Ilustrasi
GENIAL.ID, Tarikh - Kita sering mendengar cerita para sahabat Nabi yang hidup miskin. Saking miskinnya mereka menginap di teras masjid. Mereka dijuluki Ahlus shuffah. Salah satunya adalah Abu Hurairah RA.

Namun juga ada para sahabat Nabi Saw yang pada akhir hayat mereka dalam keadaan kaya raya. Ibn Khaldun (1332-1406 M) dalam kitabnya al-Muqaddimah mengutip al-Mas’udi, sejarawan Arab klasik yang wafat tahun 956 M:

Pada saat Sayidina Ustman, khalifah ketiga, wafat terbunuh, beliau memiliki sejumlah properti yang bernilai 200 ribu dinar, serta sejumlah unta dan kuda.

Az-Zubair: memilki 50 ribu dinar, seribu kuda dan seribu budak. Beliau juga membangun rumah di Bashrah, Mesir, Kufah dan Alexandria.

Thalhah: perputaran uang yang dimilikinya seribu dinar setiap hari dari usaha di Iraq, dan lebih lagi dari as-Sirrah (Yaman). Beliau juga membangun rumah di Kufah, merenovasi rumah di Madinah dengan plester, batu bata dan kayu berlapis (sesuatu yang sangat mewah saat itu).

Abdurrahman bin Auf punya seribu ekor kuda, seribu unta, ribuan kambing dan seperempat harta warisannya mencapai 84 ribu dinar.

Zaid bin Tsabit memiliki harta warisan emas dan perak yang begitu banyaknya sehingga harus dipecah dengan kapak, selain tanah dan uang 100 ribu dinar.

Sa’d bib Abi Waqash membangun rinah dengan batu akik, rumahnya bertingkat dan luas halamannya.

Al-Miqdad juga membangun rumah mewah yang diplester di Madinah.

Ibn Khaldun memberi komentar bahwa harta mereka itu didapatkan dengan cara yang halal, berasal dari ghanimah dan fai’. Dan para sahabat Nabi di atas tidak berprilaku berlebihan dalam membelanjakan harta mereka, bahkan mereka tetap hidup dengan sederhana.

Begitulah kawan, hidup dengan kaya tidaklah dilarang dalam Islam. Selama didapatkan dengan cara yang halal, dipenuhi semua kewajibannya serta hatinya tidak terikat pada harta.

Jangan dikesankan bahwa kemiskinan adalah ciri orang memeluk Islam atau seolah kita mencibir dan curiga kalau ada orang lain yang hidupnya lebih berkecukupan dari kita. Mungkin kita menjadikan ahlus shuffah sebagai modal, sementara mereka menjadikan nama-nama sahabat Nabi Saw di atas sebagai contohnya. Semuanya kita sebut dengan radhiyallah ‘anhum. Semua model dari sahabat Nabi baik-baik saja. [*]

*Penulis : Nadirsyah Hosen
Wakil Ketua Pengasuh Pesantren Takhasus Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta.  Tulisan ini  sudah naik di situs personal Gus Nadir di https://nadirhosen.net 

 

You may also like