GWF Hegel/Net
GENIAL.ID. Bab pertama buku the Phenomenology of Spirit diberi judul "Kesadaran." Bab ini terdiri dari beberapa sub-bab yang masing-masing berbicara tentang: kepastian-Indrawi, persepsi, dan pemahaman. Dilihat dari ulasannya atas kesadaran dengan bermula dari pembahasan tentang kepastian-indrawi, Hegel tampaknya ingin memulai penjelasan mengenai perkembangan kesadaran dari momen yang paling awal dan sederhana.

Secara sekilas, kita cenderung akan mengganggap bahwa pengetahuan yang kita peroleh dari pengetahuan indrawi adalah sangat kaya dan penuh, karena kita diberikan segenap dunia tanpa seleksi, tanpa saringan apapun. Pada saat kita membuka seluruh indra-indra kita kepada dunia, kita tampaknya diberikan kesempatan untuk berjumpa dengan dunia secara apa adanya, jauh sebelum diperantarai oleh perangkat-perangkat yang ada pada pikiran kita sendiri.

Menurut Hegel, pengetahuan indrawi adalah suatu jenis pengetahuan yang terbebas dari segala bentuk konseptualisasi. Pada saat pengetahuan indrawi itu telah disentuh oleh proses konseptualisasi, atau kegiatan berpikir lainnya, maka pengetahuan tersebut sudah bukan pengetahuan indrawi lagi. Dalam istilah lain, pengetahuan indrawi adalah pengetahuan langsung tanpa perantara.

Persoalannya kemudian adalah apakah betul kita memperoleh informasi yang sedemikian kaya dan penuh dari pengetahuan indrawi? Apakah benar pengetahuan yang diperoleh secara langsung dalam kegiatan mengetahui secara indrawi adalah pengetahuan yang paling bisa diandalkan? Jawaban Hegel: tidak. Bagi Hegel, pengetahuan kita pada tahap indrawi adalah pengetahuan yang paling miskin. Ia nyaris tidak memberikan informasi apa-apa.

Bagi Hegel, pengetahuan mulai ketika filsafat memecahkan pengalaman hidup sehari-hari. Analisis terhadap pengalaman hidup sehari-hari ini merupakan titik-tolak bagi upaya pencarian untuk sampai kepada kebenaran. Adapun obyek dari jenis pengalaman ini adalah apa yang datang kepada panca-indra kita. Pengalaman ini disebut sebagai pengetahuan-indrawi atau kepastian-indrawi.

Kita dikatakan telah sadar, entah itu bangun dari tidur atau tersadar kembali setelah jatuh pingsan, ketika kita bisa terhubung dengan dunia luar melalui indra-indra kita. Pada saat terbangun atau tersadar, di atas ranjang, mata kita bisa melihat langit-langit kamar, telinga kita bisa mendengar detak suara jam yang tertempel di dinding, serta tubuh kita juga merasakan empuknya kasur dan bantal tempat kita terbaring.

Tentu saja, pada saat mengamati langit-langit kamar, suara jam dinding, serta kasur dan bantal, kita bisa mengerti itu semua karena kita sebelumnya sudah mengetahui benda-benda tersebut. Sebelumnya, kita sudah tahu bahwa langit-langit kamar di dalam rumah itu berbeda dari langit sesungguhnya yang ada di luar rumah. Kita juga sudah tahu jam dinding dengan suaranya yang khas. Kita juga sudah tahu sebenarnya apa itu kasur dan apa itu bantal.

Dalam hal ini, kegiatan mengetahui yang kita alami sehari-hari sebetulnya tidak murni berupa  pengalaman indrawi, melainkan pengalaman indrawi plus konsep-konsep yang telah ada dalam pikiran kita. Karenanya, sebagaimana telah dikemukakan oleh Kant, pengetahuan itu senantiasa merupakan perpaduan antara unsur-unsur indrawi (apa yang datang kepada panca-indra kita) dan kategori-kategori yang ada dalam pikiran kita.

Pertanyaannya adalah bagaimana sebetulnya kegiatan mengetahui pada tahap yang sepenuhnya indrawi yang belum tercampur oleh pelibatan konsep-konsep yang ada pada pikiran kita? Sebab, jika sudah melibatkan konsep-konsep, kegiatan mengetahui tersebut tidak lagi disebut sebagai mengetahui secara indrawi melainkan sudah merupakan kegiatan mengetahui yang lebih tinggi, yaitu: mempersepsi atau memahami.

Menurut Hegel, pengetahuan-indrawi atau kepastian-indrawi diperoleh pada saat subyek berhubungan dengan obyek secara langsung.

Dalam hal ini, subyek (yang mengetahui) dan obyek (yang diketahui) adalah sesuatu yang ada "di sini" dan "kini". Jadi, subyek-obyek dalam kegiatan mengetahui pada tahap indrawi adalah "ini" yang ada "di sini" pada saat "kini." Sebagai contoh, saya disebut sedang mengalami suatu obyek secara indrawi pada saat, saya (ya, saya yang ini) sedang melihat pohon rambutan (yang ini) di tempat ini (di sini) pada saat ini (kini).

Karenanya, ketika saya meninggalkan pohon rambutan yang ada di depan rumah saya, lalu masuk ke dalam rumah, kemudian mengingat-ingat kembali pohon rambutan yang tadi, itu bukan kegiatan mengetahui secara indrawi. Mengingat-ingat apa yang telah diketahui pada masa lalu bukan kegiatan mengetahui secara indrawi. Sebab, dalam kegiatan mengingat itu, subyek tidak berhubungan secara langsung dengan obyek.  Intinya, ciri utama dari kegiatan mengetahui secara indrawi adalah dilakukan secara langsung, kini dan di sini.

Lantas, apa yang bisa dicapai dalam kegiatan mengetahui pada tahap indrawi secara langsung tersebut? Untuk mempermudah penjelasan, ada baiknya kita membayangkan bayi kecil yang baru beberapa waktu sebelumnya terlahir ke dunia. Ia belum pernah diajarkan apapun oleh orang tuanya. Ia belum mengerti  konsep-konsep yang ada di dalam pikirannya. Apa yang ia punya saat itu adalah kesadaran dan dunia di sekitarnya. Kesadarannya dan dunia sekitarnya dihubungkan oleh indera-indra (panca-indra) yang dimilikinya.

Apa yang muncul dalam kesadaran anak bayi itu? Anak itu belum bisa membedakan secara jelas antara satu obyek dan obyek lainnya. Ia juga tidak bisa mengerti secara jelas tentang konsep waktu; ia belum bisa membedakan antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Ia juga belum mengerti secara jelas tentang konsep ruang; ia belum bisa membedakan posisi di sebelah kiri atau sebelah kanan, atas atau bawah. Bahkan, ia sendiri belum bisa mengetahui dengan jelas siapa sebetulnya dirinya.

Dalam kondisi seperti itu, satu hal pasti yang bisa diketahui oleh anak bayi itu adalah ada atau keberadaan (wujud, being). Ia belum bisa mengetahui secara khusus apa saja yang ada di sekitarnya serta jenis-jenisnya. Tentu, pengertian tentang ada atau keberadaan di sini bukan sebagaimana dipahami oleh para faylasuf dengan teori-teori tentang ontologi. Sebab, teori ontologi pada dasarnya adalah teori yang dihasilkan dari proses berpikir dan abstraksi. Sementara itu, bagi anak bayi tersebut, ada atau keberadaan dipahami dalam kerangka kesadaran indrawinya: ia tahu bahwa ia ada dan hal-hal di sekitarnya juga ada, bukan tidak ada.

Pada titik ini, kesadaran anak bayi pada tahap indrawi itu hanya bisa mengetahui ada atau keberadaan sesuatu atau segala sesuatu secara umum atau secara universal dalam kerangka waktu saat ini (kini) dan tempat ini (di sini) yang juga bersifat universal. Ia belum bisa memahami sesuatu (subyek atau obyek) dalam kategori-kategori waktu yang diciptakan kemudian seperti: dulu, nanti, minggu lalu, mingu ini, minggu depan, kemarin, hari ini, besok. Ia juga belum bisa memahaminya (subyek-obyek) dalam kategori-kategori ruang yang juga dirumuskan kemudian: di rumah, di jalan, di sekolah, di laut dan lain-lain.

Hegel tentu tidak berbicara tentang anak bayi, karenanya penggunaan kegiatan mengetahui yang dilakukan oleh anak bayi sebagai contoh bisa jadi tidak sepenuhnya tepat. Namun, apa yang ingin saya kemukakan di sini adalah bahwa kesadaran manusia yang paling sederhana adalah pengetahuan indrawi yang bersifat langsung tanpa perantaraan konsep-konsep dan kategori-kategori yang ada pada akal budi pada diri subyek. Pada tahap ini, kita hanya bisa mengetahui adanya keberadaan atau wujud secara umum.

Mengapa kita hanya bisa mengetahui wujud murni atau keberadaan dalam pengetahuan langsung yang bersifat indrawi? Sebab, dalam pengetahuan langsung yang bersifat indrawi, kita berada dalam aliran kesadaran terus menerus yang menghubungkan antara subyek dan obyek. Sekali saja aliran kesadaran itu terpotong oleh kegiatan pikiran kita untuk membandingkan obyek kesadaran itu dengan obyek lain yang ada di dalam memori kita, maka kita tidak sedang berada lagi dalam bentuk pengetahuan indrawi yang bersifat langsung.

Selain itu, upaya kita untuk memberikan nama kepada obyek yang sedang kita ketahui juga akan menghentikan aliran kesadaran dalam kegiatan mengetahui secara langsung tersebut. Sebab, dengan memberikan nama, kita sudah menghentikan kegiatan mengetahui secara langsung itu dan beralih menjadi kegiatan mengetahui secara tidak langsung, yaitu: mengetahui obyek melalui konsep, karena dengan memberikan nama pada obyek, berarti kita telah memasukkan obyek itu pada konsep-konsep.

Menurut Hegel, itulah yang bisa diketahui oleh kita pada tahap kesadaran yang disebut sebagai pengetahuan-indrawi atau kepastian-indrawi. Kita tidak bisa mengetahui apa-apa kecuali adanya keberadaan ini, sebagai lawan ketiadaan, pada saat ini dan di sini. Oleh karena itu, isi pengetahuan kita pada tahap indrawi ini sebetulnya sangat miskin. Kita nyaris tidak mengetahui apa-apa. Apa yang kita ketahui adalah keberadaan. Dalam istilah Hegel, isi dari pengetahuan-indrawi adalah wujud murni tanpa determinasi apapun.

Jika pengalaman indrawi langsung tidak menghasilkan informasi apapun tentang obyek kecuali wujud murni yang bersifat universal, bagaimana dengan posisi subyek di dalamnya? Apakah dalam kegiatan melihat pohon rambutan yang ada di depan rumah itu, saya bisa mengetahui secara pasti hal ihwal diri saya sebagai subyek? Jawaban Hegel: tidak juga.

Mengapa? Sebab, dalam aliran kesadaran yang terjadi terus-menerus dalam kegiatan mengetahui secara langsung yang bersifat indrawi, saya tidak bisa secara khusus memahami diri saya sendiri. Sekali saya memikirkan diri saya sebagai subyek dengan segala identitasnya, maka aliran kesadaran langsung itu menjadi berhenti. Pada saat perhatian saya tertuju pada diri saya sendiri, saya telah keluar dari kegiatan mengetahui secara langsung terhadap pohon rambutan yang ada di depan saya itu. Ketika saya memikirkan diri sendiri, saya telah melibatkan konsep tentang diri saya.

Dengan demikian, bagi Hegel, pengalaman indrawi, atau kegiatan mengetahui secara langsung yang bersifat indrawi, tidak bisa memberikan informasi yang jelas tentang obyek dan subyek. Karenanya, untuk sampai pada kebenaran, kesadaran harus melampaui atau "menegasi" pengetahuan indrawi untuk kemudian melangkah ke level yang lebih tinggi, yaitu: kesadaran perseptual.

Menurut Hegel, persepsi adalah kegiatan mengetahui atau kesadaran yang terjadi setelah kita "menegasi" kegiatan mengetahui pada tahap indrawi. Dalam persepsi, kegiatan subyek mengetahui obyek tidak lagi terjadi secara langsung, tapi melalui proses perantaraan abstraksi dan konseptualisasi. Apa yang kurang jelas pada pengetahuan indrawi menjadi lebih jelas pada persepsi.

Sampai sini, ulasan kita tentang kesadaran pada level kesadaran indrawi atau pengetahuan indrawi pada bab pertama buku the Phenomenology of Spirit sudah selesai. Untuk selanjutnya, kita akan mengulas pembicaraan Hegel mengenai persepsi atau kesadaran perseptual. Kemudian, setelah itu, kita akan mengulas tentang pemahaman. Demikian, pengetahuan-indrawi, persepsi dan pemahaman adalah tiga pokok pembahasan yang masuk ke dalam tema besar kesadaran pada bab pertama the Phenomenology of Spirit. [***]

Iqbal Hasanuddin

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)

You may also like