Ilustrasi
GENIAL.ID - Dalam kesempitan ruang dan waktu, menjadi guru adalah panggilan jiwa kita akan sangat kesulitan memajukan pendidikan jika seseorang ingin menjadi guru sekedar untuk mencari nafkah. Para pejuang di ranah minoritas sedang berjuang untuk menegakkan pendidikan Islam. Pantang pulang sebelum terealisasikan dengan baik.

Para pejuang seperti ini yang patut diapresiasi lebih, sejatinya mereka mengabdikan diri untuk menyampaikan Islam melalui pendidikan yang sudah terkemas secara runtut. Tak mengenal waktu mereka tulus melakukan hal tersebut.

Di salah satu provinsi di Indonesia, yang mana di provinsi tersebut benar-benar minoritas ummat muslim, sebut saja Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kecamatan Adonara, sangat minoritas sekali ummat muslim. Bahkan di suatu desa ummat muslim dapat dihitung dengan jari tangan. Begitu minoritas sekali ummat muslim di Provinsi ini. Tetapi, itu semua tidak menghalangi semangat para pendidik.

Mereka berjuang menyejahterakan pendidikan Islam di ranah minoritas tersebut, dengan ilmu yang mereka miliki, mereka dikirim ke tempat minoritas atas dasar tulus ikhlas menyebarluaskan pendidikan Islam. Tidak memandang bagaimana konflik ke depannya yang mereka hadapi nanti. Yang mereka inginkan hanya mencerdaskan generasi muslim yang ada di daerah tersebut.

Pada masa yang serba canggih ini, mungkin mereka lebih mudah dalam berbagi ilmu kepada generasi muslim yang ada, walaupun lagi-lagi keterbatasan di daerah tersebut masih ter kendala akan teknologi dan jaringan yang masih sulit terjangkau. Tetapi, tidak menghalangi semangat mereka untuk terus berjuang menyampaikan setiap ilmu yang mereka punya.

Tak hanya itu, respon baik diterima oleh masyarakat muslim sekitar, bahkan masyarakat non muslim menerima dengan baik kehadiran mereka. Sungguh relasi yang membanggakan atas toleransi yang terjalin. Bahkan beberapa dari non muslim ingin ikut mempelajari ajaran yang mereka ajarkan.

Dengan berbagai kebudayaan yang ada di desa tersebut, tidak menghalangi semangat para generasi penerus untuk menuntut ilmu agama Islam, yang terkadang acara adat tetap berlangsung. Namun, acara tersebut tidak menyimpang dari ajaran Islam. salah satunya ialah tarian Dana Dani Pa’a Ma’a yang sangat kental dengan kebudayaan Islam yang ada di daerah tersebut.

Tarian ini terinspirasi dari kegiatan ibu-ibu petani garam di desa Lohayong, salah satu desa di kecamatan Adonara Timur. Dari hasil mengolah garam inilah bisa menyekolahkan putra-putri mereka sampai kejenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kebanyakan generasi mudanya melanjutkan pendidikan tinggi di tanah perantauan. Sehingga sangat sedikit sekali penerus yang mengajarkan kepada generasi selanjutnya, dan tidak jarang yang kembali ke desanya. Dengan adanya para pengajar dapat meneruskan pembekalan ilmu agama Islam dengan baik. Dan rata-rata jurusan yang mereka ambil adalah pendidikan agama Islam.

Tokoh hebat lahir di desa ini, salah satunya Dr. M. Ali Taher Parasong, SH.,M.Hum. Anggota DPR RI yang terpilih dari daerah pemilihan provinsi Banten. Putra Lamaholot ini, kelahiran kampung peradaban Islam Lamakera Solor Flores Timur Nusa Tenggara Timur. Beliau terlahir di Lamakera, sebuah kampung nelayan muslim yang berada di ujung paling timur pulau Solor.

Di sekitar pulau ini, lautnya cukup berombak dan gelombang. Kondisi tanahnya kering, gersang, tandus dan berbatu. Di lahan itu, bila ditanam palawija sulit tumbuh. Tidak banyak tanaman yang bisa tumbuh di lahan itu. Namun, bila ditanami “kepala manusia” maka akan tumbuh manusia yang mampu menyinari peradaban. Dari daerah ini, bisa lahir berlian yang cemerlang.

Dengan bermodal ilmu yang tak seberapa, mereka mampu melanjutkan sekolah tinggi di luar pulau dan kembali menjadi orang yang luar biasa untuk memajukan desanya. Selama banyak mubaligh yang di kirim ke daerah minoritas, maka banyak pula pengetahuan generasi muslim tentang pendidikan Islam. Dan tidak terpengaruh dengan keyakinan lain, sehingga menjadikan generasi muslim lanjutan untuk mensejahterakan desanya, dan mungkin suatu saat bisa menjadikan desa peradaban muslim, salah satu desa peradaban muslim yang sangat tersohor di kecamatan Adonara ialah desa peradaban muslim Lamakera, Solor. [**]

**Oleh: Muhaimin Saputra
Penulis adalah Mahasiswa Jururusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)


 

 

You may also like