Brown sugar boba: susu, teh dan boba (Foto : Net)
Genial - Demam minuman boba masih melanda masyarakat di Indonesia. Buktinya, hingga kini, masih banyak orang rela mengantri demi mencicip minuman hits ini.

Fenomena ini pun dilihat sebagai peluang bisnis oleh sebagian orang.

Karena itu, banyak gerai minuman boba bermunculan, mulai dari skala kecil hingga besar.
Nah, sebelum masuk ke bisnis ini, pakar teh Ratna Somantri membagikan tips membuka usaha minuman boba dengan modal minimalis, namun dapat mendapat laba besar.

Pertama, kamu harus tahu dulu bahan membuat boba. 

Menurut Ratna, pembuatan boba sangat simpel dan tak harus bermodal mesin. "Untuk peralatannya cuma butuh ketel, saringan, panci untuk masak bobanya, dan wadah untuk menyimpan tehnya," ujar Ratna di SIAL Interfood 2019.

Sementara untuk bahannya adalah tapioka, air dan black tea sebagai pewarna sekaligus rasa teh yang kuat.
Menurut Ratna, black tea dianggap cocok sebagai boba, karena jika ditambahkan susu, perlu butuh teh dengan aroma dan body yang kuat. "Kalau enggak, nanti rasanya encer," katanya.

Setelah selesai membuat boba, kini giliran membuat boba milk tea. Kamu bisa memakai lagi  black tea yang sudah disaring sebagai perasa, lalu ditambahkan susu, gula, sirup dan boba yang sudah dibikin.

Hal lain yang kamu harus perhatikan saat membuka usaha minuman boba adalah tempat. Jika memiliki budget minim, maka pilih tempat dengan harga miring.

"Kalau cuma booth di sekolah, untuk booth, peralatan dan bahan bakunya, mulai di bawah Rp 20 juta juga sudah dapet. Itu bisa untuk selama satu bulan ya," kata Ratna.

Tapi, kamu juga bisa memilih untuk membuka usaha rumahan minuman boba milk tea.

Menurut Ratna, modal yang dikeluarkan di bulan pertama cukup Rp 500.000.  "Enggak usah bikin (atau sewa) booth, enggak usah beli colder kalau udah punya kulkas. (Modalnya) tidak sampai Rp 500.000," kata Ratna. "Kan pasti sudah punya panci, sudah punya saringan. Kita tinggal beli teh dan bahan baku aja, tapioka, susu lalu beli botol-botolnya," lanjutnya.

Nah, jika berbicara keuntungan menjual minuman boba milk tea, menurut Ratna, bisa mendapatkan berlipat. "Kita bisa jual harga per botol, misalnya Rp 15.000, dengan untung Rp 10.000 per botol dengan bahan-bahan yang murah (tadi).

Berarti, kalau bisa jual 30 botol (per hari), berarti (dapat untung) Rp 300.000 per hari. "Kalau satu bulan, (bisa dapat untung) Rp 9 juta, hanya dengan modal dengan beberapa ratus ribu doang," lanjutnya.

Ratna menyarankan, selain via offline, penjualan minuman boba juga bisa dilakukan via online untuk meningkatkan pembeli dan jangkauan.

Namun Ratna mengingatkan untuk memerhatikan higienitas peralatan dan bahan, sehingga dapat lebih dipercaya oleh pelanggan.
 

Franchise Bisnis Minuman Boba

Namun, jika memiliki modal besar, kamu bisa melirik franchise minuman boba yang sudah punya nama, salah satunya  Fat Straw yang sudah buka sejak 2013.

Pemilik Fat Straw, Melyani, mengungkapkan, bisnis minuman boba masih sangat menjanjikan. "Peminatnya masih banyak," kata Melyani saat di SIAL Interfood 2019.

Melihat potensi itu, Melyani pun membuka kesempatan bagi orang yang ingin menjalin kerjasama dan membuka Fat Straw di tempat lain.

Harga yang ditawarkan disebut terjangkau, Rp 350 juta.

Dengan harga tersebut, maka mendapatkan izin selama tiga tahun, termasuk peralatan, desain, bahan, dekorasi, furnish outlet dan pelatihan karyawan. "Kecuali tempat yang disediakan mereka sendiri," katanya.

Sementara itu, soal potensi keuntungan, Melyani mengaku cukup menjanjikan. Ia menggambarkan, rata-rata penjualan per hari Fat Straw paling rendah adalah 135 cup, kemudian sedang 200 cup dan tinggi 300 cup.

"Nah, untuk estimasi total penjualan per bulan yang paling tinggi ada di Rp 252 juta, dan untuk yang sedang Rp 168 juta, kalau rendah Rp 113 juta," kata Melyani.

"Kami enggak pernah ada di penjualan yang paling rendah," lanjutnya.

Sementara untuk profit kotor, penjualan tinggi mencapai Rp 158,7 juta; sedang Rp 105,8 juta; dan rendah Rp 71,442 juta.

Lalu, untuk profit bersih, setelah dikurangi HPP, sewa tempat, biaya listrik, gaji karyawan, dan lain-lain, maka penjualan paling tinggi sebulan mencapai Rp 111,1 juta; sedang Rp 62,4 juta; dan rendah Rp 30.772.

Melyani mengungkapkan, dengan keuntungan sebesar itu, maka diperkirakan bisa balik modal paling lambat 11 bulan dan paling cepat tiga bulan.

Hal yang perlu diperhatikan jika tertarik membuka Fat Straw, menurut Melyani, adalah strategi pemasaran dan penjualan. "Traffic bisa memengaruhi, tempatnya apakah di mal yang ramai.

Lalu sosial media itu juga penting, namun tida di seluruh kota. Beberapa kota sistem pemasarannya masih dengan brosur," katanya. (Mil)

You may also like