Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim.
Genial - Dilantiknya Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) memberikan angin segar bagi wajah pendidikan di Indonesia. Seorang menteri yang  tergolong masih muda, yang telah menjadi solusi bagi sebagian persoalan bangsa.

Karakternya yang senang memberikan solusi, tenang dan tegas dalam pilihannya, menarik mata Presiden Jokowi. Kebijakannya yang banyak dibahas adalah kebijakan Merdeka Belajar, yang merupakan kebijakan revolusioner dan sangat berani.

Dihapuskannya Ujian Nasional, bukan untuk memudahkan anak-anak sekadar lulus sekolah. Demikian pula dimudahkannya pendirian prodi baru, bukan untuk memudahkan industrialisasi kampus. Nadiem ingin agar anak-anak Indonesia lebih tertantang untuk mengembangkan dirinya di dunia nyata. Tempat yang menurutnya adalah laut lepas, dimana seorang sarjana benar-benar menjalani kehidupan nyata.

Menurutnya pendidikan hari ini masih terlalu linear, terlalu kaku dan terkotak, ibarat anak-anak yang belajar berenang di kolam renang, kemudian tidak mampu berenang di lautan yang lebih menantang. Dia mengingatkan pada kalangan guru, dosen, staf lembaga pendidikan dan kita semua, bahwa ijazah dan sertifikasi kita, tidak berarti tanpa adanya mentalitas, karakter dan kedewasaan. Kata-kata yang memotivasi ini begitu indah didengar, namun terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam praktik nyata.

Generasi Solusi dalam Pasar Bebas

Sebuah kebijakan publik, terlebih yang dibawa oleh anak muda seusia Nadiem di Indonesia, pasti menghadapi banyak tantangan. Beberapa hal yang dicatat oleh para pengajar sepanjang dua dekade lebih sejak bergulirnya reformasi, antara lain adalah keberpihakan nyata pemerintah terhadap kreativitas anak muda, pasar tenaga kerja bagi sarjana-sarjana baru (fresh graduate) dan pendidikan karakter yang (seharusnya) memang lebih bernilai daripada lembaran kertas ijazah, IPK/nilai akhir studi dan berbagai sertifikasi keahlian (misalnya bahasa asing).

Dalam kaitannya dengan pasar tenaga kerja misalnya, masih banyak perusahaan yang meminta syarat nilai minimal pada lembaran ijazah dan sertifikat keahlian, bahkan pengalaman dalam rekruitmen pegawai/karyawan. Tentu keberadaan Nadiem Makarim yang sangat berani ini menjadi angin segar bagi kalangan progresif, namun mengancam kelompok-kelompok konservatif yang ingin melestarikan feodalisme model baru semacam ini.

Feodalisme model baru berdiri di atas dasar deretan prestasi di atas kertas, pengalaman dan penghargaan orang lain, menggantikan feodalisme atas dasar garis keturunan. Namun sifat-sifat mengutamakan prestasi dan pencapaian di atas kertas melampaui mentalitas, moralitas dan karakter individu, tentu harus dihentikan, bukan oleh Nadiem seorang. Anggapan "toxic" ini hendaknya diluruskan oleh segenap instansi kementerian/lembaga, beserta para pelaku pasar dan politisi secara bersama-sama.

Bangsa ini tidak bisa mengandalkan penyadaran-penyadaran, motivasi seorang menteri milenial, tanpa melakukan aksi nyata dukungan dalam bentuk kebijakan pasar, ketenagakerjaan dan kepegawaian bagi setiap warga negara. *

* M.I. Nasution

Penulis Merupakan Warga Muhammadiyah dan Pemerhati Sosial 

You may also like