Diah Purwitasari
GENIAL.ID, Opini - Setelah proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) selesai dilaksanakan dengan  metode daring, tatap muka atau perpaduan keduanya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  mengumumkan tahun ajaran baru 2020/2021 akan dimulai pada 13  Juli 2020. karenanya, sekolah harus bersiap untuk memulai aktivitas pembelajarannya. Lalu bagaimana dengan kesehatan dan keselamatan siswa yang banyak dikhawatirkan oleh para orang tua?

Kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat merupakan prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran. Hal ini merupakan prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 seperti yang tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru dari 4 Kementerian; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri.

Masih ada anggapan pada sebagian masyarakat bahwa jika tahun ajaran baru dimulai, maka pembelajaran tatap muka juga mulai dilaksanakan. Padahal, menurut Plt Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen, Kemdikbud, Hamid Muhammad, tanggal dimulainya tahun ajaran baru itu berbeda dengan kegiatan belajar mengajar tatap muka. Dimulainya tahun ajaran baru bukan berarti siswa belajar di sekolah. Keputusan belajar di sekolah akan terus dikaji berdasarkan rekomendasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, sebab ada banyak syarat yang harus dipenuhi jika sekolah akan dibuka.

Demi kesehatan dan keselamatan siswa, Pemerintah hanya mengijinkan sekolah yang berada di zona hijau yang dapat membuka kembali sekolahnya. Itupun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Apabila sekolah berada pada zona kuning, oranye dan merah, maka sekolah tetap melanjutkan Belajar Dari Rumah (BDR). Data per 15 Juni 2020, ada 85 kabupaten/ kota di seluruh Indonesia yang berada pada zona hijau. Sedangkan masih ada 429 kabupaten/ kota yang berada di zona kuning, oranye dan merah. Ini berarti baru 6 % peserta didik yang berada di zona aman, dan sisanya 94 % berada di zona yang belum aman.

Pembelajaran tatap muka di sekolah yang berada di zona hijau dapat dilaksanakan melalui dua fase ; 1). Masa transisi; yang berlangsung dua bulan sejak dimulainya pembelajaran tatap muka. Jadwal pembelajaran ditentukan oleh sekolah dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan dan keselamatan semua yang berada di lingkungan sekolah. 2). Masa kebiasaan baru, yang  diharapkan sekolah dapat tetap melakukan kebiasaan hidup sehat dan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Pembukaan sekolah pada zona hijau tidak akan dilakukan serentak pada semua jenjang pendidikan. Kemampuan peserta didik dalam menerapkan protokol kesehatan menjadi dasar pertimbangan urutan tahap dimulainya pembelajaran tatap muka. Tahap pertama dibuka bagi jenjang SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs dan Paket B. Tahap kedua dilaksanakan dua bulan setelah tahap pertama. Sekolah yang dibuka untuk jenjang SD, MI, Paket A dan SLB. Sedangkan tahap ketiga dilaksanakan dua bulan setelah tahap kedua yaitu untuk jenjang PAUD formal (TK, RA, TKLB) dan non formal. Namun, begitu ada penambahan kasus/ level risiko daerah naik, maka sekolah wajib ditutup kembali.

Sedangkan untuk pembelajaran tatap muka di sekolah dan madrasah berasrama di zona hijau berbeda dengan jenjang sekolah di atas. Mereka dilarang membuka asrama dan melakukan pembelajaran tatap muka selama masa transisi dua bulan pertama. Pembukaan asrama dan pembelajaran tatap muka dilakukan bertahap pada masa kebiasaan baru.

Sebelum pembelajaran tatap muka di sekolah berlangsung di zona hijau, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah; 1). Sekolah harus mendapatkan izin dari pemda atau Kanwil /kantor Kemenag, 2). Sekolah harus memenuhi semua daftar periksa dan siap pembelajaran tatap muka. 3). Orang tua harus setuju dengan pembelajaran tatap muka. Sekolah tidak boleh memaksa orang tua untuk mengirim anaknya ke sekolah, jika masih khawatir dengan keselamatan dan kesehatan anak mereka. Siswa dapat belajar di rumah sampai orang tua merasa yakin untuk anaknya kembali berangkat ke sekolah.

Dalam pembukaan sekolah, diperlukan kesiapan sarana dan prasarana yang mendukung untuk melaksanakan protokol kesehatan. Sekolah wajib memenuhi daftar periksa kesiapan yang telah dibuat dalam panduan. Ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan harus ada dalam sekolah. Toilet harus bersih, ada sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau hand sanitizer, dan disinfektan.

Kemampuan sekolah dalam mengakses fasilitas layanan kesehatan, merupakan hal yang ditekankan dalam daftar periksa kesiapan. Sekolah juga harus siap menerapkan area wajib masker kain atau masker tembus pandang  bagi yang memiliki peserta didik disabilitas rungu. Thermogun wajib dimiliki dan digunakan untuk mengukur suhu tubuh setiap orang yang datang. Selain itu sekolah melakukan pemantauan rutin pada semua orang yang berkegiatan di dalamnya.

Warga sekolah juga tidak boleh melakukan kegiatan di sekolah apabila tidak memiliki akses transportasi yang memungkinkan penerapan jaga jarak. Begitu pula dengan mereka yang memiliki riwayat perjalanan dari zona merah, oranye dan kuning atau riwayat kontak dengan orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan belum menyelesaikan isolasi mandiri selama 14 hari.

Sekolah membuat kesepakatan bersama komite satuan pendidikan terkait kesiapan melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. Proses pembuatan kesepakatan tetap perlu menerapkan protokol kesehatan. Kesepakatan dibuat dengan harapan terjadi harmonisasi antar semua pemangku kepentingan di sekolah sehingga pembelajaran tatap muka di era new normal ini berjalan dengan baik.

Semoga wilayah Indonesia yang masuk ke dalam zona hijau semakin hari semakin bertambah. Semakin banyak zona hijau maka semakin banyak pula siswa yang dapat kembali belajar ke sekolah, berinteraksi kembali dengan guru dan teman – temannya. Mereka pun dapat belajar dengan lebih sungguh - sungguh di lingkungan yang kondusif untuk mencapai cita-citanya walaupun tetap harus berdampingan dengan Covid-19.  [*]

*Oleh:  Diah Purwitasari

Penulis merupakan Pendidik dan Alumni UNJ dan Pascasarjana UHAMKA

You may also like