Hasto Kristiyanto/Net
GENIAL. Kebenaran yang ditutupi politik buruk akan dicuci oleh sejarah. Demikian kira-kira kalimat yang tepat untuk menggambarkan perilaku politik SBY. SBY, dengan segala macam caranya, berhasil menduduki kursi Presiden hingga dua kali. Namun, lingkaran SBY sendiri, mantan Sekjen Demokrat Marzuki Ali, yang kemudian membuka cara-cara itu, setelah sejarah kepemimpinan SBY berlalu.

Marzuki membuka pernyataan SBY soal Megawati yang kecolongan dua kali saat Pilpres 2004. Kata Marzuki, mengutip SBY, Megawati kecolongan karena, pertama, SBY tak lagi setia kepada Mega, dan kedua saat SBY mengambil JK sebagai Cawapres.

Tentu saja, pernyataan Marzuki ini membuka mata bathin dan perasaan rakyat yang telah dimanipulasi sedemikian rupa oleh politik citra SBY. Publik masih ingat bagaimana SBY mengumbar politik di-dzalimi saat itu. Saat itu, publik terpana dan merasa kasihan. Dan pernyatan Marzuki membuka tabir: SBY sedang bermain citra, dan sedang mencolong kesempatan dan momentum

Menurut Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, apa yang disampaikan Marzuki Ali menjadi bukti bahwa SBY tidak menjalankan hukum moralitas sederhana dalam politik. Terbukti sejak awal, SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri.

“Jadi kini rakyat bisa menilai bahwa apa yang dulu dituduhkan oleh Pak SBY telah dizolimi oleh Bu Mega. Ternyata kebenaran sejarah membuktikan bahwa Pak SBY menzolimi dirinya sendiri demi politik pencitraan,” kata Hasto.

Kata Hasto, perilaku SBY ini jauh berbeda dengan politik yang diajarkan dalam PDI Perjuangan, untuk satunya kata dan perbuatan. Hasto pun teringat dengan cerita almarhum Prof. Dr. Cornelis Lay.

Saat itu, cerita Cornelis, sebelum SBY ditetapkan sebagai Menkopolhukan di Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Presiden Megawati, ada elit partai yang memertanyakan keterkaitan SBY sebagai menantu Sarwo Edhie yang dipersepsikan berbeda dengan Bung Karno. SBY juga dikaitkan dengan serangan kantor DPP PDI tanggal 27 Juli 1996, yang kemudian dikenal sebagai peristiwa berdarah Kudatuli.

Namun, masih cerita Cornelis, ternyata Megawati menunjukkan sikap yang lebih mengedepankan rekonsiliasi nasional dan semangat persatuan. Kepada elit itu, Megawati mengatakan bahwa ia mengangkat SBY sebagai Menkopolhukam bukan karena menantu Sarwo Edhie, melainkan karena dia adalah TNI, yang dalam TNI itu ada “Indonesia-“nya, sehingga tidak melihat ia menantu siapa.

“Kapan bangsa Indonesia ini maju kalau hanya melihat masa lalu? Mari kita melihat ke depan. Karena itulah menghujat Pak Harto pun saya larang. Saya tidak ingin bangsa Indonesia punya sejarah kelam, memuja Presiden ketika berkuasa, dan menghujatnya ketika tidak berkuasa. Begitu kata Ibu Megawati penuh sikap kenegarawanan sebagaimana disampaikan Prof. Cornelis kepada saya,” ungkap Hasto.

Pada akhirnya, lanjut Hasto, apa yang disampaikan Pak Marzuki Ali itu bagian dari dialektika bagi kebenaran sejarah itu. Dan pada akhirnya pula, sebagaimana dalam bahasa Sansekerrta, satyameva jayate: Artinya, hanya Kebenaran Yang Berjaya.

“Kebijaksanaan dari bahsa Sanksekerta ini mungkin sama dengan kebijaksanaan masyarakat Indonesia yang selalu percaya kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan pernyataan seperti 'Tangan Tuhan Bekerja' bahkan lewat cara yang kadang tak disangka manusia itu sendiri,” demikian Hasto.

Hasto pun menambahkan bahwa dengan pernyataan Marzuki itu, akhirnya ia menjadi paham, mengapa Blok Cepu yang merupakan wilayah kerja Pertamina, paska pilpres 2004, lalu diberikan kepada Exxon Mobil.

“Nah kalau terhadap hal ini, rakyat dan bangsa Indonesia yang kecolongan.”

You may also like