Istimewa
Genial. Hidup di kota besar seringkali menimbulkan tekanan dalam keseharian. Rutinitas yang mendesak seperti tenggat penyelesaian pekerjaan, kondisi jalan raya yang sibuk dan macet, berakumulasi dengan tuntutan peran dalam keluarga dan kebutuhan rumahtangga, kerap melahirkan rasa di bawah tekanan bagi beberapa individu.

Kondisi di bawah tekanan ini dikenal luas sebagai stress. British Heart Foundation dalam booklet Understanding Stress menjelaskan, jika diri merasa kewalahan atau berada di bawah tekanan menghadapi suatu masalah, artinya kita tengah berada dalam kondisi stress. Kita merasa waktu 24 jam sehari tak cukup untuk menuntaskan tugas kita baik dalam pekerjaan ataupun dalam rumahtangga. Kita merasa orang-orang disekitar kita menuntut terlalu banyak dari diri kita. Hingga kemudian, kita merasa hidup ini menjadi terlalu berat untuk dijalani. Saat semua perasaan itu terakumulasi dalam diri, artinya kita berada dalam kondisi stress yang serius.

Merasakan stress sesekali tentu saja perlu. Sebab stress juga merupakan indikator bahwa kita memiliki motivasi atau pendorong untuk menuntaskan tugas-tugas yang melekat dalam kewajiban kita sebagai seorang manusia. Ada kuantitas dan kualitas yang kita kejar dalam mencapai tujuan-tujuan hidup. Namun jika stress itu melahirkan perasaan tak nyaman dan kewalahan terus menerus, perilaku kita bisa mengarah pada kebiasaan-kebiasaan buruk, yang justru kontra-produktif dan bisa menimbulkan masalah serius bagi kesehatan jiwa dan raga.

Stress sendiri, menurut Christopher Allen, seorang pakar dan praktisi penyakit yang terkait dengan sistem sirkulasi tubuh dari organisasi HEART UK, Inggris, bukanlah penyebab langsung dari penyakit jantung atau penyakit-penyakit terkait sistem sirkulasi lainnya. Penyakit-penyakit tersebut muncul sebab kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita lakukan guna mereduksi perasaan tertekan (overwhelming/under pressure) seperti, makan berlebihan, merokok, minum minuman beralkohol atau minum minuman berkarbonasi terutama yang mengandung kadar gula tinggi. Kebiasaan-kebiasaan buruk itulah yang memicu resiko-resiko kesehatan tubuh seperti peningkatan kolesterol dalam darah, hipertensi dan diabetes tipe 2.

Tingginya kolesterol dalam darah disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kadar lemak tinggi. Kolesterol adalah substansi atau zat dalam tubuh kita, yang jika kadarnya berlebihan bisa menimbulkan penyumbatan pada dinding arteri (pembuluh darah). Blockade yang terjadi di dalam arteri sebab kolesterol tinggi berpotensi menimbulkan serangan jantung dan stroke, yang selain menyebabkan kematian juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada sebagian anggota tubuh.

Stress secara alamiah memang bisa meningkatkan tekanan darah. Untuk sesaat atau jangka pendek, hal ini tentu bukanlah sesuatu yang serius. Namun seringkali, untuk mereduksi stress ini, mereka yang terjangkit berusaha mengatasi atau mengurangi dampak stress dengan makan berlebihan dan mengonsumsi kuliner dengan kadar garam tinggi secara kontinyu. Ditambah dengan kurangnya aktivitas tubuh seperti sekadar berjalan kaki atau minimnya melakukan olahraga, yang timbul kemudian adalah hipertensi jangka panjang, yang menyebabkan kerusakan pada organ-organ penting seperti jantung, ginjal dan pembuluh darah. Kebiasaan buruk untuk mengatasi stress juga berkontribusi besar dalam penyakit diabetes tipe 2. Kebiasaan buruk yang menimbulkannya masih terkait dengan diet yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik.

Untuk melenyapkan kebiasaan-kebiasaan buruk dalam mengatasi stress sebagaimana dipaparkan diatas, tidak cukup hanya dengan berfokus pada perubahan kebiasaan buruk seputar pola makan, minum dan aktivitas fisik saja. Setidaknya, ada tiga hal yang harus diperbaharui atau diupayakan sekaligus. Pertama, gaya hidup. Kedua, pola pikir. Ketiga, dukungan.

Gaya hidup terkait dengan kebiasaan-kebiasaan seputar makan, minum dan aktivitas fisik. Jika kita merokok, tinggalkan kebiasaan itu. Jika kita senang mengonsumsi minuman dengan kadar alkohol atau gula tinggi, segera kurangi atau hindari sama sekali. Cobalah pola makan sehat yang tinggi protein, kaya buah dan sayur mayur, dibarengi dengan senantiasa menjaga tubuh terhidrasi dengan minum air yang cukup. Dalam hal aktivitas fisik, kata kuncinya adalah rutin berolahraga dan tidur yang cukup.

Pola pikir perlu juga diperbaharui untuk mengelola stress. Jangan khawatir untuk meminta pertolongan dari orang lain, fokus pada hal yang bisa ditanggulangi sesuai kemampuan diri, jangan segan untuk berhenti sejenak, rileks dan mengatakan tidak pada orang lain, jika dirasa diri tidak mampu. Bisa disimpulkan, untuk melepaskan diri dari ketertekanan adalah fokus pada hal-hal positif yang bermanfaat dan menyenangkan diri sendiri.

Dukungan juga perlu kita upayakan untuk mengatasi stress. Berbagilah dengan orang-orang dekat tentang perasaan kita. Jangan simpan perasaan kita sendiri. Tekuni sebuah hobi atau coba sesuatu yang baru yang dapat meningkatkan kepercayaan diri, juga merupakan bagian dari pengupayaan dukungan dalam rangka mengatasi stress. Jikalau stress benar-benar membuat kita merasa berada di titik nadir, jangan ragu untuk berbicara dengan dokter atau psikiater.

Melalui modifikasi gaya hidup, pola pikir positif dan pengupayaan dukungan, stress akan terkelola dengan baik, kita sehat secara lahir batin, hidup akan lebih bermanfaat, kewajiban-kewajiban kita dalam hidup akan tuntas tertunaikan. Dan pada akhirnya,yang penting, kita bisa hidup sebagai pribadi yang tenang, tenteram dan bahagia. *

*Penulis : Abang Eddy Adriansyah

Pegiat Tajdid Institute. Bekerja sebagai Health Care Assistant dan Support Worker di wilayah Hampshire, United Kingdom.

You may also like