Bharatayudha/Net
GENIAL.ID. Kamu pernah dengar istilah Ramalan Jayabhaya? Biasanya, yang suka mengaitkan kondisi Indonesia kontomporer dengan masa lalu, pasti pernah mendengar Ramalan Jayabaya.

Namun tulisan ini bukan soal ramalan.

Jayabhaya adalah Raja Kediri. Dia bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Panjang banget ya. hehe.

Jayabhaya memerintah Kediri sekitar tahun 1135 sampai tahun 1157. Di era kerajaannya, Kediri dinilai mengalami puncak keemasan.

Nah, Jayabhaya ini adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kediri. Bagi Jayabhaya, ia semacam Pandawa. Sementara Jenggala adalah Kurawa.

Jayabhaya pun memerintahkan untuk menulis kakawin Bharatayuddha. Tulisan yang kemudian menjadi salah satu karya Jawa Kuno itu selesai ditulis pada 6 November 1157.

Penulis kakawin ini ada dua orang. Pertama ditulis oleh Mpu Sedah, salah seorang penasihat Raja Jayabhaya. Namun Mpu Sedah tak bisa menuntaskan karya-nya sehingga dilanjutkan oleh  Mpu Panuluh.

Ada dua versi mengapa Mpu Sedah tak merampungkan karyanya. Versi pertama menyebutkan bahwa Mpu Sedah dihukum mati oleh Jayabhaya. Alasannya, ia dinilai berbuat kurang ajar kepada putri prabu Jayabhaya.

Versi kedua, Mpu Sedah tak sampai hati melanjutkan kisah sang Prabu Salya yang akan berangkat ke medan perang dalam kisah Bharatayuddha. Maka ia meminta Mpu Panuluh untuk melanjutkan tulisannya.

Versi kedua ini sendiri ada dalam bagian tulisan Bharatayuddha. Hal ini dituliskan oleh Mpu Panuluh. Mpu Panuluh sendiri merupakan saudara Mpu Sedah.[pmu]

You may also like