Cut Nyak Dhien/Net
GENIAL.ID. Dunia mengenal Cut Nyak Dhien.  Ia merupakan anak bangsawan yang sangat cantik. Ia juga memahami ajaran agama Islam, selain pandai memasak.

Namun bukan karena itu nama Cut Nyak Dhien harum kemana-kemana. Ia terkenal karena perjuangan tulus membela rakyat dan tanah airnya.

Ia adalah seorang mujahidah atau pejuang perempuan dari tanah Aceh saat melawan Belanda. Bersama sang suami, Teuku Umar, ia bertempur habis-habisan fi sabilillah melawan penjajahan. Suami-istri ini menggunakan strategi perang gerilya sehingga Belanda kewalahan dan mengganti jenderal lapangan berkali-kali.

Hingga kahirnya Teuku Umar gugur, Cut Nyak Dhien tetap berjuang sendirian bersama pasukan kecilnya di pedalaman Meulaboh. Untuk kematian Teuku Umar, Cut Nyak Dhien marah pada besar pada anaknya yang menangis.

Kata-kata Cut Nyak Dhien begitu terkenal. Katanya, perempuan Aceh tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.

Namun perlawanan pada Belanda tak menemui ujung.  Cut Nyak Dhien semakin sepuh, dan pasukan semakin berkurang. Hal ini menjadi kesempatan Belanda untuk menyerangnya.

Cut Nyak Dhien pun ditangkap. Ia pun dibuang ke Tanah Pasundan atau Jawa Barat. Pada 6 November ia meninggal dunia di Sumedang. Pada tahun 1964, Presiden Soekarno memberi gelar Cut Nyak Dhhien sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. [pmu]

You may also like