Genial - Terharu bercampur bangga pada pengorbanan “Semana Santa” dalam hal ini Gereja Lokal Keuskupan Larantuka dan semua pihak terkait dalam prosesi agung Semana Santa yang dilaksanakan tiap tahun pada prosesi Jumad Agung yang dengan ketaatan dan kerendahan hati membatalkan prosesi Semana Santa.

Terharu dan bangga karena ditengah derita umat manusia khususnya bangsa Indonesia, pihak Keuskupan Larantuka bersama seluruh umat Allah, pihak pelaksana dan pemda setempat berani meninggalkan kehendak dan keinginan sendiri untuk mengikuti kehendak Allah melalui masukan dari pemerintah dan paroki-paroki di kota Larantuka yang pada akhirnya diputuskan BATAL prosesi Semana Santa tahun ini.

Bagi saya inilah makna pra paskah dan Tri Hari Suci yang sesungguhnya. Keuskupan Larantuka bersama umat Allah berani menjawab; “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi (bdk. Mat 26:39) dan “Aku ini Hamba Tuhan jadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk 1:38) menjadi sebuah pengorbanan nyata Jumad Agung menuju Kebangkitan Mulia (keselamatan bangsa Indonesia).

Mendengarkan, menjadi point penting dari pengorbanan ini. Ratapan dan tangisan serta kekhawatiran yang bertebaran di media sosial sebagai bentuk ketidakberdayaan dan hanya mengandalkan kuasa dan kehendak Allah pada akhirnya menemukan jawaban berani keuskupan Larantuka bersama umat Allah, pihak-pihak terkait dan pemda setempat yang bersama menuju Golgota dan menyalibkan kehendak sendiri.

Mendengarkan membuahkan pengorbanan. Dan pengorbanan menghasilkan keselamatan Kristus yang dihadirkan Gereja Lokal Keuskupan Larantuka untuk Indonesia. Ini bukti nyata bahwa suara dan doa kita semua didengarkan dan dikabulkan. Maka semoga tidak ada lagi yang protes ataupun kecewa karena dibatalkan, tetapi bergandengan tangan menuju Golgota menyalibkan kehendak pribadi untuk keselamatan dan kebaikan bersama.

Pengorbanan Semana Santa dalam wajah Keuskupan Larantuka menjadi jawaban dan penghapus wajah Gereja Indonesia yang beberapa hari ini menghadapi tudingan dan bully oleh karena sebuah kompromi yang dipertaruhkan. Pengorbanan Semana Santa pada akhirnya mengembalikan sebelanga susu (iman dan harapan) yang oleh nila setitik menjadikan wajah Gereja Indonesia sempat suram.

Pengorbanan Semana Santa dalam ketaatan Keuskupan Larantuka memberikan pesan penting kepada kita semua bahwa pengorbanan untuk keselamatan masyarakat Indonesia adalah JALAN SALIB yang wajib kita pikul sebagai bagian dari iman dan resiko pemuridan yang menutut ketaatan pada kehendak Allah dan bukan kehendak pribadi. 

Untukmu semua kuucapkan terimakasih atas pengorbanan kalian yang menghadirkan pengorbanan, cinta dan ketaatan Kristus serta Bunda Maria kepada kami semua yang mengajak semua untuk masuk dalam situasi salib dan bangkit bersama Kristus. 

Pengorbanan kalian adalah tanda nyata kerendahan hati Kristus yang melayani untuk keselamatan dan kebaikan bersama. Doa dan salamku untuk kalian semua. Semana Santa memberkati, Tuan Deo melindungi.*


*Pater Tuan Kopong MSF
Manila, 21 Maret 2020

You may also like