apa saja tutur prinsip yang dibawa ke medan perang, dan sebagainya. “Uku kirin” atau deliberation menjadi bagian penting dalam budaya perang. Dan ini membentuk watak orang Adonara yang suka mendengar, tertib dalam diskusi, dan cermat dalam menyampaikan pendapat. Apa yang ditangkap Vatter sebagai exceptional intelligence sebenarnya juga pada tingkat tertentu disumbangkan oleh budaya perang. Orang Adonara dituntut dan terlatih untuk memperhitungkan sesuatu dengan seksama.

Keempat, yang menjadi pekerjaan rumah dalam kerangka transformasi Adonara ke depan, mestinya berkaitan dengan ciri yang dinyatakan oleh Vatter sebagai sensitivitas yang berlebihan. “Special emotional and mental structure”. Yang tidak dimengerti oleh orang luar. Intinya, orang Adonara terlalu mudah tersinggung. Gampang mutung (kata bahasa Jawa untuk gampang tersinggung). Persoalan dan reaksi terhadap persoalan tidak sebanding. Reaksinya terlalu berlebihan. Apalagi menyangkut kepemilikan tanah, batas lahan, dan perempuan.

Kelima, sikap cerdas dalam melihat sejarah pada akhirnya dibutuhkan dalam proses transisi. Orang Adonara tetap perlu tegar berdiri di atas sejarahnya, dan tidak perlu terlalu menyesali diri sebagai orang yang mewarisi citra buruk sebagaimana yang digambarkan Vatter. Kita melihat sejarah dan fakta perang-perang historis sebagai jalan peradaban kita, yang menumbuhkan nilai-nilai tertentu dengan kadar yang tinggi. Nilai-nilai tersebut kita hikmati, tanpa perlu berimplikasi pada rasa kesombongan atau sikap untuk meneruskannya. Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah memindahkan nilai-nilai positif yang diproduksi budaya perang tersebut dari praktek perang sebagai ruang aktualisasinya pada masa lampau, dan menempatkannya dalam ruang aktualisasi baru di dunia modern, di bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan sebagainya. 

Orang Adonara, misalnya, bermodalkan komitmen tinggi pada kebenaran dan keadilan yang diwariskan budaya perang, dapat menjadi aktivis dan politisi yang paling handal dalam menyuarakan ketidakadilan dalam masyarakat. Juga di bidang ekonomi, bermodalkan komitmen pada nilai keadilan dan kelurusan hidup yang diwariskan budaya perang, dapat menjadi pelaku ekonomi yang paling memperhatikan nasib pekerja, paling bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan fisik, dan membuat kerja sama paling adil dengan masyarakat kecil yang diajak kerja sama. 

Pada saat yang sama, karakteristik negatif seperti mudah tersinggung adalah sesuatu yang menuntut perlakuan khusus dalam pekerjaan peradaban ke depan. Saya sendiri belum menemukan penjelasan yang memadai tentang ciri mudah tersinggung ini, dan karena itu menjadi tugas tersendiri untuk menumbuhkan emotional intelligence yang berisi kesportifan, pengendalian diri, keterbukaan, dan kesabaran dalam perjalanan Adonara ke depan sebagai suatu masyarakat dengan cultural space-nya yang unik. 

Transformasi menuju Adonara dengan wajah baru tentu tidak cukup jika hanya berbasis pada pengetahuan permukaan sebagaimana diproduksi oleh Vatter dengan rumusan di atas. Dia membutuhkan topangan studi lebih banyak, sebagaimana disarankan oleh Bubandt dan Molnar (2004) dan digaris bawahi RH Barnes dalam laporannya “A Legendary History in Witihama, Eastern Adonara, Indonesia: An Enduring Context for Disagreement”:  Kita membutuhkan “studies that are ethnographically thick and theoretically sophisticated enough to capture the many levels and complicated processes involved in the production of violent conflict.” ***

Bersambung ke part 2

*Anton Doni Dihen



You may also like