Willfridus Demetrius Siga, S.S., M.Pd
Genial, Opini - Social distancing yang kemudian berkembang menjadi physical distancing yang kita dengar selama pandemik covid-19. Kita diwajibkan untuk menjaga jarak satu sama lain, tidak bersentuhan secara fisik, dan dengan sadar melakukan isolasi diri (karantina mandiri). 

Larangan sosial kemudian diperketat dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai dari ibu kota, beberapa wilayah penyangga ibu kota, bahkan sebagian kota besar. Konsekuensi dari larangan ini ialah hentikan segala aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan.

Tradisi berkumpul, silahturahmi, bahkan mudik sebagai bagian dari karakter masyarakat yang ramah, toleran dan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan serta gotong royong dipandang sebagai kegiatan yang rentan terhadap penularan virus covid-19. 

Perjumpaan secara fisik dalam  ruang dan waktu dibatasi. Ruang dan waktu kini berubah menjadi sosok artifisial yang tidak harus ditandai oleh pertemuan secara natural (sentuhan fisik). Kita juga tidak dapat mengelakkan fakta bahwa virus ini pelan-pelan melebar dan menghancurkan kebutuhan manusiawi kita yang paling mendasar. Sampai pada titik ini, mungkin kita perlu bertanya, apakah kita siap menghadapi bencana pandemik ini?

Penghormatan terhadap Tubuh

Kebanyakan orang mungkin tidak berpikir bahwa krisis pandemik ini melepaskan mereka dari segala kesibukan dan memberi waktu sejenak untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat. Slavoj Žižek (2020) dalam karyanya tentang Pandemic! Covid-19 Shakes The World, pada bagian pengantar menyinggung perintah touch me not (Jangan sentuh aku!). Menurutnya, mata menjadi satu-satunya jendela ke “dalam” diri yang lain, mampu melihat jauh ke dalam yang lain dan mampu mengungkapkan lebih dari sekadar sentuhan. 

Ada semacam totalitas pemberian diri, menyatu ke dalam realitas, bukan lagi soal aku (saya) tetapi kita (sesama). Isolasi dan pembatasan aktivitas sosial harus dilihat sebagai kondisi dimana tubuh menarik diri dan mengumpulkan kembali keberanian untuk bersikap lebih bijaksana terhadap realitas di luar dirinya, sesama dan alam semesta.

Kekacauan sikap terhadap tubuh yang dipertontonkan selama situasi pandemik secara tidak langsung memperlihatkan  kekacauan konstelasi nilai  pada level yang paling mendasar yaitu pribadi sebagai subjek. 

Paradigma tubuh sebagai proses pembentukan sikap dan nilai tentu tidak dapat dipisahkan dari pola berpikir konseptual yang berkelin dan dan berjejaring. Pola konseptual berkelindan sering memposisikan tubuh sebagai subjek sekaligus sebagai objek dalam waktu yang bersamaan (Merleau-Ponty). 

Konsep tentang tubuh, diri, pikiran, emosi menjadi rumit untuk dipahami. Sedangkan, pola konseptual berjejaring, menempatkan tubuh sebagai entitas yang ‘terlempar’ ke dalam dunia (Heidegger). Kita tidak bisa memilih tubuh (termasuk bentuk tubuh) atau lingkungan sosial seperti apa yang dipertontonkan. 

Tubuh hanya satu entitas dari konsep jejaring kehidupan yang maha luas. Maka dengan melihat perilakutubuh hari ini akan terlihat pula paradigma konseptual dan nilai-nilai sakralitas kebertubuhan macam apa yang dihayati dan dihidupi oleh manusia dan entitas lain di luar manusia. Nilai – nilai ini yang seharusnya tidak boleh diambil alih oleh krisis pandemik virus corona.

Harapan terbesar dari perintah tidak saling menyentuh dan tetap menjaga jarak sosial hendaknya dimaknai sebagai kesempatan untuk memperkuat intensitas hubungan kita dengan orang lain. Jika selama ini, kita sering menghindar bahkan melupakan orang-orang terdekat kita, sekarang menjadi momentum bagi kita untuk sepenuhnya mengalami kehadiran mereka, dan merasa betapa pentingnya mereka dalam kehidupan secara personal.

Tubuh dimaknai sebagai alat untuk mengalami dan memahami realitas secara menyeluruh dan apa adanya. Manusia menyadari kebertubuhannya dan berusaha membatasi dirinya dari dunia luar. Semua ini hanya dapat terjadi apabila kita mampu memberi ruang untuk memaknai bahwa tubuh sekalipun memiliki muatan sakral.

Ideologi Digital

Selama pandemik ini, kita seolah tidak mampu menolak betapa besar pengaruh dan kontrol digital terhadap hidup kita sekaligus meningkatnya ancaman digital yang dianggap mampu mengendalikan dan memanipulasi realitas privasi.Kita tentunya selalu update dengan data terkait perkembangan pandemik ini, tetapi kita tidak bisa berhenti pada data. Penafsiran, isu, dan fakta kemudian menempatkan situasi pandemik ini sebagai konspirasi kepentingan dan ideologi.

Semakin banyak dunia kita terhubung, semakin banyak bencana lokal yang dapat memicu ketakutan dan krisis multidimensi secara global. Pada titik ini, perilaku digital bukan semata milik subjek (manusia), bukan pula milik media teknologi, tetapi perilaku itu milik jejaring mediasi, persekutuan antara manusia dan benda yang mengalami proses pertukaran kompetensi, saling menawarkan peluang, tujuan, dan fungsi, dan keuntungan.

Apa yang sedang kita hadapi saat ini menjadi bukti lahirnya era digital; yang diramalkan terjadi pada Revolusi Indusitri 4.0. Era digital dibangun dengan sederetan revolusi mikroprosesor, algoritma, dan sistem informasi untuk mengintegrasikan teks, suara, dan gambar dalam bentuk digital yang mudah disimpan, direproduksi, dan mudah diakses oleh siapapun. 

Internet bermetamorfosis menjadi mesin yang mengubah fakta objektf. Kita tinggal di rumah, bekerja secara digital, berkomunikasi melalui video konferensi, berolahraga di sudut rumah, mendapatkan semua yang kita perlukan dari dalam rumah dengan sekali klik dan sedapat mungkin meminimalisir perjumpaan di ruang publik.Pusat kota dan jalanan seolah mati, pertemuan antar subjek (pribadi) terkesan anonim sekaligus menuntut afirmasi sosial. 

Eli Pariser (2011), menyebutnya dengan istilah filter bubble (gelembung filter) dimana media digital menjadi penjara baru. Internet dengan kemampuan filterisasinya mempersonalisasi (personalization) setiap individu yang menggunakannya. Banyak dari kita mungkin berharap jika media digital dapat memperkuat modal hubungan sosial. Media digital dalam hal internet, make us all next door neighbors (Friedman, 2007). Sayangnya, bukan itu yang terjadi: tetangga virtual kita semakin mirip tetangga di dunia nyata, sedangkan dunia nyata menjadi semakin meaningless. 

Pola digital juga memungkinkan batas antara fakta dan fiksi menjadi kabur. Segala yang disajikan merupakan produk rekayasa dan cenderung menegasi realitas. Lantas, apa yang sekarang sangat dibutuhkan? Ideologi digital perlu jujur dalam menyampaikan kebenaran realitas.

Kebertubuhan dalam Ruang Digital

Reaksi selama masa pandemik bermunculan dalam berbagai bentuk. Ada yang menolak dan menganggap covid-19 sejenis aib atau kutukan. Ada yang marah bahkan saling menyalahkan. Hidup menjadi kian mirip dengan dagangan di pasar yang bisa ditawar sampai pada titik yang paling rendah. Tubuh dalam hitungan hari bahkan jam berpeluang besar untuk menjadi kaku dan mati. Orang menjadi depresi karena kehilangan kerabat terdekat atau di-PHK akibat dampak virus corona. 

Namun di sisi lain, ada orang yang melihat pandemik virus ini sebagai bencana, hanya perlu kepasrahan untuk menerima segala risikonya. Bahkan, pada tingkat yang lebih sublime, kondisi pandemik mengingatkan kita akan seberapa besar kerinduan kita akan kebutuhan spiritual dan sumbangsih kita terhadap peradaban ekologis yang telah kita bangun selama ini.

Menarik bahwa di antara riuhnya informasi dan imaji yang serba kontradiktif, tubuh pun akhirnya dialami sebagai perlindungan terakhir individu. Ada saatnya tubuh butuh ruang privasi untuk menyendiri. Namun di pihak lain, ia tak bisa mengelak dari jaringan relasi dengan semua realitas teknologi yang serba virtual, walaupun hanya dijadikan objek penderita, bukan sebagai subjek yang otentik. 

Menyikapi ini, tubuh harus dikembalikan lagi pada fungsinya sebagai subjek yang memiliki ruang sakralnya sendiri tanpa diintervensi oleh kepentingan kultural, politik, ekonomi, dan religius. Dengan kata lain, menghormati sakralitas kebertubuhan identik dengan penghormatan terhadap pribadi yang lain sebagai subjek, pemuliaan martabat manusia dan kesejahteraan ekologis. 

Kita semua berharap kondisi krisis akibat pandemik ini memiliki konsekuensi positif, bukan sebaliknya melegitimasi penderitaan. Jika ditarik ke dalam konteks kebangsaan kita, kondisi saat ini menjadi waktu yang tepat untuk mengukur seberapa besar kualitas penghargaan kita terhadap tubuh dan kesiapan kita memasuki era revolusi digital. Ini bukan saatnya kita merasa malu, atau menganggapnya sebagai aib. 

Satu-satunya alasan untuk merasa malu hanyalah jika kita meremehkan virus ini, sambil melindungi diri sendiri dan mencari berbagai macam alibi ideologis yang sebenarnya hanya menunjukkan ketidak-siapan kita untuk bersaing secara lebih kompeten pada tingkat global. 

Harapan besar, selama masa pandemik ini sakralitas kebertubuhan kita tetap menjadi idealisme yang dihidupi dalam perilaku yang bermartabat tanpa perlu terdegradasi oleh ideologi digital. [*]

Willfridus Demetrius Siga, S.S., M.Pd

(Dosen Fakultas Filsafat – Lembaga Pengembangan Humaniora - Universitas Katolik Parahyangan Bandung)

willy_d@unpar.ac.id

You may also like