Genial - Banyak yang salah sangka, menganggap mie instan sulit ditemukan dan tak selezat di kampung halaman bagi diaspora seperti kami. Di linimasa sosmed saya, beberapa kali lewat postingan mie instan khas Indonesia, yang dimasak sedemikian rupa, disajikan dengan berbagai bahan pelengkap dan aneka pose, dengan maksud "ngabibita" (bikin ngiler) para perantau benua biru seperti saya.

"Yang diaspora, jangan ngiler yaaa..." bunyi caption foto dan video aneka mie instan di tanah air itu.

Entahlah dengan di kota lain, tapi di kota Portsmouth, UK, tempat saya bermukim, rasa kehilangan akan mie instan khas tanah air itu nyaris tak ada sama sekali. 

Indomie berbagai varian rasa bertebaran di toko-toko Asian Mart, sampai yang rasa selera nusantaranya juga tersedia. Yang mengejutkan, Supermie rasa kaldu ayam, varian rasa mie instan yang oldies itu, yang semasa saya TK kerap jadi menu sarapan pagi, sempat hadir juga di Asian Mart. Wah, sampai rumah langsung saya masak dengan pelengkap dadar telur. Dibubuhi sambal matah buatan sendiri, jadilah sajian Mie kuah pedas a la Upnormal Cafe, kafe tempat saya begadang jikalau lembur kerja di Bandung.

Masih banyak lagi varian rasa dan varian merk mie instan lainnya, dari buatan lokal Inggris, Jepang, Korea, dan Singapura, membanjiri toko-toko Asia dan bahkan supermarket terkemuka di kota Portsmouth ini. 

Sang pelopor Mie Instan, Nissin, ikut meramaikan persaingan Mie Instan di pasar UK. Samyang dari Korea, yang dikenal dengan rasa pedasnya yang na'udzubillah, makin memanaskan suasana persaingan. Tak hanya menurunkan rasa Hot Spicy level tertinggi, Samyang juga ikut menurunkan varian Ramen dan Sup-nya, untuk menarik perhatian pecinta mie instan di UK.

Mie instan yang menarik perhatian saya, selain merk-merk di atas adalah Koka, sebuah merk mie kemasan yang eksis sejak tahun 1986 di Singapura. Dibandingkan dengan Indomie, varian rasanya yang kerap tersedia di toko Asia, mini mart atau toserba, tampaknya jauh lebih sedikit. Hanya rasa Tom Yam, Goreng Masala, dan Udang Goreng yang kerap hadir di etalase. Tapi dengan Mie Kuah rasa Goreng Udangnya, Koka ini cukup menggugah selera makan saya. Kuahnya pun dari air kuah rebusan dada ayam, yang kemudian saya jadikan pelengkap hidangan pada malam-malam dingin peralihan summer menuju winter.

Belum habis semua merk Mie Instan dan varian rasanya, kini hadir lagi Ko Lee, merk mie instan baru dengan tiga varian rasa. Hot Spicy, Chicken Special dan Chow Mein. Chow Mein ini olahan Mie yang merupakan signature Chinese perantauan, terutama yang berasal dari Hongkong, Taiwan atau Singapura. 

Rasa Chow Mein ini menjadi pembeda Ko Lee dengan para seniornya, yang tidak memproduksi varian rasa tersebut. Hanya saja, setelah mencicipinya, masih enak Chow Mein olahan sendiri, atau olahan anak saya yang kaya akan Seafood, Sayuran dan Bakso Sapi. Menurut saya, Chow Mein ini memang tidak cocok di-mieinstan-kan. Dia lebih cocok disajikan sesuai khittahnya yang natural, panas-panas, seperti Ifu Mie atau Mie Tek Tek warung pinggir jalan di Jakarta atau Bandung.

Secara keseluruhan, yang saya rasakan sendiri dan yang saya tanyakan ke rekan-rekan British dan foreigner lainnya, Indomie tetaplah mie instan terbaik dari sisi rasa, volume dan harga. Suami-suami para warga negara Indonesia yang asli british, suka lupa diri jika disuguhi Indomie Goreng plus telur mata sapi dan bacon. 

Saya sendiri pernah memasakkan ini waktu jadi support worker di rumah singgah difabel. Indomie goreng dimasak secara massal, disajikan beserta british cabbage, udang rebus, bacon, sosis ayam dan telur mata sapi. Untuk memperkaya rasa saya blender sendiri campuran bawang putih, bawang merah, kecap ikan, dan merica bubuknya. Habis makan dengan lahap, minum Pepsi bareng-bareng bersama para residen panti.

Dengan satu momen itu saja, langsung saya mendapatkan julukan "Noodle Master" dari pengunjung rumah singgah itu. Seinstan itukah? 

Tentu saja tidak. Saya punya tahapan penyajian mie yang tidak seinstan sebagaimana petunjuk pada bungkusnya. Agar mie instan yang kita masak sehat, saya tidak menggunakan air rebusan mie dalam penyajian. 

Mengikuti anjuran Lisa Young, seorang ahli gizi peneliti makanan kemasan dari New York University, US, saya juga memperbanyak sayur mayur juga tomat ke dalam sajian mie tersebut. Dan yang penting, jangan tiap hari juga makan mie instan. Kandungan karbohidrat, lemak dan garamnya yang tinggi, tidak baik untuk kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering. 

Jadi kapan baiknya mengonsumsi mie instan? Paling recommended yaitu saat tengah bulan.  Tepatnya tatkala dompet menipis, sementara kebutuhan lain masih berdesakan menuntut dipenuhi, sementara lidah tetap menuntut dipuaskan, sekadar oleh rasa gurih walau sesaat.*

*Abang Eddy A

Penulis pegiat Tajdid Institute. Bermukim di UK.

You may also like