Sudarnoto A Hakim
GENIAL. Salah satu agenda penting Kongres Umat Islam Indonesia atau KUII yang ke VII 26-29 Februari yang akan datang adalah politik. Tidak dimaksudkan untuk meratapi berbagai masalah atau kekalahan,  jika mau menyebut itu,  akan tetapi KUII justru ingin menggali dan menyepakati gagasan tentang "strategi perjuangan" umat Islam Indonesia untuk Indonesia yang maju,  adil dan beradab. Niat ini sekaligus melukiskan beberapa spirit antara lain:

Pertama,  keyakinan kuat bahwa politik adalah salah satu bidang yang sangat penting dan harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Meskipun instrumental,  akan tetapi politik,  disamping ekonomi,  tetap diyakini sangat urgent diberi perhatian.

Kedua,  keinginan kuat di kalangan umat Islam untuk memenangkan kontestasi politik di setiap kali pemilu. Keinginan ini didasarkan kepada fakta demografis bahwa penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam.

Ketiga,  nasionalisme yang kuat umat Islam tidak saja untuk membela dan merawat bangsa dan NKRI,  akan tetapi untuk menjadikan Indonesia ke depan sebagai negara dan bangsa yang maju,  adil dan beradab.

Kemenangan Semantik dan Simbolik

Dalam kausa kata Islam dikenal al-Falah yang berarti menang,  kemenangan atau keberuntungan dan kebahagiaan.  Banyak ayat menyebut kata al-Falah dengan berbagai derivasinya. Misalnya saja kata Aflaha dalam potongan ayat qod aflahal mukminun.. " (surat al-Mukminun ayat 1), yang artinya "orang-orang yang beriman telah memperoleh kemenangan. " Di surat al-Hajj ayat 77  disebut kata tuflihun dari penghujung ayat la allakum tuflihun, yang artinya agar engkau semua memperloleh kemenangan. Kemudian,  derivasi lain dari al-Falah yang disebut dalam al-Qur'an ialah Muflihun (orang-orang yang menang,  beruntung dan bahagia). Ini antara lain disebut di penghujung ayat 5 surat al-Baqoroh ulaika humul muflihun, yang artinya mereka itulah orang-orang yang beruntung. Masih banyak lagi yang akan dijumpai dalam al-Qur'an dengan arti dan tafsirnya yang beragam tentang "kemenangan" ini.

Ada kata lain yang juga bermakna menang atau kemenangan ini yaitu al-Fauz. Ada tiga kata yang disebut dalam Qur'an yaitu al-Fauzul Mubin,  al-Fauzul Kabir,  al-Fauzul Adhim. Di penghujung ayat 16 Surat al-An'am disebut kata al-Fauzul Mubin, dzalikal fauzul mubin, yang artinya itulah kemenangan yang nyata. Kemudian,  di penghujung surat al-Buruj ayat 11 disebut kata al-Fauzul Kabir, dzalikal fauzul kabir, yang artinya, itulah kemenangan yang besar. Terakhir,  kata al-Fauzul Adhim tersebut dalam surat al-Nisa ayat 13, wa dzalikal fauzul adhim, yang artinya, itulah kemenangan yang besar.

Seruan untuk meraih kemenangan, secara semantik diungkapkan juga dalam Adzan,  hayya alal falah (ayo raih kemenangan) selama lima kali dalam satu hari dan kemudian diulang saat iqomat,  sebelum sholat berjamaah. Seruan kemenangan ini dilanjutkan dengan Sholat Jamaah yang secara simbolik menunjukkan bagaimana sebuah kepemimpinan ideal umat Islam dibangun,  dirawat dan diperkokoh.

Tafsir Transformatif

Kata al-Falah,  Adzan,  Iqomah, Jamaah di atas memang terminologi keislaman yang mengandung dimensi Aqidah dan Syariah,  bukan political vocabularies" atau kausa kata politik yang memiliki makna dan muatan politik.  Akan tetapi, istilah istilah itu sesungguhnya mengandung  sejumlah prinsip filosofikal yang sangat mungkin ditafsirkan dan ditransformasikan menjadi sebuah kesadaran politik yang bersifat kolegial dan mengikat:

1. Al-Falah,  al-Fauz: kemenangan, kesuksesan,  victory, glory, keberuntungan dan kebahagiaan adalah merupakan harapan (hopes) sekaligus cita-cita untuk membangun sebuah model atau tatanan kehidupan ideal yang secara politik harus diperjuangkan. Spirit menjadi pemenang sangat penting untuk terus digaungkan, dimilki setiap individu sekaligus menjadi kesadaran kolektif.  

2. Adzan dan Iqomah: seruan,  ajakan, persuasi, literasi politik,  kampanye yang dilakukan secara terus menerus kepada setiap individu agar tegak berdiri dengan penuh keyakinan, percaya diri dan optimis  berjuang bersama-sama meraih kemenangan. Seruan berjuang untuk kemenangan politik adalah sebuah keniscayaan personal dan kolegial yang harus dilakukan dengan penuh dedikasi,  loyalitas dan tanggung jawab.

3. Jamaah: sebuah masyarakat ideal di bawah kepemimpinan yang terpercaya (trustworthy leadership) dan efektif. Ada prinsip-prinsip kebersamaan dan kohesivitas,  saling percaya, saling menjaga dan bahu membahu,  ketaatan dan loyalitas kepada pimpinan (Imam) dan hukum, bersama-sama menuju masa depan. Selain itu, Imam atau pemimpin adalah seorang yang terpercaya karena kekuatan moral dan kepribadiannya,  kapabel, bisa menggerakkan dan diikuti atau diteladani,  siap untuk diberi masukan bahkan dikoreksi dan memahami kebutuhan Jamaahnya. Preseden historis dari kepemimpinan politik umat Islam yang ideal tentu saja Era Rasul Muhammad di Madinah yang telah berhasil mentransformasi  "Yathrib" menjadi "Madinah Munawwaroh."

4. Kepemimpinan umat Islam yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip di atas tetaplah merupakan masyarakat yang secara transendental berkeyakinan penuh kepada Tauhid atau, kalau dalam konteks bangsa Indonesia,  masyarakat politik yang  berKetuhanan Yang Maha Esa.  Jadi, konsep  al-Falah,  Adzan,  Iqomah dan Jamaah haruslah ditafsirkan secara transformatif menjadi gerakan dan kebangkitan politik umat Islam secara nyata.

Realitas Historis

Realitas demografis bahwa muslim adalah penduduk Indonesia yang terbesar,  tidaklah tergambarkan dan terbuktikan secara politik. Partai-partai Islam,  dalam setiap kali Pemilu tidak pernah memperoleh dukungan terbesar. Satu kali tak lama setelah kemerdekaan, Partai Masyumi berhasil tampil sebagai partai Islam besar dan berpengaruh antara lain karena memberlakukan sistim keanggautaan ganda yaitu "dual membership." Akan tetapi,  pertentangan internal telah memperlemah Masyumi.  Persatuan politik Islam tak berlangsung lama karena SI keluar dari Masyumi dan kemudian disusul NU tahun 1952. Kepemimpiman politik Islam tak berhasil dikonsolidasi bahkan sejak masa formatifnya.

Marjinalisasi parpol Islam semakin memperloleh bentuknya yang lebih sempurna antara lain sejak pemerintah Orba melansir restrukturisasi sistim politik seiring dengan sekularisasi atau deidologisasi politik. Ini juga terkait erat  dengan program Pembangunan yang harus segera dilakukan. Jadi,  ada paralelisme antara deideologisasi (deIslamisasi,  sekukarisasi)  politik dengan modernisasi/Pembangunan. Bahkan, tak berlebihan untuk dikatakan bahwa Pembangunan justru telah menjadi sebuah ideologi baru menggantikan semua ideologi yang ada kecuali Pancasila.

Jika dicermati, model modernisasi Indonesia sebetulnya lebih banyak mengadopsi kapitalisme Barat sekular dan cenderung liberal. Negara berperan besar memberikan ruang jembar bagi pemilik modal terutama investor asing untuk membangun atau mengatur ekonomi dan bahkan negara. State led economy tak terhindarkan dengan resiko pemain utama ekonomi Indonesia adalah mereka yang memilki modal besar atau mereka yang memiliki kedekatan atau patronase dengan penguasa. Sangat dimengerti,  jika politik dimenangkan oleh mereka yang memiliki modal besar atau yang berpatronase dengan penguasa dan pemodal besar. Sementara kekuatan politik Islam atau politisi manapun yang tidak didukung oleh "kekuatan uang" sangat tipis harapan memenangkan kontestasi politik.

Money politics sudah menjadi sangat lumrah hingga saat ini sebagai budaya politik karena sudah begitu mahalnya political cost Indonesia. Tidak mengherankan jika oligarki dan ancaman munculnya "kleptokrasi" menjadi semakin terang benderang, nyaris sulit dihentikan. Di era di mana sistim politik oligarkis menguat,  pemilik modal berkuasa,  ongkos politik sangat mahal,  korupsi meraja lela, dan ideologi tak lagi dianggap penting,  kekuatan partai politik Islam dan politisi muslim yang kuat, beridealisme dan bermartabatpun semakin tak nampak. Tentu ini ironi di sebuah negeri muslim terbesar di dunia.

Jadi,  politik Islam tak mampu menentukan arah kiblat politik di Indonesia karena gagal memenangkan kontestasi.  Politik Islam dan umat Islam secara umum gagal menjawab seruan "Adzan kemenangan" untuk membentuk kepemimpinan "Jamaah politik" yang terkonsolidasi sedemikian rupa. Faktornya,  tidak tunggal ada faktor "struktur negara dan kekuasaan" yang memang dibangun untuk mengalahkan secara sistemiik kekuatan  non-negara. Disamping itu,  ada juga faktor yang sifatnya sangat internal yaitu "budaya politik umat" yang memang tidak mendukung bagi terciptanya persatuan politik umat.

Ikhtitam

Masih banyak masalah umat di bidang politik yang bisa diinventarisasi. Tapi itupun,  hemat penulis sudah lebih dari cukup. Yang sungguh sangat penting justru adalah membangun kesadaran untuk bangun atau bangkit karena seruan "Adzan dan Iqomah" kembali diserukan untuk kesekian kalinya  menata "shof politik" secara lebih rapi terkonsolidasi. Ini penting,  agar  "Jamaah" memiliki kemampuan melaksanakan tugas perjuangan atau ijtihad politik dengan cara-cara yang "Khusyu'" di bawah kepemimpinan politik "Imam" yang kredibel, trusthworthy,  dan "Fasih" setiap saat melakukan komunikasi publik,  memberikan political literacy,  menjelaskan sekaligus mengarahkan serta mewujudkan cita-cita ke depan umat untuk Indonesia yang maju,  adil dan beradab.

MUI melalui KUII ke VII saat ini menapaki jalan dan rencana yang tepat dan bersejarah untuk merumuskan gagasan strategi perjuangan umat Islam Indonesia antara lain dalam bidang politik. [***]

 

Sudarnoto Abdul Hakim

Wakil Sekretaris SC KUII VII,  Associate Professor FAH UIN jakarta, Ketua Dewan Pakar Fokal IMM.

 

       

 

 

You may also like