Menteri Agama Fachrul Razi/Net
GENIAL. Sungguh di luar perkiraan masyarakat santri sebelumnya bahwa Presiden RI terpilih Jokowi sudah hampir dapat dipastikan akan memilih Menteri Agama dari background santri baik yang berasal dari partai politik atau dari luar partai politik.

Bila dari partai politik bisa dimungkinkan dari seputaran dua partai yang sudah sangat melekat dengan gerakan santri saat ini.

Pertama, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang sudah satu dasawarsa mengawal Kementerian Agama karena kadernya menjadi Menteri Agama yaitu Surya Darma Ali dan Lukman Hakim Saefuddin. Tentu selama sepuluh tahun ini banyak kebijakan dan keberhasilan yang telah di torehkan dalam kertas putih perjuangan partai berlambang kakbah ini dalam hal memperjuangakan kepentingan masyarakat santri seperti, ditetapkannya tanggal 20 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Semua ini tentu sebagai wujud perhatian luar biasa patai ini dalam mendekatkan diri ke lingkungan masyarakat santri.

Atau kedua, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai yang memang langsung lahir dari rahim NU ini benar-benar sangat dekat di hati santri sampai-sampai Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa ini bergelar sebagai Panglima Santri.

Adapun PKS dan PAN yang juga irisan massa pemilihnya sebahagian dari santri sepertinya jauh panggang dari api untuk mendapatkan kursi menteri agama. Hal ini mengingat santri di dua partai ini bukanlah dari pesantren-pesantren tradisional atau Salafi yang lebih dikenal dengan istilah pesantren kitab kuning tetapi lebih kepada pesantren moderen yang santrinya hampir tidak mengenal istilah kitab kuning.

Bila dipersefektifkan lebih kepada afiliasi gerakan maka santri yang berada di PPP dan PKB kecenderungannya bergerak di Ormas NU dan adapun santri PAN dan PKS lebih dominan ada di ormas Muhammadiyah. Dua gelombang massa keormasan inilah yang selama Republik ini mempunyai kementerian agama bergantian menjadi Menteri Agama. Dan NU sebagai ormas terbesar bahwa kadernya lebih sering mendapat kerpercayaan untuk menduduki jabatan Menteri agama terutama dua dasawarsa terakhir.

Penantian dua ormas besar ini akan siapa bakal dipilih Presiden sebagai Menteri Agama ternyata di luar ekspektasi keduanya. Jokowi memecah trasdisi penantian NU dan tidak pula mengalirkannya ke Muhammadiyah tetapi justru Menteri Agama diturunkan dari purnawirawan TNI seorang Jenderal kelahiran Aceh. Sudah barang tentu gemuruh petir, angin statmen mengiringi kemunculan tokoh kontroversial ini. Apalagi kemunculan Menag disentuh dengan pernyataan tugas dari jokowi yang terkait dengan radikalisme, membangun ekonomi umat dan industri halal.

Sepertinya Jokowi memahami betul suasana kebatinan pada tiap-tiap ormas ini sehingga beliau mengambil langkah tengah dengan menunjuk Jenderal sebagai Menteri Agama di Kabinet Indonesia Maju saat ini. Mengingat agama adalah perekat nilai-nilai kebangsaan di tengah-tengah masyarakat yang berbeda suku bangsa dan agama ini, agar lebih mengedepankan toleransi terhadap perbedaan kemajemukan sebagai ciri khas bangsa ini.

Karena itu pula mungkin di khutbah jumat pertamanya di istiqlal tanggal 1 November Menteri Agama lebih kepada menekankan toleransi ditengah-tengah perbedaan bangsa ini sambil mengingatkan kembali cita-cita sumpah pemuda sebagai perekat kesatuan.

Facrul Razi bukanlah satu-satunya Menag yang berasal dari militer di tubuh kementerian agama, ada alamsyah Ratu perwiranegara dalam Kabinet pembangunan III tahun 1978 sampai dengan 1983. Pada saat menjabat selalu rutin mengunjungi sekolah keagamaan dan menumbuhkan serta mengatur memajukan politik agama.

Ada pula Tarmizi Taher menteri agama pada kabinet VI tahun 1993 sampai dengan 1998. Sangat bersemangat menciptakan kader sebagai manager profesional, intelektual dan pemimpin umat dengan selalu mengirimkan tenaga di IAIN dan kemenag belajar ke dunia barat.

Rekam jejak dua jenderal sebelumnya memberi pengaruh signifikan dalam keberlanjutan kemenag sebagai rumah besar semua agama dan semua ormas tentu dengan kamar keberagaman yang ada tanpa memaksakan satu kelompok mendominasi kelompok lainya. Umat Islam menjadi umatan wasatha umat tengah yang adil dan mampu membuka diri terhadap hal-hal yang berbeda, baik itu berbeda agama apalagi sekedar berbeda ormas. “Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) Kamu. QS: 2/143.

Kata Syuhada dalam ayat di atas mempunyai maksud bahwa manusia sebagai pencipta peradaban tengah yang tidak terlalu kekiri dan tidak pula terlalu kekanan. Dimana peradaban ini dapat memelihara lima hal:

Pertama, menjaga agama dari kesesatan dalam bingkai toleransi QS: 23.71.

Kedua, menjaga pelestarian diri dengan mengedepankan hak asasi manusia QS: 6.151.

Ketiga, menjaga keselamatan akal pikiran dengan meningkatkan dan memudahkan akses ilmu pengetahuan
dan pendidikan sebagai penajaman nalar intelektual bangsa dan menjauhkan akal tercemar narkoba
QS: 5.90.

Keempat, menjaga keturunan dengan mengedapankan nilai-nilai moral dalam berinteraksi sosial, menjauhkan hubungan seks bebas QS: 4.3.

Terakhir kelima, menjaga stabilitas ekonomi umat dengan selalu memperhatikan kehalalannya dan memotivasi umat untuk giat mencari harta sebagai penopang kehidupan karena untuk dapat menyempurnakan rukun islam pun perlu istithoah harta. QS: 4.5.

Lima tujuan pokok syariah agama di atas mungkin menjadi pemahaman Presiden Jokowi untuk dapat diwujudkan secara membumi oleh nahkoda baru kementerian agama yang baru saja dilantik yaitu Jenderal Fachrul Razi. [***]

Zulkarnain Nasution
Alumni al-Azhar University Cairo Mesir

You may also like