Penulis (kanan) saat berada di Kota Kashan/ Istimewa
 
GENIAL. Anak-anak muda dan aktivis muslim yang keren pasti tahu atau minimal pernah dengar Allamah Thabathaba'i. Nama lengkapnya Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i. Beliau adalah penulis tafsir al-Mizan. Kitab tafsirnya, banyak dikutip ulama belakangan, termasuk oleh mufassir Indonesia, Habib Quraisy Syihab, atau cendekiawan muslim Jalaluddin Rakhmat.
 
Kalau kita jalan-jalan ke Iran, kita bisa datang ke kediaman keluarga Thabathaba'i. Rumah ini dibangun pada tahun 1880 oleh arsitek kenamaan di Iran, Ustad Ali Maryam. Luas rumah keluarga ini sekitar 5 ribu persegi dengan 40 kamar atau ruangan, dan dengan 4 halaman rumah. Di rumah ini juga ada kebun dan tiga penangkap angin dengan ketinggian 40 meter.
 
Rumah keluarga Thabathaba'i ini berada di Kashan. Di Kashan ini juga ada rumah keluarga Boroujerdi. Tentu saja, Sobat aktivis tahu Ayatollah Seyyed Hossein Borujerdi. Salah satu ulama kenamaan dari Iran. Rumah keluarga Borujerdi juga dibuat oleh arsitek yang sama pada tahun 1857. Keluarga Borujerdi juga merupakan keluarga kaya. Rumahnya memiliki beberapa halaman dan balkon serta tiga penangkap angin dengan ketinggian 40 meter.
 
Selain ada dua rumah keluarga di atas, di Kashan juga ada  Rumah Abbasi, yang merupakan rumah tradisional Kashan yang megah dengan dekorasi dan arsitek yang luar biasa indah. Rumah ini sudah ada sejak abad 18. Memiliki luas 5 ribu meter persegi, bertingkat 5 termasuk ruangan bawah tanah. Rumah ini memiliki ruangan ruangan yang disesuaikan dengan empat musim di  Iran. Pemilik rumah ini bernama Abbasi, seorang pengusaha kaca.
 
Kemudian, di Kashan, ada Ameri House. Rumah dengan luas 9 ribu meter persegi ini adalah milik Agha (sebutan Bapak di Iran) Ameri. Agha Amari merupakan gubernur Kashan pada dinasti Zand. Rumah ini sendiri pernah diperbaiki pada abad 19 karena gempa bumi.

Eh Sobat, Betewe, dimana kota Kashan itu?
 
Sobat, kota Kashan merupakan kota di bagian utara provinsi Isfahan. Sekitar 94 km dari Qom, dan bila menggunakan bis, taksi atau kereta api bisa ditempuh sekitar satu jam.
 
Ongkos menuju Kashan tidak mahal bila dibandingkan dengan pemandangan dan arsitektur bersejarah yang akan kita temukan di kota tua yang dihuni sekitar 400 ribu orang ini.
 
Nama Kashan sendiri berasal dari Kasian, nama seorang penduduk asli. Jasad Kasian ditemukan di Tapeh Sialk, sebuah tempat bersejarah sejak 9.000 tahun yang lalu, yang kemudian diubah menjadi Kashian.
 
Ada lagi yang menyebutkan bahwa nama kota ini berasal dari kata Kashi.  Kashi artinya Ubin. Kota ini memang terkenal dengan produksi tembikar dan ubin berkualitas tinggi.
 
Dari kota Kashan ini, banyak tokoh yang berkontribusi untuk Iran dan bahkan dunia. Misalnya ada Jamshid Kashani atau terkenal dengan Jamshid al-Kashi, yang merupakan astronom dan matematikawan yang menemukan pecahan desimal. Ada juga Sohrab Sepehri, seorang pelukis dan penyair terkenal di dunia yang mengarang buku Hasht Kitab yang sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dunia seperti bahasa Inggris, Perancis, Arab, Italia, Swedia, India dan Rusia. Ada lagi Kamal-ol-Molk, yang merupakan pelukis terkenal Iran.
 
Namun dari ketiga nama di atas, hanya Sohrab Seperhri yang dimakamkan di Kashan. Sementara makam al Kashi berada di Uzbekistan dan makam Kamal-ol-Molk berada di Mashhad Iran.
 
Di Kashan, ada sebuah bukit yang terkenal dengan sebutan The Glory of Ancient Kashan. Nama tempat ini Tapeh Sialk, yang artinya Bukit Sutera. Bukit ini merupakan situs arkeologi kuno paling besar dan penting di Iran sebelum kebangkitan Kekaisaran Persia pada 550 SM. Pada tahun 1933 sampai 1937, situs ini pertema kali diteliti oleh para arkeolog yang dipimpin arkeolog Perancis Roman Ghirshman bersama isterinya Tania Ghirshman.
 
Bukit ini pun dinilai sebagai tempat pertama manusia hidup di Kashan. Jejak tengkoraknya masih ada. Di bukit ini pun masih bisa dilihat bekas-bekas tempat tinggal manusia pada waktu itu yang terbuat dari tanah liat dan tembikar. Juga peralatan dan kerajinan tangan tertua masih ada dan dilindungi disini.
 
Selain bukit, di Kashan juga ada Fin Garden yang merupakan taman yang sangat indah, tertua dan bersejarah. Luasnya mencapai 23 ribu meter persegi, dikelilingi oleh dinding tembok dan menara yang kokoh. Di dalamnya selain pohon-pohon besar rindang berdaun hijau yang umurnya sudah tidak muda lagi, juga ada ragam tanaman bunga.
 
Di taman ini juga ada kolam yang berisikan air nan jernih, yang dilengkapi dengan air mancur serta ikan-ikan hias yang berwarna-warni. Di tempat ini, selain menawarkan keindahan, ada juga komplek pemandian Amir Kabir, seorang Kanselir pada dinasti Qajar, yang dibunuh atas perintah Raja Nasiruddin Shah pada tahun 1852. Patung patung lilin mereka ditempatkan di dalam pemandian tersebut lengkap dengan cerita kronologis pembunuhan tersebut yang dituliskan di papan nama yang dipasang di depan masing masing patung lilin.
 
Taman Fin Kashan ini ditetapkan sebagai situs warisan dunia pada tanggal 18 Juli 2012.
 
Bukan bukit atau taman saja. Di Kashan juga ada kota bawah tanah di utara Kashan. Kota ini ditemukan secara tidak sengaja oleh masyarakat setempat ketika menggali parit untuk air limbah. Para Arkeolog kemudian meneliti kota ini yang diperkirakan telah ada sekitar 1.500 tahun yang lalu. Kota ini berada di kedalaman 3 sampai 18 meter. Memiliki jaringan labirin di tiga lantai terowongan, kamar, saluran udara, tangga, kanal, dan jebakan. Jaringan tersebut kemudian dianggap sebagai keajaiban dari arsitektur kuno. [***]
 
Sifa Sanjurio
Staf Pengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
 
 

You may also like